
"Bibi Jade, bagaimana keadaan bibi? Sudah membaik?" tanya Fiat sesampainya di panti sosial sambil meletakkan makanan ringan di meja.
"Sudah anak muda. Apa yang kamu bawa?" tanya Jade saat melihat Fiat membawa makanan ringan untuknya.
"Oh .. ini. Aku membawakan khanom buang untuk bibi Jade. Tadi aku ke pasar malam jalan-jalan, sekalian singgah. Bibi belum makan kan?" tanya Fiat.
"Bibi sudah makan tadi. Tapi karena nak Fiat sudah membawakan makanan ringan ini untuk bibi, ya bibi makan saja. Nak Fiat sudah makan?" tanya Jade.
"Sudah bi. Dimakan bi. Kalo sudah dingin gak enak lagi." tawar Fiat.
"Iya." ujar Jade yang langsung mengambil bungkusan itu dan memakannya.
"Enak kan?" tanya Fiat sambil menuangkan air untuk Jade.
"Hmmm .... enak sekali. Bibi jadi teringat waktu masih kecil, bibi dengan adik bibi selalu berebut memakan kue ini." kenang Jade.
"Oh. Kalo boleh aku tahu dimana adik bibi sekarang?" tanya Fiat.
"Dia sudah meninggal karena kecelakaan." jawab Jade.
"Ups. Maaf." jawab Fiat sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Gak pa-pa. Kamu tahu siapa yang mencelakainya?" tanya Jade sambil berbisik pada Fiat.
"Tidak bibi. Memangnya bibi tahu?" tanya Fiat sambil mendekat pada Jade.
"Tentu saja aku tahu. Kan yang mencelakainya aku sendiri. Karena dia sudah merebut pacarku yang tak lain adalah suaminya." jawab Jade sambil tertawa.
"Benarkah? Tapi kenapa bibi berbuat seperti itu? Apa bibi tidak takut dipenjara?" tanya Fiat setengah kaget.
"Tidak. Karena tidak ada yang tahu kalo bibi pelakunya. Dan bukan hanya dia saja yang sudah bibi celakai. Sudah banyak yang pernah bibi celakai dan rata-rata dari mereka suka membully bibi." jawab Jade dengan wajah sumringah.
"Siapa saja bi?" tanya Fiat dengan wajah penasaran.
"Hmmm ... coba bibi ingat-ingat dulu ya. Sepertinya Fatty, Richard, Leon dan terakhir adik bibi." jawab Jade.
"Bagaimana mereka meninggal?" tanya Fiat.
"Ada yang bibi membuat rem mobilnya blong dan ada juga yang bibi kasih minum racun arsenik." jawab Jade.
"Yang bibi kasih minum racun arsenik apakah Fatty dan Richard?" tanya Fiat dengan wajah menahan marah.
"Iya. Hebat bukan? Itulah hukuman bagi mereka yang sudah membully ku." bangga Jade.
"Dasar sakit jiwa." gumam Fiat.
"Ehem .. ehem. Selamat malam nyonya" sapa Manaow yang mendadak masuk.
__ADS_1
"Malam bos." jawab Fiat.
"Fiat, kamu sudah boleh pulang. Aku ada perlu sebentar dengan nyonya Jade." ujar Manaow.
"Baik bos. Bos harus berhati-hati dengan Jade. Dia sakit jiwa." bisik Fiat yang diangguki Manaow.
"Kamu bukannya perempuan cantik yang selamatkan aku bukan? Siapa namamu nak?" tanya Jade.
"Manaow.." jawab Manaow sambil duduk di depan Jade.
"Oh .. Manaow. Aku ingat ada seorang anak kecil yang namanya Manaow juga. Tapi aku tidak tahu apakah dia itu kamu atau bukan. Sepertinya mustahil kalo dia bisa hidup sampe sekarang." ujar Jade.
"Memangnya ada apa dengan dia?" tanya Manaow.
"Dia itu ginjalnya bermasalah sejak dilahirkan. Mungkin saja dia sudah mati." jawab Manaow.
"Benarkah? Bagaimana kalo seandainya ada orang baik yang memberikan ginjal untuknya?" tanya Manaow.
"Apakah ada orang sebaik itu?" tanya Manaow.
"Ten....."
"Manaow, sudah jam 11 malam. Sudah saatnya nyonya Jade beristirahat. Pulanglah. Bukannya besok kamu ada janji bertemu seseorang?" tanya Lucia sambil memberikan tanda untuk Manaow.
"Baiklah. Kalo begitu aku pulang dulu." pamit Manaow sambil berlalu pergi.
"Anak itu manis sekali. Siapa nama lengkapnya?" tanya Jade pada kepala panti.
"Manaow Melanie Akkineni" jawab Lucia yang membuat wajah Jade pucat pasi.
Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Manaow tidak konsentrasi dan memilih untuk menghentikan mobilnya di rumah sakit. Disana dia tidur di kursi panjang yang berada di depan ruang ICU sampai Ann yang sedang berjaga malam saat itu datang menghampirinya.
"Manaow, malam-malam begini kamu datang ada apa?" tanya Ann.
"Aku hanya tidak ingin pulang. Otakku terus memikirkan ibu." alasan Manaow.
"Sudah kukatakan kalo mae Cony untuk saat ini gak pa-pa. Jadi...."
"Kamu akan meneleponku kalo ada apa-apa dan dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan anaknya. Begitu?" bentak Manaow yang membuat Ann kaget.
"Manaow, ada apa denganmu hari ini? Ayo cerita padaku" saran Ann.
"Gak pa-pa. Mungkin aku hanya butuh istirahat. Biarkan aku tidur disini na." mohon Manaow.
"Jangan disini Manaow. Bagaimana kalo di kamarku saja?" saran Ann.
"Kamarmu?" heran Manaow.
__ADS_1
"Iya. Setiap dokter jaga mempunyai kamarnya masing-masing di belakang rumah sakit ini. Kebetulan teman sekamarku lagi tugas piket malam ini, jadi tidak ada yang tahu kalo kamu tidur di kamarku." saran Ann.
"Baiklah. Setidaknya aku mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaku." jawab Manaow yang mengikuti Ann membawanya ke kamarnya yang berada di belakang.
Sesampainya di kamar Ann, Manaow membersihkan dirinya sebentar kemudian masuk ke kamar. Disana Manaow melihat Ann menyusun bantal untuk ditiduri olehnya. Selesai itu Ann menyuruh Manaow untuk mengganti bajunya dengan piyama miliknya, kemudian menggiring Manaow ke tempat tidur. Setelah melihat Manaow benar-benar tertidur, Ann baru pergi untuk bertugas kembali.
'Ya dewa, apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak bisa mengatakan pada Ann kalo paman Fatty sebenarnya sudah meninggal. Aku takut dia tidak bisa menerima hal itu. Harapannya sangat besar untuk bisa menemukan ayahnya yang sudah lama menghilang. Beri aku kekuatan untuk mengatakannya, ya dewa.' batin Manaow sambil menangis dalam tidurnya yang tak lama membuatnya tertidur sampai keesokan harinya matahari masuk melalui celah jendela.
Manaow yang sudah bangun itu pun membersihkan diri sebentar, kemudian mengganti bajunya dan menuju kantin rumah sakit untuk sarapan. Selesai sarapan Manaow pun pamit pada Ann dan menuju rumah Kana. Terlihat kalo Nattarin sedang memeluk Mew dengan mesranya seakan berat untuk melepas nya.
"Bahagia sekali mereka." ujar Manaow.
Setelah melihat Mew pergi, Manaow pun melajukan mobilnya menuju rumah Kana yang membuat nya berhenti sebentar untuk melihat siapa yang datang. Dia terlihat kaget saat melihat Manaow keluar dari mobilnya.
"Hai Kana." sapa Manaow
"Halo Manaow." salam Kana dengan memasang wai.
"Boleh aku masuk?" tanya Manaow.
"Tentu saja. Masuklah" jawab Kana mempersilakan Manaow.
"Aku hanya sebentar saja. Mau menanyakan beberapa pertanyaan padamu dan mengatakan sesuatu padamu." ujar Manaow.
"Apa yang mau Manaow katakan dan tanyakan padaku?" tanya Kana dengan wajah penasaran.
"Aku hanya mau bertanya apakah rumah ini milik ibumu?" tanya Manaow.
"Tentu saja. Ayahku yang mengatakan kalo sebelum meninggal ibuku membelikan sebuah rumah untukku dan pasanganku kelak." jawab Kana.
"Lalu dimana ayahmu sekarang?" tanya Manaow.
"Sudah meninggal di penjara. Tapi sepertinya kematian ayahku tidaklah wajar." jawab Kana.
"Apa katamu? Meninggal di penjara? Apa kesalahan yang sudah dilakukan ayahmu dan meninggal nya tidak wajar bagaimana?" tanya Manaow dengan wajah penasaran.
"Ayahku dipenjara karena kasus korupsi dan dijatuhi hukuman mati. Sebelum ayahku dihukum mati, mama membawaku ke penjara untuk melihat ayah yang terakhir kalinya. Saat ayah memelukku, dia membisikkan padaku agar jangan terlalu mempercayai mama. Waktu itu aku agak bingung dengan apa yang dikatakan ayahku. apa maksudnya? Sampai setelah ayah meninggal, polisi menyerahkan semua barang ayah pada mama dan terselip sebuah surat di dalamnya yang setelah aku buka, ayahku mengatakan agar aku harus berhati-hati pada Jade karena Jade sudah banyak mencelakai orang termasuk dirinya." jawab Kana.
"Apakah di dalam surat tersebut ayahmu mengatakan siapa saja yang dicelakai oleh Jade?" tanya Manaow.
"Tidak. Jujur saat membaca surat itu aku sangat marah. Tapi aku tahu kalo aku tidak punya bukti untuk memenjarakan nya hanya berdasarkan surat itu saja." jawab Kana dengan menunduk.
"Kana, sebenarnya dari dulu aku sudah menyelidiki kasus yang melibatkan Jade. Jadi aku janji akan memberi kabar baik untukmu. Oh ya, sekarang ikut aku. Aku mau menunjukkan sesuatu yang berharga dan aku jamin akan membuatmu berterima kasih padaku." ujar Manaow sambil menarik Kana masuk ke mobilnya.
"Apa yang mau Manaow tunjukkan padaku?" heran Nattarin.
"Nanti juga kamu akan tahu." jawab Manaow sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1