
Sementara gadis dengan keadaan yang sangat tragis sedang tidur dengan keadaan duduk dikursi ditengah ruangan yang sangat gelap dan kedua tangan dan kakinya sedang terikat kencang. Matanya perlahan membuka dengan pelan-pelan.
'dimana aku?'
Aku terkejut saat kedua tangan dan kakiku terikat dengan posisi duduk. Ruangan ini benar-benar sangat menjijikan bau amis, dan juga sangat gelap tidak lupa juga dengan debu yang membuat pernafasanku terganggu.
"Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?"tanya seseorang didepanku. Dia tak terlihat disebabkan kadar cahaya yang tidak ada.
"Siapa kau?"
"Mengapa kau menculikku?"
Dia semakin mendekat dan berjalan ke arahku dengan membawa benda, aku tidak bisa melihat benda itu karena terlalu gelap.
"Karena kau! Kekasihku Angel pergi meninggalkanku sendirian, karena kau aku bahkan tak bisa melihatnya untuk yang terakhir kali, kekasihmu sangat gila dia monster yang pernah kudengar, aku tidak menyangka bahwa dia sekeji itu membunuhnya"
"Apa, apa yang kau katakan? aku tidak pernah mempunyai kekasih, dan gadis yang kau katakan itu juga temanku mana mungkin aku membunuhnya dengan keji,"
"Bukan kau yang membunuhnya bodoh tapi pria sadis itu!"
"Siapa yang kau katakan, aku benar-benar tidak mengerti"
"Baiklah. Aku akan membuatmu mengerti setelah kau menikmati permainan ini"
Srekk
Dia mengasah benda tajam yang ada ditangannya, kurasa itu adalah pisau lipat kecil. pikiranku sangat gelisah saat dia mengasahnya tepat didepanku dengan wajahnya yang terus tersenyum saat melihatku dengan ketakutan.
"Apa kau takut dengan ini?"
Ucapnya sambil menunjukkan pisau itu didepan wajahku.
"Ayolah ini adalah benda yang akan kita mainkan"
"Kau mau tahu cara pakainya?"
"Tapi sebentar aku akan melakban mulutmu agar tak mengeluarkan teriakan yang akan membuat telingaku pecah,"
"Tidak, jangan!"
Dia langsung melakban mulutku secara kasar, membuatku memekik kesakitan.
Mmtmtttt
"Ststststtst, kau berisik"
"Lihatlah kau terlihat sangat cantik, bagaimana kalau kulukis wajahmu terlebih dahulu"
Aku menggeleng dengan cepat.
"Tidak, kau nanti akan terlihat cantik saat kulukis tenang saja dan jangan berteriak yah,"
Sreett
Srettt
__ADS_1
Akhhh
Dia menyayat pipiku dengan lembut dan mengeluarkan darah yang mengalir sangat cepat.
'Ya Allah jika ini adalah saat terakhirku kumohon ampuni semua dosa hamba, bahagiakanlah kedua orang tua hamba disini, Ya Rabb'
Aku berdoa sambil mengeluarkan air mata, aku menangis saat pisau itu menyayat sekali lagi pipi sebelahku. Rasanya aku tidak sanggup lagi.
"Kau menangis?"
"Apa kau tidak gerah disini? apalagi kau memakai kain dikepala cantikmu,"
"Hm, bagaimana jika kulepas kain ini, aku yakin kau sangat kegerahan disini ditambah lagi kau sangat berkeringat,"
Mtmttthh
Aanhgannnnn
Brekk.
Dia merobek jilbabku sampai habis dan menyisakan ciput yang biasa kupakai untuk dalamnya.
'Ya Rabb, ampuni dosaku,'
"Kau benar-benar sangat cantik, bagaimana jika lehermu kulukis juga"
Sreeet
Aku pasrah saat dia menyayat leherku, kini seluruh wajah dan leherku dipenuhi dengan darah yang mengalir hebat.
"Ini benar-benar tidak seru, kau tidak menjerit sama seperti yang dialami gadisku,"
Dia membuka lakban yang ada dimulutku secara kasar membuatku menjerit kesakitan.
Akkhhhh
"Kumohon lepaskan aku,"
"Aku tidak tahu apapun atas kematian Angel"
Cletakk..
Cletakk
Bunyi cambukan terlihat jelas didepan mataku saat dia memainkannya sambil tertawa. Dia melepaskan tali yang dipasang untuk mengikat tangan dan kakiku setelah itu dia memborgol tanganku dan menjatuhkan tubuhku dilantai.
"Jangan, tolongg!!! Tolong akuuu"
"Teriaklah teriak sekencang mungkin, buatlah satu gedung ini menjadi tempat terakhirmu,"
Dia berjalan kearahku seraya tertawa terbahak bahak seeprti tatapan mengejek.
Cletak..
Aku berlari saat kakiku sama sekali tidak terikat apapun. Tapi nihil ruangan ini sangat gelap membuat penglihatanku jadi terganggu.
__ADS_1
Dia semakin dekat dan aku terhimpit oleh tembok dan membuat jalanku jadi buntu.
"Tidakk!"
Cletak...
Cambukan itu mengenai punggungku, sakit itu benar benar sangat sakit.
Cletakk..
Saat cambukan kedua tubuhku ambruk dan terlentang kebawah.
Pandanganku kabur entah kemana membuatku hampir setengah pingsan.
Dia mengeluarkan pistol dan aku semakin pasrah, jika ini adalah akhir hidupku aku pasrah tuhan. Aku mengerjapkan mataku sambil berdoa dan menangis.
DORR.
DORRR.
"BANGSATTT,"
"DASAR BAJINGANNNN,"
Aku mulai membuka mataku dan ternyata aku masih hidup, melihat sekumpulan orang yang mulai menyerangnya.
Dia, dia tertembak, bagaimana itu bisa terjadi.
Sementara aku menutup telingaku mendengar suara tembakan yang begitu jelas memenuhi gedung ini.
Pandanganku semakin kabur, pusing menjulur dikepalaku, aku mulai menutup mataku setelah melihat banyaknya orang yang berkerumun menyelamatkanku. Jelas ada hentakan sepatu yang berjalan kearahku, tapi pandanganku makin kabur dan kegelapan mulai menyelimutiku.
"Hei, baby bangunlah! Kau tidak boleh meninggalkanku, penculik itu tak akan kubiarkan mati begitu mudahnya akan kubiarkan dia hidup seperti dineraka."
Kenrick mulai mengangkat tubuh Zahwa ala bridal style nya, membawanya ditengah tengah banyak pengawalnya yang tertunduk.
Kenrick tahu jika Zahwa tidak memakai kain yang menutupi kepalanya, jadi tanpa disuruh para pengawalnya menundukkan kepalanya secara hormat dan membawanya kemobil ferrarinya.
Dia menundukkan Zahwa didepan mobilnya bersamanya dan melepaskan ciput yang menutupi kepalanya karena dia tahu pasti gadisnya semakin pusing jika masih dikenakan.
Melihat gadis itu dengan banyak luka sayatan diwajahnya dan juga disekujur lehernya, membuat Kenrick semakin marah. Dia membelai rambut gadis itu dengan lembut, menyelimuti gadis itu dengan jas yang ia kenakan.
Tanpa disangka-sangka pria itu mengeluarkan cairan dimatanya, menangisi sosok gadis yang selama ini ia cintai dan memegang tangan gadis itu secara erat. Dia mengendalikan stirnya dan menancapkan gas langsung ke arah rumah sakit diikuti oleh jajaran pengawalnya dibelakang.
Sesampainya dirumah sakit, tanpa disuruh para perawat itu mulai bergegas membawa Zahwa ke ruangan dan dokter mulai mengobatinya.
Bukan satu atau dua dokter yang Kenrick suruh tapi hampir 10 dan 8 perawat yang dia panggil.
"Cepat obati dia, jika dia sampai kenapa-kenapa akan kubakar rumah sakit ini"
Hampir dua jam Kenrick menunggu didepan ruang operasi, dan dokter mulai keluar.
"Keadaannya benar-benar sangat kritis, sepertinya dia sangat trauma akibat kejadian yang dia alami, tapo tenang saja kami sudah mengobati luka diwajah dan lehernya,"
"Dan dia langsung kami pindahkan keruang inap,"
__ADS_1
Kenrick mengangguk, dan melihat gadis itu melalui kaca jendela dengan tatapan sendu.