
Kenrick masih setia memfokuskan mata tajamnya pada setiap jalanan yang ia tempuh, sedangkan diriku masih memikirkan bagaimana cara agar bisa lepas darinya.
"Ken, kumohon berhenti!"
Ekspresinya sungguh dingin tak menjawab bahkan tak menatapku.
"Ken, kalo kamu tidak berhenti, aku bakalan telfon polisi!"ucapku sambil mengambil ponselku didalam tas.
"Telfon saja! Lagipula aku tidak takut dengan ancamanmu itu!"ujarnya.
Aku tak tinggal diam langsung ku hubungi nomor polisi, tapi saat aku sudah tersambung dengan nomor polisi, sebuah tangan mengambil ponselku dan mematikan telfonnya.
"Lebih baik kau diam dan duduk manis!"ucapnya dengan tegas.
"Kau..,"saat aku ingin bicara dia mengarahkan ponselku pada luar jendela dan nyaris membuat mataku membesar.
"Kau ingin aku membuang ponsel ini?"ancamnya.
"Baiklah, aku akan menurut, tapi berikan ponsel itu padaku!"
"Good girl! aku akan menyimpan ponselmu saat kita sampai."ucapnya seraya menyimpan ponselku disakunya.
Aku menatapnya dengan kesal, menyimpan semua amarahku dengan mengalihkan pandanganku pada luar jendela. Jalanan berhembus sangat kencang saat kenrick melaluinya secepat semilir angin. Semakin lama
laju mobil ini semakin pelan disebabkan kenrick menepi disamping restaurant mewah dan indah di tepi danau.
__ADS_1
Dia membuka pintu mobilnya untukku, mengisyaratkan agar segera turun dan aku pun turun dari mobilnya. Melihat bagaimana restaurant ini sangat mewah, mungkin hanya beberapa orang yang bisa mengunjungi restaurant ini.
"Kau membawaku kemana?"tanyaku.
"Ini adalah restaurantku! Aku ingin kau dan aku makan bersama disini!"ucapnya dengan tegas.
Sontak bola mataku membesar, bagaimana bisa aku membolos pelajaran demi makan bersamanya. Ayolah ini sangat konyol, aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan sia-sia.
"Ken, Apakah kau gila? aku tidak mau membolos pelajaran hanya demi makan bersamamu,"
"Bisakah kau sehari ini diam!"teriaknya.
Kami berdua masuk tapi tidak bergandengan, kenrick yang memimpin di depan sementara aku dibelakang. Pintu masuk dibuka oleh para pelayan yang sedang melayani pemilik retaurant ini, tatapan mereka tertunduk takut. Aku tidak mengerti mengapa mereka setakut itu pada Kenrick.
"Selamat datang, Mr. Dan Ms. Reegan. Kami telah menyiapkan meja yang tuan perintahkan!"ucap salah satu pelayan.
"Dia memang belum menjadi istriku, tapi sebentar lagi kami akan menikah!"ucapnya memotong pembicaraanku.
Aku menutup mulutku tak percaya, dia benar-benar tak waras. Bukankah dia sudah memiliki tunangan? Oh tidak apa jangan-jangan aku akan dijadikan istri kedua.
"Tidakk!"teriakku tiba-tiba, mengejutkan beberapa orang termasuk Kenrick yang mentapku dengan tatapan aneh.
"Hm, mari tuan saya antarkan ke meja tuan!"ucap pelayan tersebut.
Kami berdua mengikuti pelayan tersebut dan duduk dimeja yang indah dihiasi dengan lampu dan banyak sekali bunga disampingnya. Tak lupa dengan makanan-makanan mewah khas eropa yang tersaji langsung dari tangan pelayan.
__ADS_1
"Makanlah!"ucapnya.
Aku mengangguk pasrah dan menikmati makanan yang tersedia didepanku. Oh Tuhan! Kapan aku bisa terhindar darinya.
••••
Tak terkira dari tadi Zain masih menunggu sang gadis pujaan keluar dari kelasnya, tapi sayangnya setelah para mahasiswa-mahasiswi dari kelas tersebut keluar tak menunjukkan tanda-tanda nampaknya gadis itu.
"Dimana Zahwa? mengapa dia tak masuk?"ucapnya sambil celingak celinguk mencari setiap penjuru kelas tersebut.
Zain pun bertanya kepada setiap teman sekelasnya yang sudah bersiap-siap pulang.
"Apakah kau melihat Zahwa? Apa dia tak masuk hari ini?"tanya Zain pada teman perempuan sekelas Zahwa.
"Zahwa tidak masuk hari ini! Aku saja tidak tahu dia akan membolos pelajaran, aku pikir gadis sepertinya rajin ternyata tidak, maaf aku pulang dulu!"cibirnya.
"Yasudahlah, thanks!"
Zain bingung, mengapa Zahwa tak mengirim pesan apapun, jika dia tak masuk, karena biasanya jika Zahwa sedang sakit pasti akan langsung menghubunginya. Zain mencoba menghubunginya dan mengirim pesan padanya, tapi nihil Zahwa tak menjawab telfonnya bahkan pesannya tak terbalas.
"Wa, kau dimana?"
"Padahal aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku padamu!"Ujarnya.
Zain menghela nafas panjang, meninggalkan ruang kelas Zahwa dengan perasaan yang tidak bahagia.
__ADS_1
Karena niatnya ingin mengucapkan hal bahagia pupus akibat Zahwa tak masuk hari ini.