King Of Possessive

King Of Possessive
16.


__ADS_3

"Ada apa ini?"


Bariton suara khas dari pria yang tiba-tiba disudut pintu, menatap kearahku dengan tatapan tajamnya.


Kepalaku seketika berputar saat menatap matanya.


Dorrr..


Dorrr..


ZAINN


Aku mundur perlahan kebelakang, menjauh darinya. Bibi Ema yang melihatku pun merasa aneh dengan sikapku.


Jari jemarinya menunjuk agar bibi Ema pergi dari situ. Aku yang semakin ketakutan itupun, menatap bibi Ema memohon agar tak pergi meninggalkanku.


"Letakkan saja makanan itu dimeja dan pergi dari kamar ini,"suara dingin itu membuat bibi Ema mengangguk ketakutan.


"Bi, jangan pergi, aku takut!"


"Maaf, nyonya."ucapnya meletakkan makanan itu dimeja dan langsung pergi dari kamar. Aku yang semakin ketakutan beralih mengikutinya hingga pintu keluar, tapi sebuah tangan menggapai tanganku sampai tubuhku menubruk dinding.


Dia menjentikkan jarinya dan tiba-tiba pintu itu tertutup sendiri.


"Tolong, bibi Ema!!"


"Stststt, stop baby kau membuatku risih, kau tidak akan bisa keluar dari sini, jangankan keluar dari rumah ini bahkan pintu itu saja tak bisa terbuka untukmu karena sekali kau melangkah keluar pintu itu sudah tertutup dengan sendirinya"


"Jangan jangan sentuh aku, pergii pembunuh, pergi dari hidupku,"tubuhku menggetar hebat saat ia semakin mendekatiku dan memegang tanganku.


"Baiklah aku tak akan menyentuhmu sekarang tapi dengan satu syarat kau harus memakan makananmu dulu,"


Aku mengangguk pasrah.


"Goodgirl, baby Zua,"


"Apa?"


"Iyah sayang itu panggilan baru untukmu dariku"

__ADS_1


"Apa hakmu memanggilku seperti itu?"


"Karena kau adalah milik seorang Reegan dan selamanya akan seperti itu,"


"Tapi Sua-"


"Ststst! jika masih berani mulutmu mengatakan bedebah itu disini, tidak segan-segan kau akan melihat kematian keluarganya,"ucapnya sembari menutup mulutku.


"Lepas, katakan dimana ini?"


"Welcome to Addison House. Ini adalah rumahku dan akan menjadi rumah kita tinggal."


"Hah? Apa kau bermimpi? aku tak akan tinggal disini"


"Kenyataannya kau berada disini,"


"Apa kau tidak waras membawa kabur istri orang,"


"Honey, jika aku sudah bilang kau adalah milikku, itu sudah pasti milikku dan tak boleh ada orang yang mengambilnya apalagi sampai menyentuhnya."


"Dasar orang gila,"


"Aku juga mencintaimu sayang, baiklah! aku pergi dulu jika aku masih melihat piring itu tak disentuh, maka kau akan melihat diriku yang lainnya."


"Baiklah good bye, baby Zua"dia pergi dan pintu itu terbuka sendiri. Aku yang semakin penasaran mendekati pintu itu dan nihil pintu itu malah langsung tertutup.


"Bodoh, betapa bodohnya akuu"aku menepuk jidatku beberapa kali.


"Yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana bisa lepas darinya,"


"Sepertinya ini akan sangat lama, mungkin harus kurencanakan terlebih dulu baru aku akan memulai waktunya,"aku mulai kehabisan energi dan melihat piring itu yang dipenuhi dengan makanan yang menggugah selera.


"Lebih baik aku makan dulu saja,"


"Setelah itu pasti otakku bakalan muncul ide ide terbaru."


-0-0-0-


Terlihat seorang pria yang sedang terkujur lemah dengan alat pernafasan lengkap. Pria itu tidak lain adalah Zain, dia baru saja selesai dioperasi.

__ADS_1


"Zain, buka matamu sayang,"


"Mom sangat merindukanmu,"


Orang tuanya terus berada disamping putranya, menangis, memohon agar putranya membuka matanya.


"Mom, sudah bilang padamu jangan pernah menikah dengannya, tapi mengapa kau selalu membantah?"


"Sudahlah, kenapa dari tadi kau hanya menyalahkan wanita itu, bukankah itu semua bukan salahnya!"


"Bukan salahnya dad? Apa putra kita tertembak bukan salahnya, HAH?"


Kedua orang tuanya malah saling bertengkar.


"Zahwa,"


"Zahwaa, jangan pergii!"


Mereka langsung menatap asal suara terebut yang keluar dari mulut anaknya.


"Zain,"


"Wawa, dimana istriku?"


"Sayang, disini ada mom dan dad, kenapa kau malah menanyakan perempuan pengkhianat itu"


"Dia istriku mom, istriku! Dan dia bukan pengkhianat"


"Sudahlah mom mending jangan ribut disini, kasihan putra kita dia baru saja sadar dari operasi,"


"Tapi dad,"


"Lebih baik kita tinggalkan dia untuk sementara waktu agar dia bisa tenang,"


"Baiklah,"


Mereka pergi keluar ruangan, sementara Zain masih memikirkan dimana keberadaan istrinya.


"Kenrick Reegan Addison, kau benar-benar ingin bermain denganku,"

__ADS_1


"Kau pikir aku bisa mati dengan semudah itu"


"Hm, kau belum melihat diriku, jika ada sesuatu yang menimpa istriku maka kau akan menerima akibatnya."


__ADS_2