
Sulit
Iyah waktu sangat cepat saat aku mengatakan padanya bahwa aku menerimanya sebagai pendampingku, kini hiasan telah membaluri wajahku dan baju pengantin telah menyelimuti tubuhku.
Aku tak mengira Zain rela berbuat apa saja demi menikahi diriku. Orang tua Zain hanya bisa pasrah terhadap perilaku putranya yang semakin membatahnya.
Semakin lebih perhatianmu, maka rasaku semakin dalam padamu, Zain.
"Subhanallah, anak bunda semakin cantik"
"Bunda,"
Aku menatap bunda dengan sendu, karena sebentar lagi putrinya akan semakin menjauh dan pergi kerumah mertuanya.
"Putri bunda jangan nangis yah"Bunda perlahan menghapus air mataku dengan lembut.
"Cepatlah sayang, calon suamimu menunggumu dipelaminan."
"Baiklah bun"
Aku mulai berjalan keluar kamar dan perlahan menatap seluruh tamu undangan sudah siap menungguku. Tempatku dan Zain terpisah, karena pada hakikatnya akad kami tidak dilakukan secara duduk bersampingan tapi secara bersebrangan.
Ayahku menjabat tangan Zain dan mengucapkan."Bismillahirrahmanirrahim saudara Zain hamizan bin Danish Hamizan, saya kawinkan engkau dengan anak perempuan saya yang bernama Zahwa Qarira Nazhifa dengan seperangkat alat solat dan perhiasan tersebut dibayar tunai"
Zain mulai menghela nafasnya dan mulai mengucapkannya.
"Saya terima nikahnya Zahwa Qarira Nazhifa binti Muhammad Faisal dengan maskawin dan seperangkat alat solat tersebut dibayar tunai"
"Bagaimana para saksi, SAH"
"SAH"
Dor
Dor..
Dor...
BREKK
Aaaaa
__ADS_1
Lampu dari hiasan dirumahku pecah, tamu undangan bersorak teriak akibat suara tembakan yang menggema dirumahku. Aku pun sangat terkejut mendengarnya,
"SEMUANYA KELUAR DARI SINI!"
Para tamu undangan berlari keluar rumahku dengan aura ketakutan. Sementara didalam rumahku hanya ada
"ZAHWAA, DIMANA KAU?"
Aku yang mendengar namaku disebut langsung melihat kearah sekerumunan orang yang sedang memegang senjata. Betapa terkejutnya aku saat salah satu orang yang memanggilku ternyata adalah Kenrick.
"Ken, kau?"
Dia mulai mendekat kearahku, tapi dihalangkan oleh Zain yang sudah sah menjadi suamiku.
"Sekali kau menyentuh istriku, maka saat ini juga tanganku akan melayang diwajahmu!"
Kenrick mulai menatap dengan tatapan mengejek, baginya tak ada seorang pun yang berani mengancamnya seperti itu selain lelaki didepannya ini.
"Hah? Apa? Apa aku salah dengar ISTRI? Pernikahan ini tidak sah! Karena Zahwa hanya milikku"
"MILIKKU!"Kenrick menekankan kata terakhirnya seraya berjalan kearahku, aku berjalan mundur dengan raut wajah yang sangat takut dengannya.
Takut
Itu yang kurasakan mengapa aura Kenrick benar-benar sangat berbeda, dia seperti serigala yang marah karena makanannya direbut.
"Zain aku takut,"bisikku pada telinganya.
Zain semakin mengeratkan pegangannya.
"Tenanglah, Wa aku disini, tidak ada yang boleh menyakitimu!"Zain mengucapkannya pelan sembari mengelus tanganku dan memegang sangat erat. Mataku dan matanya bertemu menatap dengan rasa ketakutan yang terlihat jelas pada mataku.
"CUKUP! SUDAH CUKUP ADEGAN DRAMATIS INI,"
"CEPAT BERIKAN ZAHWA PADAKU!"
"Atau kutembak semua orang yang berada disini!"
Kata-katanya cukup mengejutkan beberapa orang disini termasuk keluarga dan sanak saudaraku dan keluarga Zain.
"SATU!"
__ADS_1
'Zain, kumohon aku takut!'
"DUA!"
'Lari, Wa kau harus lari,'bisiknya ditelingaku.
'Tidak, aku tidak akan meninggalkan suamiku,'
'TIGAA!"
DORR.
Satu tembakan berhasil dia letupkan.
Aku menutup telinga dan mataku dengan sangat erat, saat kubuka aku melihat tembakan itu mengenai bingkai foto keluargaku, yah lebih tepatnya foto ayahku.
Bugh
Bugh
Dua pukulan mendarat diwajah Kenrick, menyebabkan sudut bibirnya berdarah. Dia tersenyum kecut saat membersihkan darah dengan santai dan menatap orang yang memukulinya dengan tatapan mengejek.
"ZAHWA CEPAT LARI!"
Aku yang mendengarkan teriakan Zain langsung menuju pintu keluar tapi dua orang mendahuluiku dan menghalangi jalanku.
"Sekali kau melangkah keluar maka kau tak akan melihatnya lagi,"
"ZAHWA JANGAN DENGARKAN DIA CEPAT KAU PERGI,"
Bagaimana ini, jika aku pergi dari sini dia pasti akan melakukan sesuatu yang gila.
Tatapan Zain masih sama dia menyuruhku untuk pergi lewat pintu belakang melalu jari jempolnya yang menunjuk kearah belakang.
Aku berlari menuju pintu belakang dan
Dorr
Dorrr..
Suara tembakan jelas menggema digendang telingaku dan menghentikan kakiku ditempat.
__ADS_1