King Of Possessive

King Of Possessive
15


__ADS_3

California, As.


Hembusan angin menerpa dikala jatuhnya rembulan dan terbitlah matahari dan sayup sayup suara burung melintasi sesuatu benda yang besar dan benda itu tidak lain adalah sebuah jet yang memperlihatkan banyaknya pepohonan dan juga hutan disekelilingnya. Pria dengan bola mata hijau pinus itu sedari tadi memainkan ponselnya menghubungi seseorang yang tidak asing baginya.


"Hallo, Jack apa kau sudah menyiapkan semuanya?"


"......"


"Bilang pada semuanya yang ada dirumahku bahwa nyonya besar akan datang,"


"......."


Ia langsung mematikan ponselnya dan alih alih tangannya mengambil sebuah minuman selagi ia masih menahan kantuk untuk bisa sampai dengan cepat karena matanya dari tadi tidak bisa tidur.


13 jam sudah saat jet itu berhenti tepat disebuah bandara ditengah tengah pegunungan dan pepohonan.


Mobil telah disiapkan oleh Jack tinggal menunggu tuannya untuk turun. Sementara Kenrick menggendong Zahwa dengan sangat hati-hati agar tak membangunkannya.


"Selamat datang, tuan"


Kenrick mengangguk dan Jack membukakan pintu mobilnya mempersilahkan tuannya masuk.


Lalu melajukan kedalinya dan menancapkan gasnya.


(Sumpah sih kenrick gak ada senyum senyum lohh bikin authorr kesel ngetiknya)


Jalan yang ditempuh oleh Jack benar-benar rumit, bahkan sangat jauh untuk bisa sampai tujuan. Kenrick sengaja memilih rumahnya ditengah-tengah hutan dan sangat jauh oleh kota, bukan karena untuk menghindari musuh-musuhnya tapi memang pria eropa itu tak suka dengan keramaian.


30 menit


Dengan kecepatan diatas rata-rata Jack mengemudikan secepat kilat karena ia tak mau jika tuannya marah dan sampailah dirumah yang besar nan megah.


Di bukakanlah pintu mobil dengan sangat hormat oleh pria paruh baya yang sudah menunggu didepan rumah itu.


"Selamat datang kembali tuan, saya senang tuan bisa kembali apalagi tuan sudah bisa membawa nyonya besar ke rumah ini."ucap sang pria paruh baya.

__ADS_1


"Bagaimana kau sudah menyiapkan semuanya bukan?"


"Sudah tuan para maid sudah menyelesaikan persiapan untuk kamar nyonya"


"Bagus, paman Will."


Nama pria yang sudah berumur sekitar 45 tahun tersebut adalah Wilton sinaga. Bisa dipanggil dengan sebutan Will oleh tuannya. Mengapa Kenrick memanggilnya paman, karena dulu paman Will adalah pelayan setia sekaligus orang yang merawat Kenrick sejak kecil dari keluarga angkatnya. Keluarga angkatnya sangat sibuk dan tidak memperhatikannya sampai-sampai mereka menitipkannya setiap hari pada paman Will. Sehingga sifat acuh yang dimiliki Kenrick sangat berpengaruh hingga sekarang pada orang tua angkatnya, itulah mengapa dia tak peduli dengan orang tuanya.


Kenrick memasuki rumahnya sembari membawa Zahwa dipangkuannya. Para pelayan dirumah itu sudah berbaris menyambut kedatangan tuannya yang sudah lama meninggalkan rumah ini.


Mereka menunduk hormat saat Kenrick berjalan ke arah tangga sambil membawa gadis dirangkuhannya dan menaiki satu demi satu anak tangga menuju kamar yang sudah disiapkan.


Sesampainya dikamar tersebut ia merebahkan gadis itu perlahan, menatap matanya yang sedang tertidur pulas meringkuk bak anak kecil, ia menatapnya gemas ingin sekali memangsanya. Tapi ia urungkan niatnya dan menyelimutinya sehabis itu ia pergi keluar dari kamar tersebut.


-0-0-0-


Aku membuka mata perlahan, menatap ruangan dengan aroma khas yang sangat mewah dan besar. Sekilas aku mengingat kembali kejadian terakhir kali aku pingsan.


Dorrr..


Dorrr


Apa kau gilaa? Dia sudah mati Zahwaa, sudahh matii,


Aku menutup kedua telingaku dengan sangat erat dan menangis mengingat kejadian itu yang terus berputar dikepalaku.


"Zainn, dia tidak boleh mati, aku harus kembali"


Saat aku bergegas pergi dari kasur tanpa aku sadari baju yang kukenakan bukanlah gaun pengantin seperti saat terakhir kali, ini piyama yang panjang lengkap dengan jilbab yang senada.


Jangan bilang pria itu yang menggantikannya


Tidak, aku tidak boleh berpikiran aneh, yang harus kupikirkan adalah pergi dari sini.


Saat kubangkit dan berjalan kearah pintu, tiba-tiba ada hentakan kaki yang sedang menuju kesini.

__ADS_1


Ceklekk.


"Nyonya, nyonya sudah bangun,"


"Maaf kau siapa?"


"Nama saya Ema nyonya pelayan dirumah ini,"


"Kau tidak perlu memanggilku nyonya, panggil saja Zahwa,"


"Tapi tuan akan marah nyonya,"


"Tak apa asalkan hanya aku dan kau yang tahu,"


"Baiklah, nyo, emm Zahwa"


"Bagaimana aku memanggilmu bibi Ema saja,"


Bibi Ema mengangguk.


"Nyonya saya bawakan makanan untuk nyonya, mohon dimakan yah!"


"Bibi tadi kan aku udah bilang jangan panggil aku nyonya,"


"Maaf, nyo emm Zahwa,"


Aku tersenyum melihatnya.


"Bibi, bibi bisa tolong bantu aku keluar dari sini tidak?"


"Maaf jika itu saya tidak bisa,"


"Bi, kumohon aku ingin pulang melihat keadaan suamiku!"


"Maaf non, saya-"

__ADS_1


"Ada apa ini?"


Bariton suara khas dari pria yang tiba-tiba disudut pintu, menatap kearahku dengan tatapan tajamnya.


__ADS_2