
"Vicia, aku tidak bisa."
"Kamu pengecut!" kecam Vicia mulai emosi. Air mata sudah berjatuhan dipipinya. Tidak pernah dia merasa begitu sedih,seperti saat ini.
"Iya Vicia. Aku memang pengecut. Maafkan aku."
Vicia menekan perasaannya yang terluka. Menahan jiwanya agar tidak terbakar kepedihan. "Andrea, aku akan menunggumu besok siang jam 2 di cafe Bambu. Ingat itu!!" teriaknya menutup telepon. Lalu Vicia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, dan menangis sejadi-jadinya.
Ya Allah... Kenapa nasibku bisa seburuk ini? Kalau saja papa masih hidup, takkan papa membiarkan aku terpuruk dikesedihan ini. Takkan mungkin papa membiarkan aku menderita seperti ini. Papa… aku rindu padamu… tangis Vicia di dalam tidur malamnya yang kelam.
*
Hari sudah hampir magrib, namun Andrea tidak juga muncul di cafe bambu. Vicia menunggu dengan penuh kesabaran walau hati terluka. Berkali-kali dia mencoba menghubungi cowok itu. Namun hapenya mati. Di inbox juga ga dijawab. Andrea benar-benar cowok pengecut. Dia tidak berani datang. Tidak berani menghadapi masalah. Vicia merasa dia sudah jatuh cinta pada orang yang salah. Air mata kembali menitik di pipinya tanpa terasa. Dia sudah lelah menunggu sejak jam 2 di cafe itu. Dia sudah minum tiga gelas, dan hampir muntah gara-gara migrainnya kumat.
"Hei, kalau jalan hati-hati dong!" terdengar suara seorang cowok saat Vicia secara tidak sengaja menabraknya saat mau keluar cafe.
"Maaf, aku tidak sengaja. Kepalaku pusing sekali." ucap Vicia cepat.
"Vicia?" tanya orang itu kaget.
"Kamu?" Vicia tidak ingat nama cowok itu. Tapi dia ingat cowok itu temannya Denny yang menjumpainya di gazebo taman rumah Denny.
"Iya, aku Ivan. Masih ingat kan? Kenapa kamu Vicia? Sakit?"
"Kepalaku sakit skali..."Vicia lari keluar cafe dan langsung muntah-muntah.
"Kamu masuk angin ya?" tanya Ivan simpati.
"Tidak. Aku migrain. Kalo udah sakit banget, aku pasti akan muntah-muntah."
"Oh. Tapi kenapa kamu bisa ada di sini, Vicia?”
Vicia menghapus airmatanya dan tidak menjawab pertanyaan Ivan.
“Ya sudah. Kamu mau pulang, kan? Mau aku antar?"
"Tidak, terima kasih."
"Sudah, jangan menolak. Kamu lagi sakit dan hari sudah gelap. Ayo." Ivan langsung memegang pergelangan tangan Vicia dan menghantarnya pulang dengan mobilnya. Di dalam perjalanan, Ivan membiarkan Vicia diam dengan pikirannya seniri. Dia yakin, gadis itu sedang tidak ingin diganggu. Sampai di rumah, Vicia dan Ivan disambut oleh omelan yang panjang lebar.
"Vicia, kemana saja kamu seharian? Pergi ga bilang-bilang. Kamu itu sudah bertunangan. Jadi harus jaga diri. Jangan jadi gadis liar lagi. Masuk kamar kamu!" perintah mamanya. Lalu melotot pada Ivan.
__ADS_1
"Siapa kamu?"
"Saya teman Vicia, tante."
"He, dengar ya! Vicia itu sudah punya tunangan. Kamu jangan ganggu dia. Paham?"
"Paham tante. Saya permisi dulu."
"Dasar orang kere!" maki mama Vicia smbil membanting pintu.
*
Disekolah, Vicia hanya termenung dan tidak bersemangat. Sri dan Icha, teman akrabnya hanya bisa menemani tanpa bisa melakukan apapun.
"Jiaah... si Tuan Putri sedih lagi patah hati!" ejek Lala saat melintasi mereka.
"Apa sih maksud kamu?" tanya Icha kesal.
"Vicia kan diputusin cowoknya. Makanya bengong kaya sapi ompong gitu!" ujar Lala tertawa.
"Ih, kamu itu kan sodaranya. Kok malah senang liat Vicia sedih?" tanya Sri heran.
"Ya kami senang dong. Sebentar lagi Vicia kan bakal kawin sama orang kaya." tambah Erni.
"Tadi katanya diputusin? Kok lalu kamu bilang mau kawin?" tanya Sri tak mengerti.
"Makanya, kalian tuh ga dianggap temen sama si Vicia. Jadi dia ga mau terbuka sama kalian. Kalian dianggapnya sebagai pelengkap penderita saja. Tau ga?" Lala dan Erni tertawa-tawa dan berlalu dari tempat itu.
"Vicia, kami tidak percaya dengan kata-kata saudaramu yang selalu sirik itu." ucap Icha menghibur, "Tapi cobalah bercerita pada kami. Sapa tau kami bisa bantu cari solusi buat masalahmu."
"Iya, Vicia. Kami kan sahabatmu sejak kita kelas 1 SMU." tambah Sri.
Vicia tahu. Sekalipun dia bercerita pada teman-temannya, masalahnya takkan pernah terpecahkan. Karena memang sudah tidak ada yang bisa menentang kemauan mamanya. Dulu dia masih bersemangat karena ada Andrea yang selalu memberi dukungan. Tetapip setelah Andrea memutuskannya, semua terasa hampa dan Vicia ingin mati saja.
*
"Mama dan keluarga Handoyo sudah memutuskan hari pernikahanmu adalah sebulan setelah kamu lulus sekolah." terdengar suara mama di meja makan. Lala dan Erni tertawa cekikikan. Sementara Vicia yang sedang membawa nasi goreng langsungg gemetar.
"Tapi ma?"
"Ga ada tapi-tapian. Kamu itu ga tau ya kalo kita sudah hampir tidak makan? Semakin cepat kamu menikah, maka semakin cepat kesulitan kita terlampaui."
__ADS_1
"Mama jahat sekali. Aku kan masih terlalu muda untuk menikah."
"Saat kamu tamat nanti, kamu sudah berumur 18 tahun. Mama sudah hitung dari tanggal lahir kamu."
"Tapi ma?"
"Atau kamu mau kita jual rumah ini dan kamu tinggal di kolong jembatan? Kamu mau hidup seperti itu?" ancam mama tanpa perasaan, "Dan siapakan dirimu. Nanti malam, Denny akan bertemu muka denganmu."
"Siapkan sarung tangan dan masker agar tidak nular penyakitnya." ejek Lala ngakak.
"Ih, gimana ya kalo harus berciuman dengan cowok berpenyakit kulit? Pasti munta-muntah deh." tambah Erni tertawa lebar.
Vicia langsung lari kekamarnya. Tidak selera makan. Dia segera sholat dan berdoa. Di dalam doanya, dia mengadukan semua luka hatinya. Semua kepedihannya. Dan penderitaannya.
"Ya Allah, jika memang ini takdir yg mesti hamba jalani,, hamba ikhlas." tangis Vicia dalam doanya.
Selesai sholat, Vicia keluar rumah tanpa sepengetahuan mama dan sodara-saudaranya. Dia membawa beberapa lembar pakaiannya, dan satu-satunya kalung peninggalan mamanya, yang selama ini dia sembunyikan. Dia bermaksud minggat, entah kemana, yang penting lari dari keinginan mamanya.
"Hei, Vicia? Ngapain kamu disini?" tanya sebuah suara mengejutkan gadis itu.
Vicia bingung. "Ivan? Ya ampun. Kok aku bisa sampai disini?" tanyanya heran.
"Harusnya aku yang tanya begitu. Ngapain kamu bisa sampai berada di depan kampusku?"
"Aku ga tau, Van. Aku bingung." ucap Vicia lemah. Dalam keadaan bingung dan putus asa,Ternyata kakinya melangkah sampai ke halte depan kampus Ivan.
"Soal pertunangan itu lagi ya?"
"Sekarang sudah menjadi perkawinan."
"Astaga." Ivan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Van... Kamu sudah selesai kuliah?"
"Iya. Napa?"
"Van, maukah kamu membawaku jalan-jalan?."
"Kemana?"
"Kemana saja. Kalau tidak, aku bisa gila." ucap Vicia berharap. Ivan kasihan melihatnya. Hatinya benar-benar tidak tega melihat penderitaan gadis itu. Dia pun segera membawa Vicia keliling kota. Selama dalam perjalanan, Vicia diam saja. Dan Ivan pun tidak berani bertanya macam-macam. Wajah cantik Vicia memucat dan gadis itu tampak tertekan. Rasanya semua yang dialaminya sungguh menyakiti hati gadis itu. Ivan merasa menyesal.
__ADS_1
"Vicia... Aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Ivan akhirnya.
*****