
Ketika kau jatuh cinta, segalanya menjadi kabur. Kau tak’kan bisa melihat apa yang dilihat oleh orang lain. Namun waktu akan menyadarkanmu. Bahwa, jika orang yang kau cinta hanya memberi luka, lepaskanlah. Dia bukan untukmu.
*
Pagi itu, Saras mengirim sms kepada Dimy, pacarnya. Menanyakan apakah cowok itu akan menjemputnya untuk bersama-sama berangkat ke sekolah. Soalnya, kemarin, cowok itu marah-marah karena Saras berangkat duluan dan tidak menunggu kedatangannya. Jadi, untuk menghindarkan konflik yang selalu saja terjadi, Saras mengalah dan lebih memperhatikan hal-hal kecil yang mampu memicu pertengkaran. Namun setelah menunggu setengah jam Dimy tak juga menjawab smsnya, Saras. mencoba menelepon. Nada dering masuk, tetapi tidak diangkat. Dimy kemana?
Karena takut terlambat ke sekolah, akhirnya Saras berangkat sendiri dengan menaiki bajaj. Dalam hati ia berdoa, semoga hari ini menjadi hari yang tenang buat dirinya.
"Lo sih, kenapa gak sms gue dari awal?" gerutu Dimy. Tadi, saat sampai di sekolah, Saras hampir saja terlambat. Mang Diman penjaga sekolah, sudah hendak mengunci gerbang. Syukurnya pria itu seorang yang baik hati dan mau menunggu Saras yang berlari memburunya. Dan saat itu, betapa kesalnya hati Saras melihat Dimy sedang asyik bercanda dengan teman-temannya. Tampaknya mereka baru saja usai bermain basket di lapangan sekolah. Pantas saja smsnya tidak dibalas. Pasti hpnya ada di dalam tas.
"Yah, kan gue nungguin elo," ujar Saras bersungut- sungut.
"Mana gue tau. Soalnya kemaren lo bisa berangkat tanpa gue."
"Iya, tapi setelah itu lo marah-marah, kan? Jadi gue kira hari ini..."
"Hallaaahh ... Jangan mengira-ngira dong. Yang pasti-pasti saja!" penggal Dimy cepat.
Saras terdiam. Ia menghela nafas dan lebih memilih mengalah demi menghindari konflik dari pada ribut-ribut. Rasanya malu sekali bila orang lain sampai mendengar pertengkaran mereka.
Namun Dimy tidak sama dengan dirinya. Cowok itu selalu mengumbar emosi tanpa memikirkan mereka sedang berada dimana. Bahkan kalau dipikir-pikir, semenjak berpacaran, Dimy selalu saja marah-marah. Atau menyalahkan dirinya. Terlebih setelah ia mulai mengenakan jilbab. Dimy benar-benar memperlihatkan rasa tidak sukanya dengan keputusan Sarah untuk berhijab.
"Gimana lo bisa ke pesta Dion, kalo model baju lo sudah seperti itu? Lo mau jadi tontonan?" gerutu Dimy suatu hari, saat mereka hendak pergi ke ulang tahun teman sekelas mereka. Waktu itu, Dimy mengucapkannya tepat di depan teman-teman Saras. Gadis itu merasa sangat malu karena teguran yang tidak pada tempatnya itu.
__ADS_1
"Hei! Cepetan dong jalannya. Lelet amat sih. Kaya keong!" teriak Dimy pada lain kesempatan. Padahal, saat itu, jari kaki Saras sedang lecet, makanya dia melangkah dengan pelan. Tetapi Dimy memang seorang yang egois dan tidak memikirkan luka yang ia toreh saat ia berkata kasar. Tampaknya, di matanya, Saras selalu salah. Sampai akhirnya Saras berpikir, mungkin Dimy sudah tidak lagi mencintainya.
*
“Namanya Deasy, Ras. Beberapa kali gue lihat cowok lo jalan sama tuh cewek,” ucap beberapa sahabat Saras suatu ketika. Karena tidak melihat dengan kepalanya sendiri, Saras berusaha menganggap selentingan kabar kalau Dimy sedang dekat dengan siswi baru pindahan dari Bandung itu adalah kabar burung semata. Memang, cewek itu sangat manis dan lembut. Rambutnya panjang bagai gadis iklan shampoo. Dan pintar menyanyi pula. Wajar saja banyak cowok-cowok yang menyukainya. Termasuk Dimy. Lagi pula, Saras paham sekali sifat Dimy. Jika ia mencoba bertanya, pasti ujung-ujungnya cowok itu akan marah dan mengeluarkan kalimat-kalimat yang menyakitkan hati. Jadi lebih baik ia diam saja, sambil menunggu perkembangan berita miring tersebut.
"Yank, pulang sekolah nanti kita ke rumah tante Melan, ya?" pinta Saras suatu hari, saat dia dan Dimy beristirahat di kantin.
"Emang lo ga bisa pergi sendirian?" balas Dimy agak ketus.
"Ya bisa. Tapi kalo lo mau nganterin, kan lebih bagus. Lagi pula kita sudah lama tidak kesana..."
"Hallahhh! Manja banget sih? Kaya anak kecil. Dewasa dikit kenapa?" hardik Dimy cepat.
"Sesekali lo bisalah ngambil keputusan untuk berangkat sendiri. Ga usah pake nanya gue segala. Gue pacar lo. Bukan sopir!" katanya bergerak bangkit dari kursinya.
"Dim, mau kemana?" panggil Saras cepat. Kesal melihat Dimy meninggalkannya begitu saja.
"Gue mo ke lapangan. Bosan berantem terus sama lo!" ujarnya ngeloyor pergi.
Saras terduduk dan menarik nafas panjang. Pacaran model apa ini, yang tiap ketemu, gak ada mesranya? Adu mulut terus tak ada habisnya.
*
__ADS_1
Ternyata, berita miring yang merebak di sekolah, bukan sekedar gosip lagi. Saras tak hanya mendengar. Tetapi dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat Dimy jalan dengan Deasy di swalayan. Dan semakin lama, semakin sering Saras memergoki kedua orang tersebut sedang berduaan, dan berbicara intim sekali di tempat-tempat tertentu di sekolah dengan Deasy. Saras merasa gerah dan tidak bisa lagi berdiam diri.
"Dim, kok lo keliatan akrab banget sama Deasy?" tanya Saras akhirnya, saat gadis itu mendatangi Dimy kerumahnya.
"Ya iyalah. Cewek itu asyik banget diajak ngobrol. Jujur aja, gue nyaman di dekatnya, " jawab Dimy seolah tidak mengerti hati Saras yang mulai tersakiti oleh sikap-sikap Dimy kepadanya.
"Tapi kan lo masih punya seseorang yang dekat sama lo. Gue, Dim. Hargain gue juga dong. Masa lo lebih memilih jalan sama cewek lain dari pada sama cewek lo sendiri?"
Dimy memandang Saras, seolah melihat sebuah barang bekas yang hendak dibuangnya. "Ras, setelah gue pikir-pikir … kayanya kita sudah gak cocok lagi deh. Banyak berantemnya dari pada mesranya. Lagian, lo kan sudah tertutup banget sekarang. Gue gak nyaman lagi jalan sama lo, Ras."
"Maksud lo?" tanya Saras mulai merasakan sesuatu yang tidak enak. Tiba-tiba dia merasa bagai mencium akan ada sebuah keputusan yang pasti menyakitinya.
"Maksud gue, dengan baju yang lo kenakan sekarang itu, otomatis membuat lo gak bisa lagi menemani gue ke diskotik, Ras! Jadi ... sepertinya hubungan kita gak bisa dilanjutin lagi. Kita sampai di sini saja, Ras," ucap Dimy bagai tak punya perasaan.
Sementara Saras menatap dengan mata memanas. Sesaat lagi, bendungan airmatanya pasti akan runtuh. "Dim, masih banyak tempat yang bisa kita datangi tanpa harus mempersoalkan pakaian gue. Jadi, alasan yang sebenarnya adalah Deasy, kan?”
"Hm ... iya Ras. Sorry banget ya, sepertinya gue jatuh cinta sama Deasy!" Dimy semakin tak punya hati dan perasaan.
Saras menatap dengan kecewa. Hatinya bukan terbuat dari batu. Dan rasanya sakit sekali diputus secara mendadak dan sepihak begitu. Tetapi Saras juga punya harga diri. Dia akan merasa sangat malu jika harus ngemis-ngemis meminta Dimy memikirkan kembali keputusannya. Jadi, saat cowo itu mengucapkan kata putus, Saras segera pulang, dengan membawa hatinya yang patah.
Dia masih mencintai Dimy. Bahkan sangat mencintainya. Walau selama ini cowok itu selalu menyakitinya, namun di dalam hatinya, ia berharap Dimy akan berubah menjadi sosok di awal perkenalannya dahulu, yaitu seorang pacar yang baik dan pengertian. Namun ternyata, kesabarannya menunggu perubahan sikap Dimy malah membuahkan hasil yang buruk. Dia didepak dengan cara yang amat kejam.
“Tuhan…” Saras menenggelamkan wajahnya ke bantal, dan menangisi hatinya perasaannya yang hancur. “Jika memang bukan dia, cabutlah seluruh rasa menyesatkan ini dari jiwaku. Agar aku kuat melangkah, sambil menegakkan hatiku yang telah patah.”
__ADS_1
*****