Kisah Anak-anak 17

Kisah Anak-anak 17
Dia telah pergi


__ADS_3

"Nani..." Aku bersuara lagi. Terdengar suaraku parau dan mendesis. Ya Tuhan, kenapa aku jadi seperti ini?


"Nani, kau..." Aku tidak tahu harus berkata apa. Air mata merebak deras, seakan berlomba untuk keluar dari mataku. Rasanya panas dan menyesakkan dada. Saat kugenggam tangan dingin gadis itu, ada rasa aneh yang menyusup masuk ke jiwaku.


"Nani...jangan..." lagi-lagi hanya sepotong itu saja kata-kataku yang mampu keluar. Lalu aku menoleh, "Tante...Nani..." ucapku seakan aku ingin mengatakan keadaan Nani kepada wanita yang tampak tenang di belakangku. 


"Nona," tiba-tiba kudengar tante Winda berbicara, "nasi goreng yang kamu berikan..."


DUG!! Jantungku bagai berhenti seketika. Nasi goreng itu...ya Tuhan! Aku telah...aku telah...


Aku menggeleng keras. langkahku surut. Aku mundur dalam kedukaan. lalu berlari bagai dikejar dosa.


"Nona, tunggu!"


Masih kudengar tante Winda, om Santoso, bahkan Gunadi memangil-manggil namaku. Tetapi aku tidak perduli. Yang kutahu adalah bahwa aku...aku telah membunuh Nani. Yang kurasa saat itu adalah bahwa aku sangat berdosa telah menyebabkan sahabatku sendiri meninggal dunia. 


Tuhan! Kenapa? Kenapa kau membiarkan aku menuruti permintaan Nani jika permintaan itu ternyata jalan untukmu mencabut nyawanya? kenapa mesti aku, Tuhan? Kenapa? Kenapa kau membiarkan aku melakukannya terhadap sahabat yang paling kusayangi, Tuhan? Kenapaa?? Aku panik. Aku kacau. Aku bereriak histeris seperti orang gila sambil berlari sepanjang koridor rumah sakit.


"TIDAAAAAAAAKKKKK.....!!!!!"


***


Perlahan mataku terbuka. Samar-samar, aku melihat langit-langit yang putih. Saat pandanganku beralih, aku melihat banyak orang yang sedang mengelilingiku. Baru kusadari kalau aku tengah terbaring di atas tempat tidur. Ada ayah, ibu, kedua kakakku, anak-anak kost ibu, Gunadi, dan kedua orang tua Nani. Mereka terlihat aneh. Aku berpikir, apa yang telah terjadi? Kenapa semua orang bisa berkumpul dan menatapku seakan aku adalah tontonan yang menyedihkan. Ada apa sebenarnya? Terakhir yang kuingat adalah aku sedang menyetop taksi, lalu tiba-tiba pandanganku gelap...


"Alhamdulillah. Ayah lega akhirnya kau siuman, nak. Sudah lebih tiga jam kau tidak sadarkan diri." terdengar suara ayah lembut dan nyaman. "Kami semua cemas, Nona."

__ADS_1


Aku masih terdiam dan bingung dengan keadaanku. Aku bahkan tidak tahu sedang berada dimana.


"Nona, kami akan keluar sebentar, ya. Karena tante Winda ingin bicara denganmu secara pribadi. Tapi kami akan segera menemanimu lagi. Kau harus mendengarkannya, ya sayang? " Ibu mengecup keningku.


Tidak iya, tidak juga tidak! Aku tidak menjawab apapun karena aku memang tidak berkutik. Kulihat semua orang menyingkir kecuali mamanya Nani.


Nani?! Nani...???


"Nona..." tiba-tiba terdengar suara tante Winda membuyarkan pikiranku. "Tante tahu kamu sangat terpukul dengan meninggalnya Nani. Sebagai orang tua, tante juga sangat...sangat bersedih. Tetapi kamu jangan lantas menyalahkan dirimu sendiri. Tidak ada yang salah. Kamu harus tahu, sudah semenjak sebulan yang lalu kami mengetahui batas usia Nani menurut diagnosa dokter. Sebenarnya Nani bukanlah menderita penyakit thyfus yang selama ini kamu ketahui. Itu hanya permintaan Nani agar kamu tidak mengkhawatirkannya. Yang sebenarnya adalah kanker darah. nani sudah mengindap penyakit berbahaya itu semanjak setahun belakangan ini. Jadi....sebenarnya kami telah lama ikhlas apapun yang terjadi pada Nani. Bahkan sekalipun tuhan mengambil nyawanya. kami sudah siap melepaskannya..."


Kanker darah? Aku menggeleng. Kembali air mataku merebak hebat, membanjiri mataku. Pandanganku mengabur dan aku bagai ingin menyusul Nani.


"Tentang nasi goreng yang kamu berikan, sama sekali bukan penyebab perginya Nani. Justru yang ingin tante sampaikan saat di kamar inap Nani adalah rasa terima kasih tante yang amat mendalam. Apa yang telah kamu lakukan, ternyata telah membuat Nani bahagia. Bukankah kamu melihat Nani tersenyum saat itu?"


"Apa yang telah kamu lakukan, ternyata yang terbaik untuk Nani. Yah, seandainya waktu bisa tante putar kebelakang kembali, rasanya tante ingin menuruti apa saja keinginan Nani. Bukan hanya nasi goreng. Percayalah Nona. Kamu adalah teman terbaiknya sampai di akhir hayatnya."


Aku mengangguk sambil sesengukan.


"Dan apabila kau mendengar hal-hal buruk tentang Nani, Maafkanlah. Ada hal-hal yang tidak perlu kita ketahui tentang orang lain, sekalipun dia adalah sahabat kita sendiri, kan?"


Sekali lagi aku mengangguk. 


Tante Winda tersenyum, "Ohya, ini ada surat kami temukan dibawah bantal Nani. Untukmu." wanita itu memberikan sepucuk surat kepadaku sebelum mencium keningku dan keluar.


Surat Nani tidak dapat kubaca saat itu juga. Karena tubuhku benar-benar lemas tak bertenaga. Namun setelah pagi menjelang, aku merasa kondisiku mulai membaik dan aku dapat kembali menggerakkan tubuhku. Dengan tangan gemetar dan dada berdebar keras, aku menbuka surat yang diam-diam ditulis Nani untukku.

__ADS_1


"Sahabatku, Nona Jennyta yang kusayang." begitu kalimat pertama yang ditulis Nani di suratnya. Seketika jantungku berdetak keras demi melihat tulisan itu. Berbeda sekali dengan tulisan-tulisan tangannya yang selama ini kuketahui. Tulisan itu sangat indah dan mengingatkan aku pada sesuatu....namun aku lupa...


"Maafkan aku karena pergi terlalu cepat dan tidak pula memberitahumu. Kau terlalu baik untuk mengetahui riwayat kesehatanku yang amat buruk. Terlebih aku sangat menyayangimu dan tak ingin hari-hari yang kulewati bersamamu penuh dengan kesedihan. Aku ingin berbahagia bersamamu. Itulah sebabnya menagapa aku menyembunyikan batas usiaku kepadamu. Lalu disaat aku melihatmu mulai tertarik pada seseorang, aku yakin kau pasti telah jatuh cinta. Kebetulan kaupun cerita kalau kau mengagumi Gunadi, ketua kelas kita. Aku ingin melihatmu bahagia, Nona. Aku melakukan apapun yang kubisa...tetapi ternyata caraku salah. Akulah yang mengirim kartu valentaine itu kepadamu. Sengaja aku menulis nama Gunadi, agar kau bahagia. Tetapi ternyata keadaannya malah terbalik, dan kau kecewa. Saat itu, akupun sangat kecewa dan menyesal banget, Non. Sungguh!


Aku mengeluh. Nani...


"Aku benar-benar tidak memikirkan efeknya terhadapmu. Kalau saja aku tahu Gunadi tidak memperlihatkan perasaan yang sama dengan yang kau rasakan....aku menyesal, Non. Sungguh. Aku mohon maaf ya? Aku terlalu lancang mempermainkan hatimu. Padahal aku hanya bermaksud baik. Padahal, kan bukan hanya Gunadi seorang laki-laki di muka bumi ini ya? Perbuatanku itu benar-benar keterlauan ya? Dan aku pantas mati karenanya.


"Nani! Tidak..." ucapku menangis.


"Nona, aku sangat berterima kasih atas nasi goreng yang kau berikan kepadaku. Enak banget dan aku sangat puas menikmatinya. Kau tentu masih ingat cita-cita besar kita saat makan di Joglo, kan? Jangan lupa ya, wujudkan cita-cita kita itu dengan atau tanpa diriku.


Aku menelan ludah seraya menyapu air mata. Aku masih ingat, Nani! bisikku kelu. Aku ingat saat itu kita bertekat untuk membuka restoran yang khusus menyediakan nasi goreng dengan cita rasa seluruh nusantara. Kalau perlu seluruh dunia. 


"Itu harus menjadi obsesi kita, ok?" suara Nani kembali membahana di benakku


"Nona, aku pergi dulu ya. Jagalah dirimu baik-baik. Jadilah seorang insinyur yang akan membangun negara kita menjadi lebih baik. Selamat tinggal, Nona. Aku akan selalu mengawasimu dari langit...heheheh. Dari sahabat yang selalu menyayangimu. Nani."


Aku terduduk, dan menatap tanah merah kuburan Nani di atas langit hitam. "Selamat jalan, Nan. Aku juga sangat menyayangimu dan takkan pernah melupakanmu." ucapku kelam. Udara pagi yang berkabut dan mendung yang menggantung, membuatku terpaku. "Selamat Valentine."


Sebuah sentuhan dibahuku membuatku menoleh. Gunadi.


"Ayo kita pulang, Non. Hari akan hujan, Nanti kamu bisa sakit." ucapnya meraih tanganku.


Aku mengangguk. Berdua dengan Gunadi, aku akan mulai melewati hari-hariku tanpa Nani. Tetapi semua takkan sama, sekalipun cinta kini tengah menggelayut ditanganku.

__ADS_1


__ADS_2