Kisah Anak-anak 17

Kisah Anak-anak 17
Kepribadian ganda


__ADS_3

Aku memandang Nani penuh selidik, "Emang kenapa?"


"Istrinya sakit. Dan pingin dibeliin coklat. Tetapi si suami menolak membelikan karena si istri memang harus diet keras terhadap gula. Maklumlah, diabetes. Nah, tau apa yang terjadi?"


"Hm?"


"Si istri meninggal dunia karena kecewa. Bukan karena penyakitnya!"


"Hus! Ceritamu kok horor bnget sih, Nan?" runtukku cepat sambil merinding, "ya deh! Aku beliin. Tapi kalo ntar penyakitmu kumat lagi, tanggung sendiri, ya?"


Nani tersnyum senang, "Gitu dong dari tadi. Lagian kalo kau bisa menanggung penyakitku, udah kupindahkan banyak-banya sedari tadi...heheheh."


Aku hanya tersenyum mendengar lelucon Nani yang tak lucu itu!


***


Aku dan Nani sudah bersahabat semenjak kami di sekolah menengah pertama. Bagiku, Nani sudah seperti saudara sendiri. Bukan lagi sekedar sahabat baik. Segalanya hampir kami lakukan bersama. Main, makan, belajar, hampir semua aktifitas di sekolah maupun di rumah kami lakukan bersama. Nani sering membantuku dalam hal mode pakaian dan berkepribadian. Sementara aku sering membantunya dalam hal pelajaran. Hobi kami berbeda, sikap dan sifat kami juga jauh berbeda, tetapi kami menemukan kecocokan satu sama lain. Nani enak untuk di ajak curhat. Tidak seperti aku, yang kaku dan kurang pergaulan. Nani juga seorang gadis yang super ceria dan penuh semangat. Ia tidak pernah terlihat sedih atau lelah. Selain itu, Nani juga cantik dan supel. Makanya tak heran kalau Nani disukai banyak orang, termasuk Gunadi. Lalu suatu ketika, tiba-tiba saja Nani jatuh pingsan saat upacara bendera dua minggu yang lalu. Ternyata magh yang diderita Nani sudah mengalami perdangan dan akhirnya menyerempet ke thyfus. Aku sendiri hampir tidak percaya ternyata tubuh yang tampak sehat dan segar bugar itu menyimpan segudang penyakit. Padahal aku tahu banget Nani tidak pernah telat makan. Tidak pernah keluar malam...


"Aku seperti pernah melihatnya di Shangri-la, pagi dini hari. Mulanya aku gak percaya. Tetapi setelah kuamati, ternyata benar. Temanmu Nani." ujar Mbak Yun, saat kuceritakan kalau Nani masuk rumah sakit.


Aku menggeleng. Aku tak percaya dengan ucapan Mbak Yun. Kakakku itu kan matanya rabun. Bisa jadi dia salah lihat. Mana mungkin Nani berada di hotel sampai pagi dini hari pula? Benar-benar gak masuk akal.

__ADS_1


"Gile! Gue gak nyangka ketemu Nani disono!" seru Roy, playboy kelas kakap yang kerjanya disko sana-sini.


Lagi-lagi aku tak percaya. Bisa saja Roy kesal karena Nani menolak cintanya lalu memburuk-burukan Nani. Roy kan jahat! Semua cewek di sekolah selalu diganggunya. Tetapi semua itu tidak sampai disitu. Aku mendapat kabar kalau Nani juga suka menghabiskan malam di cafe-cafe dan nite club! Aduh, yang benar saja? pikirku geli. Bahkan setelah mendapatkan banyak komentar-komentar bernada sumbang yang sama, yang mengdiskreditkan Nani, aku masih tidak mau mempercayainya. Masa iya sih kalau Nani suka nongkrong di diskotik dan cafe-cafe sampai dini hari? Itu mustahil! Aku tidak percaya! Aku mengenal Nani semenjak SMP. Aku paham banget seperti apa Nani. Aku hapal semua kesukaan dan kegiatannya. Aku kenal jiwanya. Dan Nani bukan jenis cewek seperti yang mereka katakan. Diskotik? mencium aroma rokok saja, Nani terbatuk-batuk!


"Nona kan bersama Nani hanya di siang hari saja. Atau paling lama sampai jam 10 malam. Setelah itu, apa kegiatan orang lain, kita kan gak pernah tahu, sayang." demikian Ibu memberi tanggapannya, ketika mendapati aku mengomel tak tentu arah karena marah sahabat baikku menjadi perbincangan orang banyak.


Tetapi apa yang katakan ibu, ada benarnya juga. Tapi...ah, tidak! Pokoknya tidak! Aku tidak percaya Nani melakukan semua itu. Mustahil! Tidak akan pernah masuk di akalku!


"Kau takkan percaya karena Nani adalah sahabatmu, Nona. Dan kau amat menyayanginya. jadi apapun pendapat buruk orang lain terhadap Nani, kau akan menolaknya." ujar Mbak Ndari, kakakku yang kuliah di keguruan. Aku pernah dengar, di keguruan, masiswanya juga diajarkan ilmu jiwa dan psikologi, walaupun tidak mendetail. Jadi wajar saja Mbak Ndari dapat menilaiku seperti itu.


"Atau..."


"Atau apa, Mbak?" tanyaku kecut. Dari wajah Mbak Ndari saja aku tahu apa yang hendak disampaikannya adalah sesuatu yang buruk.


"A..apa? Apa artinya itu?" tanyaku mengigil. Pasti artinya jelek.


Mbak Ndari menarik nafas berat, "Pada umumnya, manusia hanya memiliki satu saja kepribadian. Semacam sifat. Sekarang atau nanti, siang atau malam, sifatnya sama saja. Tetapi orang yang memiliki dua kepribadian adalah orang yang berubah-ubah sifat. Dan itu terkadang tidak ia sadari."


Aku menelan ludah, "Maksudnya?"


"Yah, siapa tahu Nani seperti itu. Dia berkepribadian ganda. Nani yang kau kenal adalah gadis yang baik dan ceria. Tetapi disaat terentu, pribadinya yang lain masuk dan ia menjelma menjadi sosok gadis yang liar dan nakal. Tetapi itu hanya masih dugaan Mbak saja. Kamu tidak harus percaya, Non."

__ADS_1


Aku benar-benar terpuruk mendengar jawaban Mbak Ndari. Tetapi benar juga. Apakah Nani memang seperti itu? Memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang dan aku sama sekali tidak mengenal sosoknya yang lain itu?


"Hai, Gun! Kamu disini?" sapaku kaget saat melihat cowok itu berada di luar kamar rawat inap Nani yang sedang tertutup rapat.


"Iya. Tadi ada telepon dari rumah sakit ke sekolah mencarimu. Tetapi karena kamu tidak hadir, aku yang datang kemari." jawab cowok itu datar. "Gak berkeberatan, kan?"


"Sudah lama?" tanyaku tidak perduli dengan pertanyaan cowok itu. Bagiku, telepon ke sekolah untuk mencariku adalah hal yang penting. Ada apa ya? Apakah Nani...


"Baru sepuluh menitan deh...."


"Hm, kalo gitu, ngapain berdiri disini? Ayo masuk kita jenguk Nani barengan aja. Dia pasti suka melihat kita..."


"Tapi hanya kamu, Non. Bukan aku yang diminta datang kemari."


"Iya, paham. Tapi siapapun kan boleh saja menjenguk Nani."


Gunadi hendak menjawab saat tiba-tiba pintu kamar inap Nani terkuak lebar. Mula-mula yang kulihat adalah dua orang suster yang keluar. Lalu dokter dan terakhir adalah om Santoso, papa Nani. Aku melihat semua wajah-wajah orang dewasa itu aneh. Seperti kehilangan cahaya. Mendadak jiwaku bergetar sakit. Segera aku menerjang pintu kamar tempat Nani dirawat. Di dalam, kulihat seorang wanita, tante Winda, mama Nani tengah terpaku menatap putrinya.


"Tant..." aku benar-benar ingin menyapa wanita itu. Tetapi suaraku nyaris tidak dapat keluar. Tenggorokanku bagai tersekat. Dan tiba-tiba kakiku serasa lemas tak bertenaga.


"Nani? Oh Tidak! Nani! NANI..!!!" Aku berteriak keras sekali. Tetapi lagi-lagi yang terdengar adalah suara hatiku sendiri. Mulutku seperti menempel dan terkunci rapat. Aku tak perduli. Susah payah kuseret langkahku menuju tempat tidur dimana sahabatku Nani terbaring. Dan akhirnya kulihat ia, Nani, tampak terbujur kaku di atas tempat tidurnya. Ia terlihat putih pucat, dengan senyum tipis di bibirnya, tanpa menatapku.

__ADS_1


***


__ADS_2