
Liburan semester perdana sudah usai dua bulan yang lalu. Kini para mahasiswa sudah kembali sibuk di kampusnya. Demikian juga aku. Saat itu, aku sedang menikmati masakan Cina kegemaranku. Mendadak tiga gadis cantik, seksi, dan beraroma harum sudah berdiri di depan mejaku. Mau tak mau aku terpaksa menghentikan kegiatanku, dan memandang wajah mereka satu persatu yang tampak serius.
“Ladies, what can I do for you?” tanyaku kaku.
“Apa ini? Gak punya rasa sopan sama sekali. Seharusnya kau mempersilahkan kami duduk terlebih dahulu, baru kemudian bertanya!” kata si gadis berambut coklat tua dengan nada tinggi.
Aku tersenyum, “Maaf. Well, silahkan duduk.” Ucapku seraya berdiri dan menunjukkan kursi kepada gadis-gadis tersebut, “perlu kupesankan minuman? Biar kupanggil Lee…”
“Tak perlu, Rick!” Segera gadis lain yang bermata biru indah memenggal kalimatku, “Waktu kami sempit.jadi kami hanya perlu menyampaikan inti permasalahannya saja.”
“Baiklah. Silahkan. Aku akan mendengarkan.” Aku mengangguk wibawa.
“Ini tentang Liz.”
“Liz?” aku mengerutkan kening.
“Elizabeth Grey. Masa kau tak kenal? Dia pernah ikut rombonganmu saat pentas sastra sebelum liburan kemarin.” Ujar si rambut coklat lagi.biasa. dengan nada ketus.
“Tifany! Jangan suka galak begitu dong.” Si mata biru lebih bijaksana. “Maaf Rick. Teman kita ini sedang terserang penyakit darah tinggi beberapa hari belakangan ini, sejak…”
“Sejak mengenal Liz.”
“Ya…” si mata biru mengangguk, “kamu saja yang menyamaikan hal ini, Barb.”
Gadis terakhir, yang sedari tadi berdiam diri saja itu segera menggeleng.
“Kenapa?” tanya si mata biru.
“Kau tahu, aku tidak pandai ngomong…”
“Itu sebab dia gampang ketipu oleh Liz!” sergah Tifany cepat.
“Tif!” sentak si mata biru cepat.
“Oke! Aku diam!” si rambut coklat melipat tangannya.
__ADS_1
Si mata biru memandangku, “maaf, Rick. Apa kami membingungkanmu?”
Aku tersenyum, “Kalian rupanya sedang tidak senang dengan Elizabeth Grey, ya?”
“No, Rick!” gadis itu menggeleng, “kami bukan tidak senang dengannya. Dia teman kami,kok. Dan kami mempercayainya. Tetapi ntah mengapa, rasanya belakangan ini tingkahnya…hm, agak aneh dan …”
“Kita harus segera latihan, Julie. Sampaikan saja tanpa basa-basi!” ucap Tifany tak sabar.
“Bagaimana kalau Tifany saja yang mengatakannya? Setuju?” usulku yang segera disetujui semua pihak.
Tifany, si gadis berambut coklat memandangku, “Liz sungguh menyebalkan! Dia mengambil beberapa barang-barang kami yang kami titipkan kepadanya. Awalnya hanya barang-barang sepele. Pulpen, gantungan kunci. Lalu lama-lama kami kehilangan pakaian, rompi, bahkan jaket. Barbara bahkan kecurian bros emasnya. Saat kami bertanya soal itu, apa jawab Liz? ‘Ups…sorry. Aku terlalu sibuk untuk mengetahui barang-barang kalian lengkap atau tidak.’ Sungguh keterlaluan, kan? Lama-lama kami bisa jatuh miskin gara-gara dia. Untuk itulah kenapa kami mendatangimu.”
“Sepertinya aku mengerti.” Aku bersandar, mencoba untuk bersikap bijaksana, “tapi apa kalian yakin kalau Liz lah yang mengambil barang-barang kalian itu? Bisa saja ada orang lain yang mungkin memanfaatkan situasi ini. Atau…”
“Kami yakin sekali, Rick! Siapa lagi, coba? Barang-barang itu kan hilangnya saat ada di tangannya.”
Aku mengangguk-angguk mencoba memahami, “ok. Tapi kenapa aku?”
“Karena dia mengagumimu, Rick.” Jawab Julie membingungkanku.
“Mengagumiku?”
“Tif!”
“Baiklah.” Aku mengangguk, “aku tidak tahu darimana kalian bisa mendapat kesimpulan kalau Liz mengagumiku. Well, memang, ada yang mengatakan padaku kalau gadis itu memuji-mujiku. Tetapi kan biasa seorang artis memuji sutradaranya. Hm…begitupun,jika kalian memang menginginkan aku bicara dengannya, baiklah. Aku akan bicara padanya. Tetapi aku tidak menjanjikan apapun untuk kalian. Just talking to her.”
“You have to, Ricko! Jangan biarkan ada seorang pencuri berkeliaran di kampus kita!” sela Tifany cepat.
“Hei! Jangan dulu sebut dia seorang pencuri sebelum ada buktinya, oke?” tanyaku seraya bangkit dari tempat dudukku. Spontan ketiga gadis cantik di hadapanku juga turut berdiri. Lalu tiba-tiba Julie menyentuh pundakku pelan.
“Kita sama-sama tahu, Rick. Jika permasalahan ini sampai terdengar oleh yayasan, akan buruk akibatnya pada Liz. Dia biasa dikeluarkan dari kampus. Kau pasti tak menginginkannya kan? Kami juga. Makanya kau harus bicara padanya.”
“Aku janji akan bicara.” Ucapku pasti.
Julie tersenyum, “dan tenang, Rick! Kami akan membayar usahamu, kok.”
__ADS_1
“What?” aku terperangah dengan janji gadis itu.
Tetapi Julie hanya tersenyum, lalu melangkah pergi.demikian juga Tifany.
“Semoga sukses.” Terdengar suara Barbara mengakhiri pertemuan kami.
Aku kembali terduduk. Kepergian ketiga gadis tadi turut serta membawa selera makanku. Kini aku malah berpikir panjang tentang Elizabeth Grey.
Elizabeth Grey. Sebenarnya sebuah nama yang tidak pernah kupikirkan. Namun benar, aku telah mengenalnya beberapa bulan yang lalu. Seorang gadis berambut pirang panjang tergerai yang sangat tertarik dengan kesusastraan. Dari sahabatku Grace, aku memang pernah mendengar gadis itu memujaku. Kurasa, ia hanya memuja karyaku. Bukan aku.
*
Siang, ketika aku menyimpan buku di loker kampus, kulihat rencanaku yang pertama tengah berjalan. Grace sedang menguras keringatnya untuk menjajari langkah Liz. Gadis itu tegang, sementara Liz memperlihatkan wajah jengkelnya.
“Kau luhat tadi, kan Liz? Kau lihat semua orang mulai mencibirmu.” Ujar Grace setengah berteriak.
“Aku sudah bilang, aku tidak perduli dengan mereka semua. Mereka tahu apa? Sudahlah. Jangan ganggu aku dengan pertanyaan-pertanyaan bodohmu itu!” kecam Liz tajam.
“Aku tidak ingin mengganggumu, Liz. Aku hanya tidak ingin kau mendapat masalah.”
“Grace…”
“Liz! Dengarkan aku. Jika yayasan sampai mengetahui …”
Elizabeth menghentikan langkahnya, “aku paham, Grace. Sudahlah. Lagi pula kenapa kau yang repot? Aku sudah lebih 17 tahun. jadi aku bisa bertanggung jawab atas diriku sendiri. Oke?”
Grace bingung, “Liz, kau akan sendirian jika kau tidak mau mendengarkan orang lain!” ucapnya disela-sela langkah Liz yang menjauhinya.
Aku yang sedari tadi berada tidak jauh dari kedua gadis itu hanya menghela nafas. Lalu melangkah mendekati Grace. “Aku sudah mendengar semuanya. Ayo ke kantin. Aku akn mentraktirmu es krim.”
Grace tampak terhibur. Gadis itu, dalam keadaan sekesal apapun, kalau sudah dihadapkan dengan es krim, pasti akan lumer dan akhirnya menyeringai.
“Terus terang, Rick. Sebenarnya aku ini bukan temannya. Aku hanya lawan bicaranya yang kebetulan sudah mengenalnya semenjak SMP. Dan Liz tetaplah Liz. Tetap sulit dipahami. Semua. Semua sepak terjangnya aneh. Pernah minggat dari rumah. Menjual motornya dengn hrga yang sangat murah. Bahkan melukai dirinya sendiri. Liz itu…anhe, Rick. Jiwanya mengerikan.” Jelas Grace sambil mengaduk-aduk es krimnya yang sudah mencair.
“Aku paham. Thanks ya atas bantuanmu tadi.” Ucapku tulus.
__ADS_1
“You are wellcome, Rick.” Jawab Grace tersenyum, “Aku sih senang kalo kau mau mendekatinya. Bicara padanya. Tapi jangan heran bila manusia seperti Liz jenis yang tidak mau didekati oleh siapapun.”
*****