Kisah Anak-anak 17

Kisah Anak-anak 17
Angel


__ADS_3

Aku menghapus keringat di ujung hidungku, “sebenarnya, aku tidak tahu apapun tentang Liz.”


Grace menatapku, “Soal dia mengambil barang-barang orang lain?”gumamnya lamat-lamat, “setahuku, sejak SMP dia memang sudah sering menghabisi barang-barangnya….ehm, maksudku menjualnya.”


“Apa dia kesulitan keuangan?”


“What? Ayahnya pengusaha real estate, you know!”


“Berarti kurang mendapat perhatian dari orang tau.”


“Maybe.” Grace angkat bahu. “Dia anak tunggal. Ibunya sudah lama meninggal dunia. Sementara ayahnya terlalu sibuk dan otoriter. Namun begitu, sepertinya Liz tidak pernah kesulitan keuangan. Jadi kurasa…dia sakit jiwa.”


“Maksudmu klepto? Pengutil?”


Grace mengangguk.


Aku ikutan mengangguk, “Dimana aku bisa menemuinya?”


“Aku tidak tahu, Rick. Dia bisa berada dimana saja. Di jalanan juga. Tapi aku bisa memberimu alamat rumahnya jika kau memerlukannya. Merpati kan selalu pulang ke kandang,ya?”


“Kau benar sekali, Grace.” Jawabku tersenyum. Lalu menjabat tangan gadis itu dengan erat. Grace hanya kembali tersenyum.


*


Laporan jurnalistik yang harus kuserahkan hari ini juga membuatku bingung setengah hidup. Pasalnya....tentu saja karena belum selesai. Makanya, terpaksa aku buru-buru menyelesaikannya disela-sela jam makan siangku. Tetapi tiba-tiba saja, sebuah gebrakan keras meluncur di mejaku yang hampir saja membuatku melompat dari kursi sakin kagetnya. Ternyata gebrakan itu berasal dari sebuah tape recorder kecil yang dilempar ke mejaku oleh....


"Liz!..." seruku spontan.


"Brengsek! Kau memperalatku, Rick!" terdengar suara gadis itu bagaikan guntur membelah langit. Matanya mendelik besar dengan sinar hijau menyala-nyala menatapku.


"Liz, kamu..."


"Aku sudah tahu apa rencanamu, Rick! Tetapi cukuplah sampai disini. Sebab aku tidak mau lagi melihat mukamu!" teriaknya dan langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah memerah karen marah.

__ADS_1


Aku ingin menyusul gadis itu. Ingin mempertanyakan kenapa dia datang-datang dalam keadaan marah. Tetapi tape recorder yang ada di atas meja membuat gerakanku terhenti. Lalu saat melihat gantungan kunci yang terbuat dari emas putih dengan beberapa berlian menghiasinya, membuatku sadar. Aku tahu apa yang membuat Liz marah besar terhadapku. Aku jadi teringat dengan percakapanku dengan Joe, beberapa hari yang lalu.


"Sebenarnya apa yang kau cari itu gampang, Rick, gak mesti keliling dunia lah!" ujar cowok itu santai.


"Nyatanya memang sulit." grutuku kesal, "Sudah dua hari aku keluar masuk toko, tetapi tetap saja aku tidak mendapatkan barang yang cocok.


Joe tersenyum, "Sulit atau bodoh? Kau ingat Jeff?Aku selalau menitip tape recorderku padanya untuk mengikuti mata kuliah yang tak dapat aku ikuti. Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama?"


"Ck! Berapa sih harga sebuah tape recorder?"


Joe melotot, "Bukan tapenya, tapi gantungan kuncinya. Kau harus memasang gantungan kunci yang mahal dan membuat siapapun yang melihatnya tertarik. Termasuk pencuri yang ingin kau jebak ini. Yakin deh!"


Aku merasa apa yang dikatakan Joe masuk akal. Makanyanya aku langsung mengangguk senang.


"By the way, siapa gadis yang ingin kau jebak itu, Rick?" tanya Joe dengan tampang penasaran.


Aku buru-buru menggeleng, "Itu gak adil, Joe. Aku melakukan ini bukan untuk mempermainkannya. Justru untuk membantunya. Oke. Thaanks atas isi kepalamu yang lumayan celaka ini. Aku cabut dulu."


Sungguh aku juga tidak mengerti mengapa aku begitu berani berkorban untuk sebuah rencana yang belum tentu berhasil.


Dan nyatanya memang tidak berhasil. Belum sampai 3 hari, gadis itu sudah muncul tepat di depan hidungku dengan mengetahui seluruh rencanaku. Bahkan Liz juga tahu dimana tempatku nongkrong untuk menghabiskan waktu.


"Rick..." seseorang menepuk pundakku.


Aku menoleh, “Lee?” sahutku sedikit terkejut. Entah sudah berapa lama aku melamun hingga kedatangan Lee tidak kusadari. Sementara itu si pelayan restoran Cina itu hanya tersenyum lebar padaku.


“Aku melihat gadis manis itu marah kepadamu. Dan kau hanya diam saja?” tanya Lee menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hanya manyun sambil menggaruk-garuk kepala.


“Well…” ucapku menggantung sambil menggaruk-garuk belakang telingaku yang tidak gatal.


“Dengar, Rick. Nenekku bilang, kalau seorang gadis marah padamu, bersikaplah kesatria. Kejar dia. Bawa seikat kembang dan berjuta kata maaf sampai dia bosan sendiri. Kenapa kau tidak meniru tips dari nenekku itu?”


“Apa kau sudah pernah melakukannya?” tanyaku balik bertanya.

__ADS_1


Lee menyeringar, “ternyata teori memang lebih gampang dari pada praktiknya.”


Aku tergelak, “apa nenekmu juga punya tips untuk mencari tempat gadis pemarah itu biasa berada? Soalnya gadis ini sulit ditemui. Puas aku mondar-mandir di depan rumahnya yang selalu kosong itu.” ujarku pada cowok Asia yang ramah tersebut.


Lee tertawa sampai matanya yang cipit itu menjelma menjadi sebuah garis melengkung saja, “kemana saja kau selama ini? Kenapa kau bisa tidak mengenal si aktivis kampus Elizabeth Grey?”


“Kau kenal baik sama dia?”


Lee menggeleng, “gak juga sih. Aku hanya tahu perkembangannya dalam mengikuti beberapa aktifitas kampus yang peminatnya sedikit. Tapi kalau kau bertanya dimana ia selalu menghabiskan waktunya, kau pasti akan terkejut. Tiap pulang kerja, aku sering melihatnya di Overbrouck.”


“Overbrouck? Ngapain dia di perumahan Ngero itu?” tanyaku tak percaya.


Lee langsung menatapku serius, “apa bedanya kalau aku mengatakan dia sering berada di China Town?” tanyanya seraya meninggalkanku.


Aku menghela nafas. Paham kenapa tiba-tiba Lee menjadi tersinggung atas pertanyaanku. Padahal aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung-nyinggung soal kaum mayoritas atau minoritas. Aku bahkan paling anti memperbincangkan hal-hal yang menyinggung SARA. Tadi itu aku hanya benar-benar terkejut dan hampir tak percaya dengan jawaban Lee. Aku tahu sekali dimana Overbrouck itu. Daerah itu adalah kompleks perumahan kulit hitam yang kumuh, dengan bangunan rumah-rumah yang berantakan, rapat, dan kotor. Lima tahun yang lalu adalah pertama sekali aku kesasar dan tahu-tahu aku terpaksa melewati jalanan sempit di daerah itu. Suasananya kacau dan bising. Anak-anak dan para pemudanya berkeliaran dan bersikap seperti preman. Sesama mereka bahkan berkelahi dan saling menyakiti. Aku merasa terancam saat melalui tempat itu dan bertekat tidak akan melewatinya lagi seumur hidupku. Namun yang menjadi pertanyaan besarku adalah untuk apa si kulit putih Elizabeth Grey berada di tempat itu? Apa memang benar yang dikatakan Grace bahwa Liz mengalami gangguan jiwa? Terus apakah aku harus melanggar janjiku sendiri dan kembali ketempat mengerikan itu?


“Angel?” tanya seorang penjual koran padaku, saat aku bertanya dimana keberadaan Liz.


“Bukan. Tapi Elizabeth Grey. Gadis muda, ramping, rambut pirang panjang, dan…”


“Ya! Dia Angel!” ujar negro penjual koran tersebut dengan yakin. Lalu matanya yang hitam legam menatapku curiga, “kau bertanya soal Angel. Kenapa? Apa urusanmu dengannya? Siapa kau?”


“Jangan curiga dulu.” Ucapku cepat sebelum aku kena serangan dari pria negro tersebut, padahal aku tidak bermaksud jahat. ”Namaku Ricko. Aku temannya. Teman satu kampusnya. Aku hanya ingin bertemu dengannya.”


“Begitu?” mendadak pandang mata pria tua itu berubah menjadi cemas. Itu sungguh aneh dimataku, “Ada apa dengan Angel? Dia baik-baik saja kan?”


“Oh iya. Dia baik-baik saja. Aku hanya ingin…hm, memberikan tugas kuliah padanya.” Ucapku berbohong. Semoga saja alasanku itu masuk ke akal pria tua tersebut.


“Oh, baguslah kalau Angel baik-baik saja.” Ucap pria itu lega, “Jika kau memang bermaksud baik, kau dapat menemuinya di ujung jalan ini. Disana ada sebuah gudang kosong. Angel selalu disana bersama anak-anaknya. Jangan lupa, sampaikan salam saya padanya. Pak Jhonshon. Ok?”


“Baiklah pak. Terima kasih.” Ucapku seraya mengikuti sarannya untuk terus melangkah menuju ujung jalan tersebut.


*****

__ADS_1


__ADS_2