Kisah Anak-anak 17

Kisah Anak-anak 17
Asty


__ADS_3

ASTY


By. Lindsay Lov' Danishadewa


Makan malam dengan Asty kali ini, agak berbeda. Bukan apa-apa. Biasanya, dia yang selalu menentukan cafe mana yang akan kami datangi. Dia memang selalu update soal spot-spot tempat makan terbaru dengan view yang menarik. Yang Instagramable deh istilahnya. Jelas aja, Asty memang hobi makan dan photografi. Namun malam ini, dia ingin aku yang menentukan kemana kami akan makan malam ini. So ... Karena pengetahuanku sangat minim soal resto dan cafe yang gaul, maka aku mencarinya di Gugel.


Akhirnya ... kami pun bertemu, cipika cipiki dan makan sambil mengobrol dari A sampai Z. Dari perbincangan ringan sampai berat banget hingga akhirnya kami harus ke toilet.


"Minum kopi berapa gelas, Lo?" tanya Asty seraya masuk ke salah satu toilet yang berjejer di dalam restroom.


"Entahlah. Mungkin 3 atau 4 gelas," jawabku sambil masuk ke toilet di sebelah Asty.


"Dasar penggila kopi!" maki Asty tergelak.


"Hei, tahu gak, kalo semua uang gue untuk beli kopi selama ini balik lagi ke gue, apa yang bakal gue beli?"


"Apa dong?"


"Kopi dong ... Hahahah!"


"Dasar!"


"As, lo ingat gak waktu gue bilang gue pernah jauh-jauh ampe ke Sukabumi hanya untuk beli kopi? Waktu itu kan Lo nanya gue pergi ke sana sama siapa, kan? Nih, gue kasih tahu. Gue pegi bareng Malvin, sepupu Lo ... Hahahah."


Asty tak menjawab. Tak terdengar juga tawanya atau makiannya, mengingat dia selalu melarangku jalan sama sepupunya yang rada playboy.

__ADS_1


"As?" panggilku.


Tetap tak ada jawaban.


"As, Lo masih di toilet?" tanyaku penasaran. Aku membungkuk dan melihat dari kolong dinding toilet. Mestinya aku bisa melihat kaki Asty. Tapi ternyata aku tak melihat siapa-siapa. Buru-buru aku kelarin urusan dalam negeri tersebut untuk mencari Asty.


"Asty, lo di mana?" teriakku sedikit tertahan. Restroom kosong. Toilet tempat Asty tadi juga kosong. Hanya ada aku sendiri di sana. Ya, ampun! Masa Asty ninggalin aku mendadak begini? Tega bener tuh anak!


Aku langsung kembali ke meja tempatku makan bersama Asty tadi. Di sana, kulihat hanya ada 1 piring bekas makanku, 3 gelas kopiku dan piring-piring kecil tempat cemilan. Semuanya pesanku. Kemana bekas-bekas pesanan Asty? Kalau gak salah, tadi Asty memesan nasi goreng dan es teh. Dua favoritnya kalau makan di luar.


Buru-buru kuambil ponsel di tas untuk menelepon Asty. Pasti tuh anak sedang ngerjain gue. Ngeprank gue. Dikira gue bakal takut, gitu? Atau jadi gila karena berpikir mengalami halusinasi, gitu?


Asty ... Asty ... Mana nomor Asty? Ih, ya, ampun! Bahkan di riwayat panggilanku gak ada nama Asty. Padahal jelas-jelas kami janji ketemu di sini yah ngobrolnya di ponsel.


"As! Kok Lo ninggalin gue? Gak ada ahlak, emang!" tembakku langsung begitu ponsel Asty tersambung.


"Eh, ini siapa? Malvin?"


"Iya, Lin. Apa kabar, Lin?"


Malvin benar-benar panjang umur. Barusan aku nyebut dia tadi di toilet. Selama ini dia tinggal di luar kota. "Kabar baik, Vin. Eh, Lo lagi di rumah Asty? Sudah lama?"


"Lumayan. Satu Minggu."


"Sudah selama itu, tapi Asty kok gak cerita ya? Eh, panggilan Asty, Vin. Bisa-bisanya dia ninggalin gue di cafe sendirian!"

__ADS_1


"Asty?" Malvin diam sejenak. "Lo di cafe mana, Lin? Biar gue jemput!"


"Panggilin Asty dulu dah. Gue mo marah nih."


"Lin, Lo beneran gak sedang sakit, kan? Agak demam, barangkali."


"Yaiyalah, Vin. Gue sehat-sehat aja. Sehat banget, malah. Saking sehatnya ampe mau meledak nih."


"Hehehe ... Maksud gue, kok Lo nanyain Asty lagi? Kita semua kan sama-sama tahu kalo Asty sudah ... sudah ...."


"Sudah apa, Vin? Sudah apa?" teriakku tertahan. "Vin? Halo? Halo, Vin?"


Ah, sial! Ponselku mati kehabisan batre!


"Tagihannya, Mbak," seorang pelayan memberi tagihan makananku. Aku langsung berdiri.


"Mbak, tadi aku datang bersama temanku. Tapi ...." Aku bahkan bingung menjelaskan kepada pelayan tersebut kalau rasa-rasanya aku sedang diprank teman sendiri.


"Gak mungkin, Mbak," jawab pelayan tersebut membuat keningku mengerut.


"Gak mungkin ... Kenapa?"


"Ini cafe single, Mbak. Semua yang datang ke sini sendirian. Lihat saja ...," Pelayan tersebut mengedarkan pandangannya dengan harapan aku melihat ke seluruh ruangan. Ternyata benar, semua yang datang sendirian. Bahkan meja-meja diatur sedemikian rupa dengan 1 meja dan kursi. Termasuk meja dan kursiku.


"Tapi ...," aku gak ngerti. Jelas-jelas tadi aku datang bersama Asty. Ngobrol ngalor ngidul bahkan mungkin sampai hampir 2 jam sebelum kami sama-sama ke toilet. Kenapa tiba-tiba aku bisa terdampar di cafe single?

__ADS_1


"Tadi juga Mbaknya datang sendirian, kok," ujar si pelayan membuat kepalaku langsung puyeng.


__ADS_2