
Kisah ini, tentang Neo Romeo n Juliet
Once upon a time, lagi asik-asiknya baca majalah, sebuah benda berbulu ayam, mendarat hebat di jidat Zulie. Rasanya kaya di jitak! Sudah tiga kali untuk sorenya yang rusak. Darahnya mendidih. Si Andrew itu emang belagu amat! Mentang-mentang baru pulang dari Amrik, gayanya kaya artis Hollywood. Dengan perasaan dongkol, Zulie bangkit dan melangkah menuju sasaran. Di balik pagar, tampak olehnya dua cowok cengar-cengir memandangnya.
Sorry lagi ya? terdengar suara si kaos oblong sambil menggaruk-garuk kepalanya, Itu salah dia, kok.
Aku? si kaos buntung mendelik, Oh, iya deh. Tadi itu salah pukul. Sorry. Kamu tidak apa-apa kan? Jangan marah ya? Bisa gak bolanya dikembaliin?”
Zulie melotot, sampai bola matanya hampir keluar. Dikembalikan? Enak banget. Belum pernah ada orang yang tidak apa-apa setelah dijitak bola sampai tiga kali dalam kurun waktu sejam! Maka dengan kesal, dicabutinya bulu ayam satlecock tersebut satu persatu, membuat kedua makhluk berkaos tadi terkesimah. Mereka memandang, terpatung dan tersadar saat Zulie melempar sisa akhir berupa bantalan gabus.
“Jadi itu cewek yang mulai merusak hidup lo? Tanya Boy, si kaos oblong beberapa saat setelah Zulie menghilang dari pandangan mereka.
Andrew, si kaos buntung mengeluh, Abis service lo payah! Bola gue ya out terus.”
Emang gue lebih berminat sama bola kaki. Boy menyeringai, Tapi cakep juga.
“Si penyihir itu?”
Yup. Boy menenggak minuman dinginnya.
Beautiful enchanter? No way! Andrew mengelap keringatnya dengan handuk kecil dan duduk sambil menaikkan kaki ke meja, Cewek berkarakter kasar gak mungkin masuk katagori cantik. Dan gue paling anti sama cewek yang kejam terhadap bola.
Jangan emosi dulu, man. Lain kali lihat baik-baik. Tuh cewek original banget. Wajahnya mulus tanpa polesan. Beda banget sama cewek-cewek di kampus.
Andrew menenggak minumannya sampai habis, Soal itu kan tuntutan zaman.
Ihh Boy bergidik, Kalo gue sih jangan sampai pacar gue ketergantungan sama make-up. Yang alami pasti lebih seru, man.
Andrew tertawa. Lalu dia melihat gerakan mencurigakan dari dalam rumah.Beberapa saat kemudian suami istri Hasrul menghampiri mereka. Boy langsung menyalami dengan sopan.
Sore om, tante. Rapi amat. Berduaan kaya masih pacaran aja. Jadi pingin nikah, tanyanya ramah, yang langsung disikut oleh Andrew.
Memang sydah waktunya kamu menikah Boy. Umur sudah tua, masih main aja, balas bu Hasrul cepat, membuat Andrew ngakak.
Jangan ngakak, Ndrew. Kamu juga harus segera menikah sebelum kami semakin tua. Udah pingin nimang cucu!
__ADS_1
Kali ini Boy yang terkekeh. Seriusnya mau kemana ini om dan tante?
Oh ya. Acara pak Sunyoto. Kami akan kesana. Jawab pak Hasrul.
Wah, pasti jadi semacam reuni nih. Komentar Boy menyeringai.
Emang sekalian reuni toh. Giliran bu Hasrul menjawab. Om dan tante panitia pesta putri pak Nyoto. Jadi harus datang lebih awal. Malam ini pesta tunangan. Minggu depan resepsinya.
“Asiknya pergi bareng pacar, nih. Lo jangan ketinggalan, bro. Guyon Boy cepat.
Andrew angkat bahu, Males. Gue kan gak di undang.
Bu Hasrul seperti tersadar, Ya ampun. Mami lupa. Undangan buatmu ada kok, Drew. Coba cari diatas lemari es. Katanya merasa bersalah, Oh ya, kamu berangkat sama keluarga bu Djafar. Tadi mama udah telepon. Usai maghrib. Jangan lupa ya? Okey nak Boy. Kami berangkat duluan.
Setelah suami istri tersebut menghilang dibalik tembok, Boy menepuk pundak Andrew, Siapa sangka ada undangan pesta di atas lemari es. Katanya tersenyum lebar, Tapi ambil hikmahnya, man. Keluargamu udah mulai akrab dengan warga sini.
Gue pikir juga begitu. Andrew kembali duduk dengan sikap nyantainya. Lalu, Astaga! serunya menepuk jidat, Gue gak tahu alamat keluarga bu Djafar itu, bro.
Boy memandang sahabatnya sejenak. Gue akan menulisnya untuk lo, bro. Katanya menahan senyum.
***
Bu Djafar mengangguk, Ini bukan kesalahan mama. Dari tadi mama udah suruh siap-siap, tapi Lilie malah nonton Slamdog Millionaire.
Tapi mata gadis itu mulai berkaca-kaca membayangkan harus berangkat bareng cowok yang udah membuat beberapa sorenya berantakan.
Andrew anak yang baik kok. Lilie pasti senang berteman dengannya. Ya udah, mama pergi dulu ya sayang. Papa udah engga sabar tuh. Ngelakson terus.
Tapi, ma
Tuh, nangis deh. Bu Djafar menghampiri si cowok yang merasa terjebak dalam permainan para orang tua, Aduh, nak Andrew. Maafkan sikap anak tante ya. Agak kolokan. Kalo punya sapu tangan, tolong di lap airmatanya sebelum rumah tante kebanjiran.
Iya, tante.
Zulie masih merengek, Tapi, ma
__ADS_1
Pokoknya Lilie harus berangkat bareng Andrew. Jangan engga. Mama tunggu disana. Setelah ngesun pipi Zulie, bu Djafar segera berlalu. Begitu suara mobil menghilang, buru-buru Zulie menghapus airmata yang hendak menyembur keluar, lalu membalikkan tubuh dan memandang Andrew dengan mata menyala.
Menyebalkan!
Andrew mengerutkan kening, Aku juga gak happy. ujar Andrew kalem.
Zulie tengsin banget dengernya, Lalu napa masih disini? Pergi aja sendiri.
Sorry. Andrew mengibaskan tangannya, Aku sudah janji sama ortumu untuk menggiringmu ke pesta itu.
Menggiringku? Emang aku anak ayam? teriak Zulie mangkel.
“Terserah. Sekarang segeralah bersiap-siap.
Lebih baik aku berangkat bareng perampok.
Andrew tersenyum sinis, Itu bisa kau lakukan lain kali. Untuk sekarang ini, kau berangkat bareng aku!
Mata Zulie membesar, Kamu memerintah aku?
Iya, Ayo cepat!
Mulut Zulie bergetar karena merasa dilecehkan. Ingin banget dia mencak-mencak dan memaki cowok dihadapannya itu.
Tunggu apa lagi, nona? Mau berangkat pake piyama? No problem! Andrew meraih tangan Zulie. Serta merta gadis itu mengibaskan tangannya.
Jangan macam-macam, ya. Aku bisa tinju dan karate. Mau coba? tanyanya mengepalkan tangan dan memasang kuda-kuda.
Andrew ingin tertawa melihatnya, Percayalah, kau tidak akan menang melawanku. Aku juga bisa tinju dan karate. Bahkan taekwondo, dojo, silat, taichi, gulat, sumo, kapuera, bahkan ninja. Semua ilmu bela diri kukuasai. Sekarang ganti pakaianmu. Semakin cepat kita berangkat, semakin baik. Disana kau bisa mencari perampok mana pun yang kau suka.
Menyebalkan! runtuk Zulie melangkah menuju kamarnya, dengan penuh dendam!
Andrew menghela nafas. Pantas saja Boy berusaha keras menahan senyum. Siapa kira alamat keluarga bu Djafar ada tepat disebelah rumahnya? Kemana saja dia selama ini? Ohya, dia disibukkan oleh bangunan kolam renang dibelakang rumahnya. Jadi tidak mengenal tetangga sendiri. Sekarang, mau tak mau dia harus menunggu gadis manja itu berdandan. Sebuah aktifitas yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya. Dan entah sudah berapa lama dia menunggu. Rasanya dia nyaris tertidur ketika Zulie keluar dari kamarnya dengan mengenakan gaun panjang berwarna silver. Andrew hampir tidak mempercayai penglihatannya!
*****
__ADS_1