Kisah Anak-anak 17

Kisah Anak-anak 17
Denny


__ADS_3

"Apa, Van?"


"Kalau kau mau, aku ... Aku mau mengajakmu lari."


"Apa???"


"Iya. Kita minggat. Jadi kau tidak perlu menikah sama orang yang tidak kamu sukai itu. Dan aku... Aku akan menikahimu, akan cari kerja untuk makan kita sehari-hari. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan dirimu."


Vicia bagai tak percaya mendengar penawaran Ivan. Dia pernah meminta Andrea untuk melakukan hal yang sama. Namun laki-laki itu terlalu pengecut untuk menghadapi hidup ini. Sementara Ivan, dia belum lama kenal cowok itu, tapi sudah berani mempertanggung jawabkan dirinya."Tapi... Tapi kenapa, Van?"


"Karena... Yah, karena aku menyukaimu, Vicia. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak melihatmu malam itu di Gazebo rumah Denny."


Vicia terhenyak di kursinya. Dia menatap mata Ivan, mencoba mencari ketulusan cowok itu. Benarkah ada yang namanya cinta pada pandangan pertama? Tapi bisa saja. Soalnya cinta pada orang yang belum pernah dijumpai juga bisa. Seperti perasaannya pada Andrea. Walau tidak pernah bertemu, tapi dia merasa jatuh cinta pada cowok itu. Jadi perasaan Ivan mungkin saja terjadi. Dan bagaimana perasaanya terhadap Ivan? Sukakah dia? Cinta kah? Atau apa? Kenapa saat dia butuh seseorang, yang hadir selalu Ivan? Kenapa pada suatu malam, dia pernah bermimpi tentang Ivan? Kenapa sekarang dia begitu tergoda untuk hidup bersama Ivan dan lari dari semua masalah yang di hadapinya? Ya Allah. Ini tidak adil bagi Ivan.


"Bagaimana Vicia? Apa kau mau menerima aku?" tanya Ivan lagi saat melihat Vicia merenung.


Vicia menghela nafas berat, "Ivan, terima kasih atas perasaanmu serta tawaran kebaikanmu. Tapi aku tidak bisa."


"Kenapa? Kau pasti tidak menyukaiku ya?"


"Bukan. Aku... Aku suka padamu. Kau baik sekali. Aku berharap bertemu denganmu bukan saat aku penuh masalah begini. Kalau saja kita bertemu di saat yang berbeda..."


"Vicia, pertemuan itu hanya Allah yang mengatur. Begitu juga azal dan rejeki. Kalau kau merasa aku yang terbaik bagimu, kau tidak akan ragu untuk memilih aku. Begitu juga aku. Aku rela berkorban apa saja untukmu, Vicia."


"Itu yang tidak kuinginkan. Kau berkorban, dan aku juga. Maaf, Van. Aku tidak mau kuliahmu berantakan gara-gara harus menghidupi aku. Aku tidak akan mampu memaafkan diriku karenanya."

__ADS_1


"Maksudmu, kau saja yang berkorban menyerahkan dirimu pada orang sakit itu?"


"Ini bukan semata-mata pengorbanan, Van. Ini juga demi kenangan. Kalau aku ikut bersamamu, aku akan kehilangan satu-satunya peninggalan orang tuaku. Rumahku. Aku mencintai rumah itu, Van. Rumah di mana aku, papa dan mamaku pernah tinggal bersama dan kami sangat berbahagia. Biarlah aku jalani semua takdir ini."


"Tapi Vicia..."


"Antar aku pulang, Van. Aku ada janji bertemu Denny malam ini. Walau bagaimanapun, dia adalah calon suamiku sekarang. Aku tidak dapat lari dari takdirku.


"Vicia..."


"Tolong antar aku pulang, Van. Sekarang, kumohon."


Dengan perasaan berkecamuk, Ivan akhirnya melarikan mobilnya untuk membawa gadis yang dikasihinya ke pelukan orang lain. Hatinya menjerit. kepalanya terasa berat dan ingin pecah.


*


"Denny. Aku datang. Aku bersedia menikah denganmu. Kau boleh memiliki hidupku. Juga tubuhku dan semua yang kupunya. Tetapi kau tidak akan bisa memiliki hatiku. Dan cintaku." ucap Vicia tanpa basa basi. Di dalam hatinya, wajah sedih Ivan masih tergambar jelas, saat cowok itu melepas dirinya tadi. Ivan kelihatan kecewa. Namun Vicia sudah bertekat dan percaya, inilah takdirnya.


"Siapa pemilik hatimu, Vicia? Andrea? Atau Ivan?" tanya cowok itu berpaling memandang Vicia.


Gadis itu terhenyak kaget. Matanya melebar dan menatap tak percaya. "Ivan?"


"Duduklah, Vicia. Aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Ivan saat melihat Vicia terkejut. Gadis itupun duduk dengan muka pucat karena kaget.


"Sebelumnya aku minta maaf karena telah mempermainkan perasaanmu. Tapi aku tidak sengaja melakukannya. Namaku sebenarnya Denny. Saat di pesbuk, kamu kenal aku sebagai Andrea. Dan kita berpacaran. Tetapi begitu aku mengetahui penderitaanmu semenjak ayahmu meninggal, aku jadi berpikir untuk menyelamatkanmu. Akhirnya aku meminta ayahku melamarmu, namun sengaja aku menyebarkan berita bahwa aku terkena penyakit kulit, agar kedua saudaramu tidak tertarik padaku. Kau tahu, aku menawarkan mahar yang begitu tinggi pada mamamu. Makanya dia berusaha keras menjodohkanmu denganku. Lalu aku menyamar sebagai Ivan, untuk mengenal dirimu. Ternyata kau gadis yang hebat, Vicia. Saat aku menjadi Andrea, laki-laki yang tega meninggalkanmu, kau tabah dan tetap setia. Saat aku menjadi Ivan dan menggodamu untuk hidup bersamaku, kau menolak karena kau memilih mempertahankan kenangan orang tuamu. Lalu saat aku menjadi Denny yang berpenyakit kulit, kau ikhlas menerimaku. Vicia. Maafkan aku. Aku melakukan semua ini untukmu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu dan akan melakukan apa saja untuk kebahagiaanmu. Aku mencintaimu, Vicia. Jika kau mau memaafkan semua kesalahanku dan menerima cintaku, aku akan sangat bahagia. Percayalah Vicia... Mendung tak selamanya kelabu."

__ADS_1


Vicia menitikkan air mata saat cowok itu merengkuh tubuh lelahnya, dan melindunginya di dalam pelukan. “Tidak akan kubiarkan kau menangis lagi, Vicia.” Janjinya seraya mengecup puncak kepala gadis itu.


*


Denny dan Vicia memutuskan untuk menikah muda. Memang, Denny masih harus menyelesaikan kuliahnya. Dan cowok itu juga meminta Vicia berkuliah di satu Universitas dengannya, agar mereka tetap selalu bersama. Baik di rumah maupun di luar rumah.


Pesta pernikahan dilangsungkan dengan sangat mewah, karena Denny adalah anak orang kaya, pewaris tunggal seluruh perusahaan orang tuanya. Pesta tiga hari tiga mala di hotel mewah, tak dapat dielakkan lagi. Meski Vicia ingin perayaan yang sederhana, namun status sosial keluarga Denny, menuntut keluarga kaya tersebut harus menyelanggarakan pesta yang cukup mewah.


Tamu-tamu yang diundang juga semuanya para petinggi, pengusaha, dan artis-artis terkenal. Membuat Vicia tak habis-habisnya mendecak kagum dan merasa sangat beruntung bisa bersalaman langsung dengan beberapa artis idolanya.


“Kuharap kau merasa nyaman meski harus menjalani proses seperti ini untuk menjadi istriku,” demikian ucapan Denny saat melihat Vicia kelelahan.


Vicia menggeleng dan tersenyum lembut. “Asalkan bersamamu, aku akan melakukan apa saja.”


“Sungguh?”


“Sungguh.”


“Sumpah?”


“Sumpah.”


“Kalau begitu, tolong pijitin aku, dong, sayang. Aku capek banget, tau!”


“Iiihh ... dasar, ya ....” Vicia mencubit pinggang suaminya yang tertawa ngakak melihat istrinya geram.

__ADS_1


__ADS_2