Kisah Anak-anak 17

Kisah Anak-anak 17
Barbie


__ADS_3

Baru saja aku selesai bersiap-siap, kudengar suara teriakan tak sabar Lita dari luar kamarku.


"Non, udahan, belom? Ntar kita terlambat loh! Pan malu atuh telat dihari pertama kuliah."


"Iya...iya, aku udah siap kok," balasku berteriak seraya meyambar tas dan buru-buru melangkah kepintu. Tetapi tak lupa aku kembali melirik penampilanku di kaca. Polesan make up tipis di wajah, tatanan rambut, dan stelan pakaian yang kukenakan. Sebab, aku selalu teringat dengan sebuah pertanyaan saat akan pergi; 'Sudah rapikah anda?'


'Hm...ternyata sudah cukup rapi.' pikirku geli sendiri.


Setelah mengunci pintu, aku langsung melangkah cepat menuju teras, dimana Lita - bisa kupastikan - sedang menunggu.


Dan benar saja. Gadis itu tampak menggetar-getarkan kakinya karena tak sabar. Saat dia menoleh dan melihatku, bibirnya langsung manyun,


"Yaelaaa Non! Penampilan sih meni keren. Serba pink. Tapi blusmu itu loh."


Aku mengerutkan kening seraya melihat kebawah, ke blus yang kukenakan, "Mang napa dengan blusku?"


Lita terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Apa mesti blus Barbie sih, Non? Kita'kan udah anak kuliahan. Dewasa dikit, napa?"


Komentar tersebut membuatku menyeringai. Bagian depan blusku memang ada tulisan Barbie. Dan Lita pasti hapal banget kalo sejak SMU aku sangat tergila-gila dengan 'dunia' Barbie. Dari pakaian, sepatu, tas, bahkan sampai boneka dan pernik-pernik yang berbau Barbie, aku punya. Aku selalu mencoba untuk bergaya seperti Barbie yang manis dan indah. Dari model rambut - aku bahkan pernah mewarnai rambutku dengan warna pirang - lalu pakaian dan perangkat pendukungnya seperti sepatu, tas, syal, jepitan rambut, dan lain sebagainya. Karena kesukaanku itu, teman-teman sampai memanggilku dengan sebutan Barbie. Hanya saja, setelah tamat dan akhirnya kuliah, aku mencoba mengerem kegilaanku dalam berpenampilan seperti Barbie. Tapi, masa mengenakan blus bertuliskan Barbie aja gak boleh, sih?

__ADS_1


"Sesekali pake blus lain, napa? Yang ga ada hubungannya dengan Barbie. Yang bacaannya beda, gitu. Power of Love, kek... Aku anak mama, kek... atau 'Apa lihat-lihat?'." gerutu Lita seraya melangkah keluar pekarangan rumah. Aku hanya menyeringai seraya mengikuti langkahnya.


"Ini kan persoalan selera, Ta. Lha wong aku sukanya begini," gumamku saat langkahku sudah sejajaran dengan langkah sahabatku itu. Kami memang berjalan kaki saja untuk menuju kampus, sebab jarak rumah kost kami dengan kampus tidak begitu jauh.


"Iya, tau. Tapi apa ga bosen, sih Non? En apa kamu gak pingin pake baju lain? Model yang berbeda, gitu? Barbie kan dunia anak-anak, sudah waktunya kamu tinggalkan, atuh. Saatnya berpenampilan dewasa, dong Non! Sesekali berpenampilan seksi kaya J-Lo, napa?" tanya Lita manyun.


Aku tergelak. "Pingin sih rubah penampilan. Tapi belom ketemu momment yang tepat tuh!" jawabku santai.


"Jiaahh! Mau ganti model aja mesti pake nyari momment-momment segala sih? Gak banget, deh," ucap Lita bergidik.


Aku tertawa melihat tingkah sahabatku itu. Tapi sebenarnya aku membernarkan kata-kata Lita juga. Tiga tahun aku mengenakan barang-barang yang berbau Barbie, mungkin justru sekaranglah, setelah menjadi anak kuliahan begini adalah momment yang tepat untuk mengganti selera dalam berpenampilan. Aku sudah beberapa kali memikirkan hal itu, tetapi perasaan sayang dan cintaku terhadap dunia Barbie selalu kembali menghentikan niatku. Bukan karena satu lemari pakaian dan seluruh perangkat pendukungnya semuanya berbau gadis impian Amerika itu sehingga aku merasa sayang meninggalkan semuanya, tetapi karena aku sudah terbiasa - bahkan sangat terbiasa - dan merasa nyaman dengan Barbie. Tetapi disisi lain, aku juga sadar kalau penampilanku memang bisa disebut kekanak-kanakan gara-gara si Barbie. Makanya, seperti mendapat pencerahan, akupun berniat di dalam hati untuk segera memake over seluruh penampilanku agar tampak lebih dewasa.


Tiba-tiba aku mendengar suara seorang cowok tak jauh dariku.


Aku clingak-clinguk mencari sumber suara tersebut. Sebab aku yakin, akulah yang dipanggil itu. Soalnya, dari begitu banyak anak kuliah yang lalu lalang di jalan itu, sepertinya hanya aku yang berpenampilan seperti Barbie. Jadi pasti akulah orang yang disapa tadi.


"Wah, Barbie bingung ya?" terdengar suara cowok itu lagi. Aku langsung menoleh. Ternyata suara itu berasal dari balik gerbang rumah besar tepat di sebelah kiriku. Dan saat melihat seorang cowok yang tersenyum manis ke arahku, aku hampir saja nyungsep masuk ke selokan sakin kagetnya. Cowok itu sangat tampan. Persis seperti Edward Cullen, tokoh vampire kesayanganku. Tinggi, rambut lurus kecoklatan, mata setajam elang, hidung mancung, dan bibirnya tampak seksi saat tersenyum dan menampilkan sederetan giginya yang putih dan rapi.


"Nona! Buruan atuh! Telat nih!" Lita meyambar pergelangan tanganku dan menarikku untuk menyeberang jalan. Aku hanya bisa menurut, sementara pandanganku masih ke belakang, ke arah cowok yang berdiri di balik pagar rumahnya, yang melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum, tapi gak sempat membalas lambaian tangan cowok itu gara-gara sebuah angkutan umum berhenti tepat di tengah-tengah pandangan kami.

__ADS_1


*


Perkuliahan di hari pertama jadi terasa aneh bagiku. Satu sisi, memang inilah yang kuinginkan. Bisa melanjutkan jenjang pendidikan setamat SMU ke universitas idamanku, dan menimbah ilmu dengan memakai pakaian bebas. Tidak memakai seragam lagi. Tetapi, disisi lain, aku malah pingin cepat pulang agar dapat kembali melewati jalan tadi. Aku ingin kembali melihat cowok tadi, yang sangat tampan. Well, karena aku memang menyukai cowok yang tampan ... hehehe.


"Heh! Cengar-cengir sendiri kaya orang kesambet!" sikut Lita ke lenganku membuat aku buru-buru menghapus jejak senyum di wajahku.


"Usil, ah!" ucapku manyun. Aku tidak mau memberitahu Lita soal cowo tadi. Takut kena ledek.


Lita hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu kami sama-sama berusaha tekun mendengar mata kuliah kami yang pertama itu.


*


Tapi sayang. Saat pulang kuliah, aku dan Lita kembali melalui jalan tadi, dan melewati rumah besar tadi, diam-diam aku melirik ke dalam pekarangan rumah melalui celah-celah gerbangnya, tetapi aku tidak melihat cowok itu. Entah mengapa, hatiku merasa sedikit kecewa. Tetapi tentu saja aku tidak membiarkan perasaan itu menguasai hatiku. Sebab, aku percaya besok pasti bisa bertemu lagi. Kan bisa saja sore ini cowok tadi sedang ada urusan di luar rumah. Mungkin juga kuliah di kampus lain, atau sedang tidur di kamarnya. Jadi kenapa aku harus kecewa?


Maka, dengan optimis, setengah berlari aku mengejar langkah Lita yang selalu terburu-buru kaya orang dikejar setan. Dan malamnya, aku lalui dengan amat panjang. Wajah tampan cowok tadi selalu melintas dibenakku. Senyumnya tak mau pergi dari pelupuk mataku. Aku jadi gak bisa tidur nyenyak. Bolak-balik, persis kaya orang kasmaran.


'Eh...' aku tersentak. Masa sih aku jatuh cinta sedemikian cepat? Hanya dalam sekali pandang? Jadi benar bahwa memang ada cinta pada pandangan pertama? Aku saja gak percaya. Terakhir aku punya pacar, saat kelas dua SMU, proses jadiannya lama banget.


'Ah, ini bukan cinta. Aku hanya terpesona. Itu saja, tak lebih!' bisikku seraya memejamkan mata.

__ADS_1


*


__ADS_2