
"Dengar ya Vicia. Om Handoyo itu orang kaya. Kamu ga akan susah kalo sampai menikah sama anaknya." jelas Lala tersenyum aneh.
"Lalu kenapa bukan kamu saja yang menikah sama dia?" tanya Vicia kesal.
Erni tertawa. "Hehehe... Mana mungkin Lala mau sama orang yang punya penyakit kulit seperti itu..."
"A… apa? Penyakit kulit?"
"Iya... Menular lagi..."
"Apa?" teriak Vicia setengah gila, membuat kedua saudaranya tertawa terbahak-bahak. Dengan perasaan terluka, dia berlari ke kamar dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
Vicia menangis sejadi-jadinya. Ternyata selama ini mama dan kedua saudara tirinya suka menghambur-hamburkan uang dan membeli pakaian dengan kartu kredit peninggalan papanya. Jadi akhirnya mama terbelit hutang yang banyak dan dia berharap jika Vicia menikah dengan anak orang kaya, maka urusan hutang piutangnya akan terselesaikan. Namun betapa curangnya, mama. Dia menjodohkan Vicia, bukan salah satu anaknya, dengan seorang pemuda yang menurut kabar yang berhembus, punya penyakit kulit yang tidak bisa disembuhkan. Anak itu selama ini berobat di luar negeri. Namun tidak kunjung sembuh. Mama tega sekali menjual dirinya demi melunasi hutang-hutangnya.
"Ndre... Aku ingin kabur saja.." tulis Vicia di sms, keesokan harinya.
"Tunggu Vicia. Jangan gegabah. Kalau kamu kabur, memangnya mau kemana? Bagaimana sekolahmu? Sayang kan hnya tinggal beberapa bulan saja lagi." Andrea berusaha menyabarkan Vicia.
"Iya, tapi aku tidak mau menikah sama orang lain. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Vicia. Kau tau itu, kan?"
"Kalau begitu, aku akan kabur, Andrea…"
"Apa? Kabur?”
“Iya, Ndre. Bawa aku pergi dari sini. Aku tidak mau dijodohkan dengan orang lain karena di hatiku hanya ada kamu.”
“Tapi…gak mungkin, Vicia."
"Kenapa?"
"Karena aku sendiri belum bekerja. Aku ga bisa membiayai hidupmu kalau aku mencoba membawamu pergi. Bersamaku untuk saat ini, kamu akan menderita, Vicia. Begitu juga aku. Orang tuaku pasti akan memutuskan biaya kuliahku jika sampai tau aku berpacaran sebelum tamat."
"Aku kan bisa bekerja, Ndre."
"Bekerja apa, Vicia? Kamu tidak punya keahlian.Tidak punya ijazah. Jangan bersikap bodoh, Vicia."
"Jadi bagamana? Masa aku diam saja ditunangkan sama orang yang sama sekali tidak kukenal dan berpenyakitan pula? Dan masa kamu tidak berusaha menyelamatkan aku dari semua ini?"
“Bersabarlah dulu, Vicia.” Begitulah. Andrea meminta Vicia untuk bersabar dahulu sampai mereka mendapatkan jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi.
*
Suatu hari, mama menyuruh Vicia untuk memakai pakaian yang bagus. Ternyata mama diundang datang ke rumah pak Handoyo untuk memperkenalkan Vicia dengan tunangannya, Denny. Vicia ingin kabur entah kemana saat itu juga. Namun Joe menyabarkannya dan meminta dirinya untuk mengikuti arus. Makanya Vicia terpaksa ikut juga ke rumah orang kaya tersebut.
__ADS_1
Ternyata, Vicia hanya berkenalan dengan pak Handoyo dan istrinya. Sementara Denny anak mereka, ternyata tidak mau keluar dari kamarnya. Saat mamanya tengah asyik mengobrol, diam-diam Vicia keluar rumah dan duduk berdiam diri di sebuah gazebo taman. Maksud hatinya adalah sm an dengan Andrea. Tetapi hp cowok itu tidak aktif. Berulang kali Vicia mencoba, namun pesan singkatnya pending selalu.
"Hei, kamu yang namanya Vicia ya?" tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang gadis itu.
Suara itu berasal dari seorang cowok yang usianya sekitar beberapa tahun di atasnya.
"Siapa kamu?" tanya Vicia hati-hati sambil mengamati cowok yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Aku Ivan, teman Denny."
"Kenapa kamu yang muncul? Dimana Denny?"
"Denny di kamarnya. Dia yang memintaku menjumpai kamu. Katanya dia tidak ingin kamu takut saat melihatnya."
"Jadi benar ya kalo Denny itu punya penyakit kulit?"
Ivan diam sejenak. "Pokoknya, dia juga tidak senang dengan perjodohan ini."
"Lalu kenapa dia tidak menolak? Malah sembunyi di kamar seperti perempuan saja?"
"Dia pasti punya alasan tersendiri kenapa tidak menemui kamu dan malah menyuruh aku yang jumpain kamu disini."
Vicia angkat bahu. Dia teringat Andrea. Lalu dicobanya sms. Ternyata lagi-lagi pending. Artinya hapenya mati. Makanya smsnya selalu tidak sampai.
"Kamu sms siapa?" tanya Ivan dengan mata menyelidik.
"Pacarmu ya?" tanya Ivan tidak perduli.
"Bukan urusanmu juga."
"Kamu kok mau saja dijodohin sama orang yang tidak kamu kenal? Terlebih sudah tau kalo Denny itu punya penyakit kulit. Apa kamu tidak jijik? Atau… Kamu pasti berharap hartanya kan?"
PLAAKKK!!!
Sebuah tamparan dari tangan yang mungilmendarat di pipi Ivan.
"Hati-hati kamu kalo ngomong!" desis Vicia marah. Sementara Ivan meraba pipinya yang panas kena tampar Vicia.
"Emang aku salah ngomong ya?” Ivan tersenyum mengejek. “Kalau bukan karena harta, untuk apa kamu terima pertunangan itu?"
Vicia mendengus, "Dengar ya tuan yang sok tau.! Tolong bilangin sama temanmu itu, aku sebenarnya tidak mau dengan pertunangan ini. Tapi aku terpaksa."
"Terpaksa kenapa?"
Vicia menatap Ivan geram. "Kenapa sih kamu harus tau?"
__ADS_1
"Agar aku bisa menyampaikan alasanmu kepada Denny. Agar kamu tahu juga, ya nona sinis, Denny menganggapmu gadis yang hanya menginginkan uangnya. Sehingga kamu menghalalkan segala cara. Termasuk menerima seorang yang berpenyakitan menjadi suami. Apa yang kamu lakukan ini tentu saja membawa dugaan-dugaan ke arah itu, kan?”
Vicia dia sejenak. Mencoba bersabar dan memahami seluruh perkataan Ivan. "Karena mamaku terbelit hutang. Perkebunan dan tanah milik ayahku sudah dijual mama untuk berfoya-foya. Kami sudah hampir itdak makan sekarang. Jadi mama berharap banyak atas pertunangan ini."
"Tapi kalau tidak salah, dia kan mama tirimu? Untuk apa juga kamu harus patuh sama dia?"
"Kok kamu tau? Aku kan tidak pernah bilang kalau dia adalah mama tiriku."
"Denny yang bilang padaku." Jawab Ivan kalem.
"Baiklah. Aku terpaksa menerima ini semua karena aku tidak mau kalau tiba-tiba mama menjual rumah kami. Itu rumah peninggalan orang tua kandungku. Satu-satunya harta yang tersisa."
Ivan diam.
*
Malamnya, setelah pulang, Vicia segera meng-sms Andrea.
"Kamu kemana aja sih Ndre? Aku butuh bicara denganmu." rengek Vicia setengah marah.
Ternyata tak berapa lama, sms Vicia mendapat jawaban.
"Maaf bebh. Aku sedang berpikir."
"Berpikir apa?"
"Tentang kita."
"Maksudnya?"
"Sepertinya hubungan kita ga bisa diteruskan..."
"Apa?" Vicia seperti tersambar petir.
"Maafkan aku Vicia. Jarak Kita terlalu jauh. Dan problem yang kita hadapi terlalu berat. Semenara aku tidak mungkin memperjuangkanmu karena aku di doktrin orang tuaku untuk menjadi dokter."
"Maksudmu… kita putus?" air mata menggenang di pelupuk mata gadia itu. Hatinya teraa sakit sekali. Jantungnya bagai diremas hingga hancur berantakan.
"Maafkan aku Vicia."
"Ndre. Begini saja. Kalau kau ingin kita putus, katakan langsung kepadaku. Dihadapanku!"
"Maksudmu... Aku datang?"
"Iya. Biarlah besok menjadi hari bersejarah bagiku. Aku dapat melihatmu untuk yang pertama dan juga untuk yang terakhir kali. Kalau kamu naik pesawat, hanya butuh waktu dua jam. Besok, aku menunggumu di cafe Bambu, tepat jam dua siang."
__ADS_1
*****