
Wah, bagaimana ya?
Budiman tersenyum melihat terbukanya peluang tersebut. Cepat-cepat dia membuka kopernya dan mengeluarkan beberapa produk kosmetikanya, Tolong jangan membuat saya merasa kalah sebelum berjuang, mbak. Luangkan waktunya sebentar saja. Kalau kira-kira mbak tidak tertarik, saya janji akan segera pergi.
Tetapi saya sedang memasak, jadi saya tidak bisa...
Hm...mbak sedang merebus jagung ya?
Zulie melongo, Kok mas tau ya?
Budiman tertawa, Penciuman saya tajam, mbak. Selain itu, saya juga suka sekali jagung rebus. Itu makanan favorit saya. Oh ya, bagaimana dengan orang tua mbak? Apa mereka ada di rumah? Kakak atau adik? Saya ingin mereka juga melihat promo saya. Katanya menerobos masuk ke rumah sambil menyeringai lebar, Bisa tidak mereka dipanggilkan?
Didesak terus seperti itu membuat badan Zulie panas dingin. Tiba-tiba dia merasa keadaan sudah mulai tidak terkendali, Maaf ya mas. Saya tidak ada mempersilahkan masuk. Mas ini kayanya sudah berbuat tidak sopan...
Wah mbak, jangan marah begitu. Saya tidak punya maksud lain kok selain mempromosikan dagangan saya. Ujar Budiman dengan sorot mata berkilatan mengitari seluruh ruangan. Hati Zulie berdebar kencang. Saat dia mengaku bisa tinju dan karate kepada Andrew, itu bukan isapan jempol. Memang tahun lalu dia mempelajari kedua ilmu bela diri itu. Tetapi hanya dasar-dasarnya saja. Dan sampai saat ini ilmu itu sama sekali belum pernah di praktekkannya. Belum ada lawan yang tangguh, demikian dalihnya. Tetapi saat segenting ini, mengapa nyalinya tidak sebesar tekadnya saat mulai mempelajari ilmu bela diri itu?
Rumah ini sepi sakali. Kelihatannya mbak sendirian dirumah ini, ya? Budiman tersenyum kecil. Dan bagi Zulie itu sebuah senyum yang sangat mengerikan.
Kenapa anda menayakan itu? Sendirian atau tidak, itu bukan urusan anda. Mendadak sebuah suara menggelegar dari dapur. Sosoknya yang tinggi dan tegap melangkah mendekati Zulie. Selembar sapu tangan diulurkannya kepada gadis itu, Aku sudah mematikan api kompor. Jagungnya sudah matang dan siap disantap. Kamu memang pintar memasak. Katanya mencium pipi Zulie. Wajah gadis itu spontan memerah. Pikirannya berkecamuk antara senang dan marah.
Nah sayang, siapa laki-laki ini? Kamu mengenalnya? tanya Andrew lembut.
Zulie menggeleng lemah. Masih terkesimah dengan kemunculan cowok itu yang tiba-tiba, serta sikapnya yang sungguh mesra.
__ADS_1
“Baiklah. Bisa anda jelaskan mengapa anda bisa berada rumah ini? tanya Andrew dengan suara berat. Dipandangnya Budiman dengan sorot mengancam. Membuat pria itu gugup setengah mati.
Maafkan saya, pak. Saya hanya ingin promo kosmetika kepada istri anda...
Dengan cara memaksa masuk? penggal Andrew cepat, Anda ini mau berjualan atau merampok? Sikap anda benar-benar tidak profesional.
Budiman menelan ludah. Dengan gugup dia mengemasi barang-barangnya, Sekali lagi saya mohon maaf pak. Bukan maksud saya menakut-nakuit istri anda. Kalau begitu, saya permisi dulu pak. Selamat sore. Katanya meraih tasnya dan segera berlalu. Setelah terdengar suara pintu pagar ditutup, serta merta Zulie terisak seperti anak kecil yang kehilangan boneka. Dia marah karena kebodohannya, dan malu, juga karena kebodohannya.
Laki-laki itu sudah pergi. Sudahlah jangan menangis lagi. Andrew memegang pundak Zulie dengan lembut, Lain kali, jangan pernah membuka pintu untuk orang asing...
Tetapi Zulie segera melepaskan diri. Tangannya terangkat menampar Andrew, membuat cowok itu terkejut. Itu karena kau mencium...pipiku! teriaknya berang. Memang Andrew sudah menyelamatkan dirinya. Tetapi bukan berarti dia dapat berbuat seenaknya. Pakai cium-cium segala!
Andrew terdiam sejenak, Nona Zulie yang terhormat. Apa kau pikir aku senang melakukannya? Setelah ini aku akan cuci muka dan sikat gigi.
Mendengar itu, darah Zulie kembali menggelegak. Tangannya terangkat kembali, namun kali ini Andrew lebih cepat menangkap pergelangan tangan gadis itu.
Zulie mengibaskan tangannya. Tetapi cengkraman Andrew begitu kuat hingga dia merasa lelah dan putus asa, Berapa banyak lagi budimu yang mesti kubalas? desisnya megap-megap.
Kening Andrew langsung berkerut, Saat melihat ada orang mencurigakan, aku langsung masuk lewat pintu belakang. Aku ikhlas kok.”
Zulie menggigit bibirnya, Kau...pasti benci sekali kepadaku.
Tidak. Memang kenapa?
__ADS_1
Kalau kau tidak membenciku, kenapa kau diam saja saat mengantarkan aku pulang dari pesta pertunangan Dewi waktu itu? Kau tau aku mengalamai depresi saat itu.
Sesaat Andrew mengawasi wajah Zulie yang halus dan begitu dekat dengannya. Bahkan aroma parfum gadis itu samar-samar masuk ke lobang hidungnya, menggoda benaknya. Jadi kau masih menyimpan sikapku itu hingga sekarang? tanyanya tersenyum.
Kau bahkan menghindariku sejak saat itu. Zulie kembali berusaha melepaskan tangannya. Tetapi tampaknya Andrew masih tidak tergoyahkan. Tadi kau memang telah menyelamatkanku lagi. Tetapi bukan berarti aku memaafkan apa yang baru kau lakukan.”
Maksudmu, ciumanku?
Wajah Zulie memerah kembali, Aktingmu sungguh buruk! Siapapun akan tau kalau kau telah memanfaatkan situasiku. Tetapi aku sudah menamparmu, jadi kita impas.
Jadi aku tidak perlu mencuci muka dan menyikat gigiku? Itu tidak adil. Ujar Andrew kalem.
Maksudmu aku harus...menciummu juga, lalu tidak mencuci muka dan menyikat gigi, baru bisa dikatakan adil?
Andrew tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku jadi bingung, siapa sebenarnya di antara kita yang paling bodoh. Dengar ya Lilie, aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Aku diam saat mengantarkanmu pulang, justru karena aku tau kau benar-benar mengalami malam paling buruk. Aku tidak ingin membuatmu bertambah tertekan. Jujur, saat itu aku juga sedang kesal dan aku tidak mungkin bisa mengatakan hal-hal baik untuk menghiburmu. Lalu ciuman tadi, itu bukan akting. Puas? tanyanya seraya melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan gadis itu.
Zulie diam. Benarkah cowok itu tidak sedang berakting saat menciumnya?
“Belakangan ini aku memang jarang keluar. Tetapi bukan untuk menjauhimu. Aku hanya sedang berpikir. Kurasa aku telah... Andrew tidak meneruskan kalimatnya. Dia menatap Zulie, Aku sedang mencari peluang untuk mengatakannya. Kalau kau sudah tenang, pergilah ke dapur. Ada bungkusan buatmu. Sampai jumpa.
Setelah Andrew pergi, Zulie langsung mengunci pintu depan. Lalu buru-buru kedapur. Di atas meja dapur, dia melihat sebuah bungkusan rapi. Setelah dibuka, ternyata isinya Stiletto silvernya! Dan sebuah catatan kecil.
Dasar anak manja! Jangan kejam terhadap benda. Itu tidak baik. Sepatu ini kan masih bagus. Aku sudah memperbaikinya. Aku menyukainya. Mungkin karena aku juga sudah menyukai pemiliknya. Salam, Romiandrew.
__ADS_1
Romiandrew? eja Zulie dengan kening berkerut. Jadi namanya Romiandrew. Romi ... Romeo! Ya ampun, Karin benar. Dialah Romeo itu. Yang selalu datang untuk menyelamatkannya. Yang benar-benar memahami dirinya. Yang ciumannya begitu lembut. Zulie mendekap sepatunya dengan air mata berlinang. Dialah Romeo yang diidamkannya selama ini. Setelah semua ini, Zulie akan memberanikan diri untuk lebih mengenal cowok itu. Mungkin hari ini dia bisa datang. Dia akan membawa jagung rebus sebagai tanda terima kasihnya hari ini. Untuk semuanya, dia telah siap membawa hatinya.
***