Kisah Anak-anak 17

Kisah Anak-anak 17
Liz dan tingkah anehnya


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, beberapa mata menatapku dengan terang-terangan. Sinarnya tampak curiga dan mengancam. Beberapa wanita yang sedang menjemur pakaian tampak terdiam, berhenti, dan memandangku. Lalu mereka berbisik-bisik. Beberapa gadis yang sedang duduk bergerombol juga menatapku. Dan hanya wajah merekalah yang tampak agak tersenyum ke arahku. Well, setidaknya, ketampananku masih berlaku juga di daerah ini. Namun keterangan tentang Liz, dari pak Jhonson tadi, membuatku agak berpikir. Liz bersama anak-anaknya? Dan ia disebut Angel? Malaikat? Apa sebenarnya yang sudah dilakukan gadis itu? Inikah kunci dari sikap misterius Liz yang menyebalkan itu? Atau apakah aku salah orang?


Jalanku terhenti. Aku tidak dapat meneruskan langkahku karena jalanan itu memang buntu. Dan saat aku memutuskan untuk membelok ke arah kanan jalan, saat itulah aku melihat sebuah pemandangan aneh. Seorang gadis berkulit putih sedang membagi-bagikan roti kepada anak-anak kecil yang bergerombol mengerumuninya. Dengan kemejanya yang berwarna krem, dan rambut emasnya yang tergerai ditiup angin, Liz terlihat benar-benar seperti malaikat di tengah-tengah kerumunan bocah-bocah berwarna hitam legam.


“Halo Angel!” sapaku. Kulihat gadis itu menoleh dan terlonjak kaget saat melihatku.


“Kau…” ucapnya menggantung. Matanya yang hijau tampak menyala memandangku, “mau apa kau kemari? Kau menguntitku ya? Atau kau berpikir aku menukar berlianmu dengan yang palsu?”


“Jangan salah paham, Liz.”ucapku cepat,”Aku kemari bukan untuk membicarakan hal itu.”


“Jadi…apa maumu sebenarnya? Memata-mataiku? Terus terang, Rick. Aku tidak suka kau berada disini. Pergilah.” Liz melangkah meninggalkanku. Berjalan terus sampai ke sebuah peti tua dan duduk di atasnya tanpa memperdulikanku. Aku mengikutiya.


“Liz, aku hanya ingin meminta maaf padamu. Itu saja.”


Liz tersenyum mencibir, “Aku memaafkanmu. Sekarang pergilah dari sini.”


Aku menelan ludah. Kau jangan langsung putus asa, Rick! Kau adalah pria. Kau kesatria! Bisik hati kecilku memberi semangat. “Apa kau tidak ingin menerima alasan-alasanku?”


Liz tidak menjawab. Wajahnya tampak dingin. Aku paham mengapa Liz tampak membenciku. Pastilah ia tersinggung saat mengetahui renanaku memasang gantungan berlian di tape recorderku adalah untuk menjebak dirinya. Aku bermaksud menjelaskan segala-galanya ketika dua orang anak kecil datang mendekati kami.


“Angel. Rotinya sudah habis. Tapi saya masih lapar. Dapatkah saya makan es krim?” tanyanya dengan suara yang halus dan menggugah perasaan.


“Saya juga mau es krim, Angel.” Tambah temannya.


Mengetahui temannya mendekati Angel, dalam waktu beberapa detik, semua anak-anak berkulit hitam, berambut keriting halus dan bermata bulat hitam legam dan berpakaian seadanya tadi beramai-ramai kembali mengerumuni Liz dan berteriak-teriak meminta dibelikan es krim. Mereka bagai penduduk yang turun ke jalan untuk unjuk rasa atas keterlantaran mereka. Aku merasa asing dan iba.


“Okey, guys. Semuanya boleh makan es krim hari ini.” Teriak Liz menenangkan anak-anak tersebut. Setelah itu aku melihatnya membuka arloji yang melilit di pergelangan tangannya.


“Liz…apa yang kau lakukan?” tanyaku tak paham. Maksudku, aku tidak paham dengan apa yang barusan dilakukan gadis itu. Aku tahu berapa harga jam yang ia kenakan. Jam bermerk terkenal yang saat ini sedang mode di seluruh dunia. “Apa…apa kau ingin menjual jam itu?”


Liz diam. Ia hanya bergerak menuju si penjual es krim yang sedang sibuk melayani keroyokan para pelanggannya yang semuanya ingin cepat mendapatkan es krim. Karena merasa dianggap tidak ada, aku segera mencekal lengan gadis itu.

__ADS_1


“Liz…apa kau mau menjual jam itu? Hanya demi untuk membeli es krim? Untuk anak-anak itu?”


Liz menatapku, “Lepaskan tanganku, Rick…”


“Liz, jangan lakukan itu…”


“Ohya? Lantas membiarkan mereka menangis-nangis kelaparan? Itu yang kau mau? Iya Rick? Cobalah larang aku. Aku akan menuntutmu sampai ke pengadilan!”


Aku membalas tatapan mata hijau Liz. Lalu tertawa terbahak-bahak sampai membuat kening gadis di hadapanku berkerut, “Kau aneh. Liz. Untuk apa kau menuntutku? Aku tidak membunuh mereka satu persatu, kan? Dan lagi tidak ada orang yang akan tewas hanya karena tidak makan es krim.”


“Lalu kenapa kau menahanku? Terserah aku mau apa dengan jam tanganku.” Ucap Liz menyentakkan tangannya hingga terlepas dari cekalanku.


“Maksudku, kau boleh menyuruh mereka makan es krim sebanyak yang mereka mampu, tanpa menjual jam tanganmu.”


“Ohya? Maksudmu…kau yang akan membayarnya?” tanya Liz tertawa mencibir.


Aku tersenyum.


Aku mengangguk.


“Gak mungkin.”


“Kenapa? aku masih punya berlian, kan?” ucapku mengingatkannya.


Liz kembali cemberut, “Huh! Alasan yang aneh.”


“Tetapi tidak seaneh cara yang kau pakai, Liz.” Ucapku lembut.


*


Elizabeth Grey melangkah pelan di sisiku.Tubuhnya kurus dan pucat tak terurus. Senyumnya juga selalu hambar dan ia tampak lemah bagai orang tak bertenaga. “Aku tidak bahagia, Rick.” Ucapnya lamt-lamat. Lalu gadis itu menghela nafas berat dan menatap ke depan dengan tatapan melamun, “Ibuku meninggal saat melahirkanku. Lantas ayah menyalahkanku atas meninggalnya ibu. Lalu iapun menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan dunianya yang lain yang berada di luar rumah dan menelantarkanku. Klise! Tapi begitulah yang terjadi. Dan satu-satunya orang yang menyayangiku adalah Mrs. Blane. Perempuan negro , yang telah di pecat ayahku beberapa bulan yang lalu karena sakit-sakitan. Tak lama,wanita itupun meninggal karena terlambat dioperasi. Aku sudah mencoba meminta uang pada ayahku, tetapi aku selalu saja mengalami kesulitan untuk bertemu dan akhirnya aku terlambat membawa uang itu ke rumah sakit. Aku marah karena aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.”

__ADS_1


Aku mendesah karena aku merasa turut merasakan penderitaan gadis itu. Selama ini, aku hanya tahu keberadaan orang tua dan keluargaku yang berada. Lingkungan sekelilingku yang memiliki segalanya. Aku tidak pernah memikirkan dunia lain yang amat berbeda dari diriku. Sia-sia saja bertahun-tahun sekolah dan mempelajari budaya dan sejarah, jika ternyata mataku tidak pernah terbuka dengan hal-hal mengenaskan seperti yang diperlihatkan Liz kepadaku. Bahkan aku sempat merasa heran mengapa Liz begitu perduli dengan kaum yang bukan se Ras dengannya.


“Untuk membantu, aku tidak melihat warna kulitnya, Rick. Karena aku tahu, Tuhan menciptakan kita dalam keadaan berbeda-beda. Ada putih, coklat, merah, kuning dan hitam. Seperti temanmu Lee. Dia berkulit kuning tapi kau berteman akrab dengannya.”


“Kau benar.” Sahutku pelan, berusaha menelan kesombonganku atas kaumku yang terlahir sebagai kulit putih dan memiliki segalanya.


“Dan satu lagi, Rick. Jika kau ingin menolong mereka, kau tidak dapat berpikir hanya memberi mereka makan untuk satu hari saja. Sebab mereka juga ingin hidp lebih lama, sama dengan kita. Mereka butuh tempat tinggal dan pekerjaan. Dan mereka butuh kasih sayang.” Tambah gadis itu membuatku terpojok. Aku terdiam sesaat, sebelum benar-benar melihat apa yang kupunya di dalam hati nuraniku setelah mendengar alasan Liz berada di tempat itu.


“Liz, aku tahu ini bukan pekerjaan yang gampang. Apa lagi untuk anak muda seusia kita. Yang masih labil dan butuh dukungan dari orang tua. Tetapi….” Aku menatap gadis itu dan tersenyum, “kurasa aku mau menemanimu menemukan apa yang mereka cari dan inginkan.” Tekatku mantap, “Apa kau menerimaku walau sekedar menjadi pesuruhmu?”


Liz memandangku dengan wajah memerah, “Kok kau bicaranya seperti itu, Rick? Kau kan sahabatku. Kau harus melangkah disampingku. Sampai akhirnya kau mundur karena betapa sulitnya berada di tempat seperti ini.”


“Aku mengerti, Liz. Dan aku tidak akan mundur. Aku kan cowok. Malu dong denganmu.” Ucapku bercanda. “Tapi untuk pertama-tama…kita harus meninggalkan cara yang selama ini kamu anut. Okey?”


Gadis itu menatapku kaku, “Ya…yang mana?”


“Menjadi Nona Robin Hood. Mencuri dari yang kaya untuk diserahkan peada yang miskin. Kita tidak harus seperti itu lagi mulai sekarang. Jangan sampai maksud baik kita kan berakhir di penjara.”


Liz tersenyum malu dan menundukkan kepalanya, “Aku minta maaf…” ucapnya pelan, “Sebenarnya aku tidak bermaksud…”


“Sudahlah. Yang penting, mulai sekarang kita akan membantu mereka dengan cara yang halal.”


“Baiklah.”


“Okey. Kira-kira…apa yang harus kulakukan untuk memulai pekerjaan mulia ini?”


Liz langsung menggandeng tanganku, “Banyak.” Ucapnya tertawa.


Akupun tertawa dan merasa lega karena telah menguak misteri yang mengelilingi Liz selama ini. Aku bertekat akan merubah semuanya. Merubah cara Liz mendapatkan uang, dan merubah keadaan untuk menjadi lebih baik dari sekarang. Aku tahu ini akan sangat sulit dilakukan dan pasti akan mendapatkan banyak rintangan. Tetapi semua perbuatan baik pasti akan berakhir dengan baik juga. Itu sudah janji Tuhan pada umatnya. Dan aku percaya itu. seperti Liz yang telah menaruh kepercayaannya kepadaku.


Sore itu akan terasa indah dan panjang.

__ADS_1


__ADS_2