
BRRAAAAKKKKK!!!
Sebuah laptop terhempas kelantai, pecah berkeping-keping.
"Maaaaa, Lala membanting laptopku!!" teriak Vicia seraya memunguti kepingan laptopnya yang berserakan di lantai. Padahal dia tadi lagi online.
Mendengar teriakan itu, mama datang, diikuti oleh Erni dari belakang.
"Ada apa ini?" tanya mama mendelik.
"Ma, Lala membanting laptopku ke lantai." adu Vicia menangis.
"Lala?" tanya mama.
"Abis, aku ga bole pinjam. Mama kan tau laptopku lagi diservise." gerutu Lala.
"Vicia, kenapa sih kamu pelit banget sama saudaramu? Kalau Lala pinjam, ya dikasih dong." ujar mama membelai kepala Lala.
"Tapi ma, tadi aku sedang online. Lala mau main rebut aja." Vicia mencoba membela dirinya.
"Ah, Vicia emang pelit, ma," tiba-tiba terdengar suara Erni, "Kemarin di sekolah, dia ga mau ngasih jawaban soal matematika."
"Benar itu, Vicia?" tanya mama dengan mata melotot.
"Ga bisa, ma. Kan ujian. Aku diawasin guru dan...aduuuuhhh ma... Ampuuuunnn...." teriak Vicia kesakitan. Ternyata tangan mamanya sudah menarik telinganya kuat sekali.
"Kamu tuh jangan keterlaluan sekali, dong Vicia!" teriak mama tidak memperdulikan tangisan Vicia. "Jangan mentang-mentang kamu pintar, terus kamu semena-mena sama saudara-saudaramu."
"Tapi ma..."
"Lagian, kok dia enak-enakan ol disini ma? Kamar mandi tuh belum dibersihkan." ujar Erni.
"Iya ma. Halaman jangan belum disapu. Dia ini pemalas banget ma." tambah Lala sinis.
"Dasar anak ga tau diri!!" Mama semakin marah. Dia bukan hanya menjewer telinga Vicia. Tapi juga menarik rambut gadis itu dan mencubitnya kuat sekali. Sampai Vicia bermohon-mohon minta ampun.
“Ampun, Ma… ampun….” Vicia menangis terisak-isak kesakitan tapi mama tampak tidak perduli sedikitpun. Tubuh Vicia memar-memar kena cubitan mama. Juga lecet-lecet karena kuku wanita itu. Perihnya bukan main.
__ADS_1
"Mah, sudahlah. Kita kan mau ke mall." Erni mengingatkan mamanya.
"Iya ma. Ntar kl siang, panas banget." tambah Lala cepat. "Tapi suruh dia kerjain semua pekerjaan rumah, ma. Biar ga enak-enakan aja makan tidur disini."
"Dengar itu Vicia. Kamu harus bersihkan kamar mandi, menyapu halaman, bereskan seluruh rumah dan masak. Pulang dari mall, makanan harus sudah siap tersedia." Perintah mama keras.
"Tapi ma... Vicia kan ga bisa masak..." isak Vicia tertekan.
"Mama ga mau tau. Awas kamu kalau tidak ada makanan di meja makan." ancam mama sebelum mereka keluar dari kamarnya, membuat Vicia ketakutan.
"Ya Allah... Kenapa bisa jadi begini? Kenapa sekarang mama dan saudara-saudaranya jadi kejam kepadanya? Dulu, sewaktu ada papa, rasanya mereka manis sekali padanya. Tapi kenapa sekarang mereka menganggap dirinya seperti pembantu? Kenapa setelah papa meninggal mereka jadi jahat kepadanya?" tangis Vicia tersedu-sedu. Kalau saja papa masih hidup, tentu papa tidak akan membiarkan dirinya teraniaya seperti ini.
Akhirnya, walau dengan terisak-isak, Vicia mengerjakan semua yang diperintahkan mama tirinya. Tapi untunglah ada masih ada bi Minah yang segera mengambil alih semua pekerjaan Vicia, seperti biasanya.
"Sudah non. Enon tenang-tenang saja, biar bibi yang beresin semuanya," kata wanita itu cepat. Dia mengeluarkan hapenya lalu menelepon sebuah nomer. "Iya, gue butuh tiga orang. Buruan datang kemari!" katanya seraya menututup telepon. Tak berapa lama, datanglah tiga temannya. Dua perempuan, dan seorang lagi adalah laki-laki, yangg segera mendapat intruksi dari bi Minah. Lalu dalam sekejap, semuanya mulai mengerjakan pekerjaan Vicia.
Bi Minah memang hebat. Dia selalu datang saat Vicia membutuhkannya. Padahal mamanya sudah memecat bi Mina sehari setelah papanya meninggal dunia.
O iya, mama adalah ibu tiri Vicia, yang menikah dengan papanya. Mama tirinya itu punya dua orang anak gadis yang seusia dengannya. Namanya Lala dan Erni. Dahulu mereka bertiga baik sekali. Entah mengapa, semenjak papa meninggal, sifat mereka berubah menjadi sangat kejam kepadanya.
"Jadi...kamu selalu dipukulin ya?" tanya Andrea, di sms.
“Iya Ndre... Aku ga ngerti mengapa mereka jadi begitu. Padahal dulu mereka baik sekali." balas Vicia di sms.
"Sabar ya beibh. Aku pingin datang untuk menghiburmu, tapi apa daya, tempat tinggalku jauh banget darimu. Dan aku juga masih kuliah, ga bisa bolos begitu saja."
"Ga apa Ndre. Kamu udah dengarin aku aja, udah membuatku senang kok. Jangan pernah berubah, ya Ndre?"
"Iya, aku janji akan tetap mencintaimu."
Vicia menyudahi smsnya. Lalu menyimpan hp nya baik-baik. Sekarang, dia hanya bisa berhubungan dengan dunia internet hanya lewat hp. Karena laptopnya sudah dirusak Lala. Padahal laptop itu peninggalan dari papanya.
Pernah Andrea menawarkan akan mengirim Vicia uang untuk beli laptop yang baru. Namun Vicia menolak.
"Kamu tidak mau menerima pemberianku ya?" tanya Andrea di sms.
"Bukan begitu, Ndre. Kalo mama dan sodara-sodaraku tau aku beli laptop baru, mereka akan curiga dan menuduh aku mencuri uang mereka. Dan kalau aku berterus terang bahwa kau mengirimku uang, bisa-bisa mereka akan melarang aku berhubungan denganmu. Mereka tidak ingin melihat aku bahagia, Ndre," jelas Vicia sedih. Untunglah Andrea mengerti.
__ADS_1
Begitulah. Diam-diam, Vicia dan Andrea berhubungan walau jarak jauh. Yup. Mereka LDR alias Long Distance Relationship. Dan biasanya, hubungan ini butuh kepercayaan dan pengertian yang tinggi. Kadang, Vicia suka cemburu kalau ada cewek-cewek yang komen di status Andrea dengan nada kalimat manja dan mendayu-dayu. Demikian juga Andrea. Dia suka kesal kalau ada cowok yang jempol-jempolnya selalu menempel di status Vicia atau minta no hape gadis itu terang-terangan. Namun syukurnya mereka setia pada komitmen untuk saling menjaga hati, perasaan dan cinta. Selalu percaya bahwa mereka saling memiliki.
Hingga suatu hari…
"Apa ma?" tanya Vicia kaget, saat suatu malam mama memanggilnya ke ruang duduk. Di sana ada Lala dan Erni juga duduk, sambil bermain laptop.
"Iya, mama sudah terima lamaran pak Handoyo. Kamu sekarang resmi bertunangan dengan anaknya yang bernama Denny."
"Tapi ma... Aku… aku gak kenal sama orang itu…
“Nanti juga kamu akan kenal. Itu bukan masalah.”
“Lagi pula, aku kan masih sekolah, ma..."
"Setengah tahun lagi kamu tamat'kan?"
"Tapi ma, aku mau kuliah."
"Jangan membantah, Vicia! Mau kuliah segala! Biayanya dari mana? Memangnya papa kamu ninggalin uang yang banyak, apa?"
"Tapi kata papa, perkebunan kopi di belakang dipersiapkan untuk kuliahku..."
"Sorry, Vicia. Perkebunan itu sudah dijual.”
“A…apa? Untuk apa?”
“Ya untuk makan kita sehari-hari."
Vicia menelan ludah. Tiba-tiba dia ingat denga sebidang tanah lainnya."Kan masih ada tanah yang digarap orang, ma..."
"Itu juga sudah dijual juga untuk keperluan sekolah kalian semua."
Vicia hampir gila. Seluruh tanah peninggalan ayahnya sudah dijual tanpa diketahuinya sedikitpun. Lalu ia terpaksa batal kuliah karena sudah tidak punya biaya lagi. Tidak cukup sampai disitu, diapun harus bertunangan dengan orang yang tidak dikenalnya...??
"Ma, kenapa mama tidak meminta pendapatku terlebih dahulu?" ucap gadis itu lemah.
"Ga perlu. Kamu itu harus ikut kata-kata mama kalau mau selamat."
__ADS_1
"Selamat? Maksudnya selamat dari apa ma?" tanya Vicia mulai panik. Bagaimana hubungannya dengan Andrea, kalau dia harus bertunangan dengan org lain? Ya Allah... betapa hancurnya hati Vicia.
*****