
Hari kedua kuliah, ternyata dugaanku benar. Saat melewati rumah besar itu, sengaja aku melangkah pelan, membiarkan Lita mendahuluiku. Saat itulah aku kembali melihat cowo kemarin. Dia sedang menyiram mobilnya dengan air dari selang.
"Hai, Barbie," terdengar suara sapaan itu lagi, sama seperti kemarin.
Aku hanya tersenyum malu-malu kucing. Aku ingin menjawab "Hai juga," tapi entah mengapa mulutku terkunci. Untung masih bisa tersenyum.
"Mau kuliah, ya?" tanya cowok itu.
Aku mengangguk. Sungguh, senyumnya membuatku mati gaya, mati kutu, dan mati langkah ....
"Ayo buruan nyebrang, atuh Non! Makin lemot aja sih!" tiba-tiba Lita sudah menyambar tanganku dan kami menyeberang sambil berlari.
Cowo itu melambaikan tangannya, seperti biasa, aku hanya tersenyum malu.
*
Begitulah selama lima hari berturut-turut. Setiap berangkat kuliah, aku pasti memelankan langkah di depan rumah cowok itu, hanya agar dapat menikmati wajah tampan dan senyum seksinya. Dan cowok itu, setiap melihatku lewat, pasti selalu menyapaku dengan panggilan Barbie. Aku sangat senang dan bangga. Memang selama ini aku selalu suka bila di panggil Barbie. Tetapi entah mengapa kali ini aku merasa ada yang berbeda dengan diriku. Aku ingin lebih. Aku ingin lebih dikenal dari sekedar sapaan Barbie. Aku ingin dipanggil dengan namaku sendiri. Aku ingin sekali cowok itu memanggilku dengan sebutan Nona, namaku sendiri. Bukan Barbie. Karena itu bukan namaku. Itu adalah nama yang selalu menempel dibagian depan blusku. Aku ingin mendengar suara cowok itu melafalkan namaku. Bagaimana ya kedengerannya? Pasti seksi. Sebab dengan dipanggil Barbie aja aku sudah sangat senang. Apa lagi bila dipanggil dengan nama sendiri.
Tetapi bagaimana caranya? Kan malu banget kalau aku menyodorkan tangan lebih dahulu untuk mnyebutkan namaku. Aku jadi bingung sendiri. Ingin curhat sama Lita, aku gak berani. Lagi-lagi karena aku takut diledekin sama itu cewe.
Tetapi bukan itu saja yang akhirnya mengganggu pikiranku. Melainkan cowok itu. Sudah dua hari aku tidak melihatnya dibalik gerbang rumah besarnya. Dua hari tidak mendapatkan sapaan lembut dan senyum seksi cowo tampan itu, membuatku senewen. Setelah tiga hari, aku mulai resah dan berpikir yang aneh-aneh. Kenapa cowo itu tidak kelihatan lagi? Ke mana dia? Pergikah? Atau sakit? Ya ampun. Aku benar-benar dilanda sepi semenjak cowok itu menghilang selama tiga hari ini. Aku rindu. Iya! Aku benar-benar rindu. Apa yang harus kulakukan? Oh, aku harus bicara dengan Lita!
Dan ternyata benar dugaanku. Selesai mendengar keluh kesahku, reaksi Lita yang pertama adalah tertawa terbahak-bahak. Sial banget emang, aku ditertawai.
"Jadi selama lima hari kau disapa Barbie dan tak sekalipun kau menjawabnya?" tanya Lita ngakak sambil memegang perut. "Nona ... Nona. Aneh banget kamu!"
Aku hanya diam. Aku tahu, kalau aku berkomentar, pasti Lita makin semangat menertawaiku. Dan akhirnya Lita berhenti juga lalu menatapku dengan seksama. Matanya yang besar tampak semakin lebar.
"Kamu jatuh cinta ya?" tanyanya membuatku terlonjak kaget.
"Enggaklah. Kenal aja belom," jawabku cepat. Tapi rona merah tanda malu di wajahku gak bisa cepat-cepat kusingkirkan. Jadi aku yakin Lita pasti bisa menebak-nebak apa yang tengah kurasakan.
"Hei, jangan heran. Banyak kok orang yang jatuh cinta pada orang yang belum dikenalnya. Seperti si Minda, anak perbankan itu, dia kan tergila-gila sama drakula ... hahaha."
Aku hanya manyun. "So, gimana dong? Aku hanya ingin tahu kenapa dia menghilang selama tiga hari ini. Aku takut dia sakit atau kenapa-napa. Itu saja. Soal cinta atau enggak, itu urusan belakang," kataku akhirnya dapat mematahka tawa Lita. Gadis itu kini lebih serius menanggapiku.
"Oke. Kalau kau ingin tau ada apa dengan cowok itu, satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah mendatanginya!" ucap Lita tegas.
__ADS_1
"Hah?" aku mangap sepuluh detik. "Maksudmu, kita ke rumahnya?"
"Ya iya! Masa ke bengkel?"
Aku menggeleng, "Tapi kita aja gak tau namanya. Gimana kita bisa datang kesana?"
"Tenang saja. Serahkan semuanya padaku. Lita the Chipmunks ... hahaha!"
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Baru kali ini aku melihat ada gadis yang bangga menjadi tupai.
"Tapi aku harus merubahmu terlebih dahulu."
"What?"
"Iya. Kau ingin dikenal sebagai Nona'kan? Dan bukannya sebagai Barbie?"
"Iya ...."
"Kalau begitu, kau harus datang sebagai Nona. Ayo kita cari baju yang cocok untukmu."
Lita melengos, "Gak perlu. Kita cari di lemariku saja."
Aku langsung bereaksi, "Gak mau! Semua bajumu teng top, top less, mini dress, kemban, hot pant, bikini..."
"Hei, pasti ada yang cocok buatmu. C'mon, girl!"
Maka akhirnya, setelah lima jam, aku menemukan sebuah blus casual yang ada bacaan J-Lo di depannya, sebagai pilihanku.
So, setelah mengenakan Blus J-Lo yang dipadu dengan celana Jeans favo ngepas, aku dan Lita segera bergerak ke rumah besar dimana aku selalu melihat cowo itu. Sepanjang perjalanan, Lita memperingatkanku agar siap menerima jawaban terburuk yang akan kami dapatkan. Aku mengangguk. Aku memang siap dengan ribuan kemungkinan. Bagiku, yang terpenting adalah memuaskan rasa penasaranku. Pokoknya, aku harus tau siapa cowo itu dan dimana dia sekarang.
"Maksud neng, den Wisnu ya?" tanya seorang pria tua yang lari tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang. Sepertinya agak aneh baginya tiba-tiba ada dua cewe yang datang dan mencari anak majikannya.
"Iya, pak. Bisa kan bertemu Wisnu?" sambar Lita cepat.
Pria tua itu sedikit bingung. Saat yang sama, seorang wanita cantik keluar dan melangkah mendekat.
"Ada apa, pak Kumar?" tanyanya dengan suara lembut.
__ADS_1
"Oh, ini nyonya. Neng berdua ini ingin bertemu dengan den Wisnu."
Wanita cantik berusia sekitar empat puluhan itu memandang aneh kepadaku dan Lita.
"Maaf, boleh tahu kalian ini siapa dan ada perlu apa dengan anak saya?" tanyanya dengan lembut.
"Saya Lita, tante. Dan ini teman saya Nona. Kami...kami temannya Wisnu." jawab Lita cepat. Sementara aku hanya mengangguk-angguk sebagai dukungan. Tetapi wajah wanita di hadapan kami tampak semakin aneh.
"Benar kalian teman Wisnu?" tanyanya tak percaya.
"Sebenarnya hanya saya saja, tante. Saya yang mengenal Wisnu. Dan saya ingin bertemu, bila tante mengizinkan." ujarku cepat.
Wanita itu menatapku dengan seksama. Lalu ia mempersilahkan kami masuk. "Tunggu sebentar saya panggilkan Wisnu ya?"
Tak lama, wanita itu kembali dengan seorang cowo di belakangnya. Yup! Itulah dia! Cowo yang kurindukan selama tiga hari ini. Ternyata dia baik-baik saja. Aku segera berdiri, dan cowo itu menatapku.
"Wisnu, mereka teman-temanmu. Ayo sapa mereka." ucap wanita itu di samping anaknya. Tetapi cowo bernama Wisnu itu hanya berdiri kaku dan menatapku dengan pandangan kosong. Sungguh mengherankan, mengingat selama ini dia selalu ramah dan tersenyum sangat manis kepadaku setiap aku melewatinya. Lalu kenapa saat ini cowo itu tampak bagai mayat hidup? kaku dan tak bergeming sedikitpun?
Aku segera menguasai keadaan dan menyodorkan tangan, "Hai, Wisnu. Ini aku, Barbie, kamu ingat kan?"
Cowo itu menatapku dengan kening mengerut. Matanya yang indah tampak suram dan kelam.
"Aku Barbie, kamu selalu menyapaku kalau aku berangkat kuliah..."
"Tidak! Kau bukan Barbie!" ucap cowo itu memenggal kalimatku.
"Tapi..."
"Kau pembohong! kau bukan Barbie! Kau J-Lo! Kau bukan Barbie! Kau J-Lo!" teriak Wisnu bagai orang gila. Kemudian cowo itu mendorong bahuku sampai aku hampir tersungkur, lalu berlari masuk ke kamarnya.
"KAU PEMBOHONG! KAU BUKAN BARBIE! KAU J-LO!" teriaknya sambil membanting pintu.
Aku hanya terdiam. Lita terbengong menyaksikan semua itu. Sementara wanita tadi, tampak terduduk dan menangis tersedu-sedu.
"Tolong maafkan anak tante. Dia pasti tidak tau apa yang dia lakukan dan ucapkan. Sudah setahun ini dia seperti itu. Seperti kehilangan kesadaran...maafkan Wisnu..."
Setelah menghibur wanita itu, aku dan Lita pulang. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Bahkan aku, beberapa hari setelah itu lebih memilih berdiam diri di kamar. Aku masih bingung. Lama-lama, aku jadi sadar mengapa aku bersikap seperti itu, ternyata aku sudah jatuh hati pada seorang pemuda gila, dan kini aku sedang patah hati...hiks..
__ADS_1