
Mereka bertiga masuk ke kediaman keluarga Chandra, Margareta mengedarkan pandangan nya seolah mencari seseorang,
"Papi mana mi?" tanya Margareta.
"Papi mu ada di ruang baca, sebentar mami panggilkan dulu papi mu."
Nyonya Chandra pergi meninggalkan putri dan menantunya, beliau berjalan menuju ruang baca memanggil suami nya. Dalam hati beliau bertanya tanya, "ada apa dengan rumah tangga mereka?"
Kepala menggeleng cepat seolah membayangkan sesuatu buruk yang tidak ingin terjadi.
"Pi,,, ada Reta sama Adit ke sini, temui mereka dulu yuk, sekalian makan siang bareng!" ajak nyonya Chandra lembut.
Sedangkan yang di ajak ngomong hanya menjawab dengan anggukan saja.
"Hmmmm," jawab Tuan Chandra seraya menutup buku yang Beliau baca lalu menyimpan nya kembali dengan rapi.
Mereka keluar dari ruang baca bersama, menghampiri putri semata wayang dan menantu nya itu.
"Ehem,"
Untuk menunjukkan rasa hormatnya Adit dan Reta yang mendengar suara deheman ayahnya pun berdiri bersamaan,
__ADS_1
"Pi, sehat?" tanya Adit seraya mengulurkan tangan nya menjabat tangan mertua nya.
Sedangkan yang di tanya hanya mengangguk samar.
"Duduk lah," ucap tuan Chandra mempersilahkan.
Mereka berempat menikmati makan siangnya dengan tenang, hanya dentingan piring dan sendok yang terdengar di penjuru ruang makan itu.
Hanyut dalam pikiran nya masing masing hingga tidak ada yang bersuara.
Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga, menikmati teh hijau beserta desert bikinan mbok Sur.
tangga kalian?" Tuan Chandra mulai membuka pembicaraan.
"Gak ada papa pi, memang kita ada sedikit masalah sih, tapi sekarang sudah selesai." ucap Margareta dengan lembut, takut perkataan nya salah, ia berbicara sambil melirik ke arah suaminya.
"Benar yang Reta katakan pi, kami memang ada masalah, tapi semua nya sudah kami selesaikan." lanjut Aditya.
Tuan Chandra hanya mangut mangut seolah mengerti dengan rumah tangga putri nya.
"Kalau tidak ada masalah, kenapa Reta bisa kabur dari rumah? Papi tau Adit tadi pagi ke sini untuk mencari Reta, untuk apa coba? Adit sampe harus menyusul Reta kesini, kalau bukan masalah besar Adit gak akan sepanik itu." papar Tuan Chandra.
__ADS_1
Aditnya hanya menunduk, memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab serangan mertuanya.
"Maaf pi, Adit memang keterlaluan, Adit bikin kesalahan yang bikin Reta marah besar sampe harus kabur menghindar dari Adit."
Reta yang sedari tadi hanya diam dengan menundukkan kepalanya, seolah mempunyai tenaga untuk mendongak menatap tajam ke arah sang suami.
Pandangan mereka bertemu, Adit yang seketika tau maksud istri nya, ia mendadak jadi gusar, meraup wajahnya dan berusaha menghirup oksigen sebanyak banyak nya. Rasa nya suasana saat ini menjadi sangat sulit untuk bernafas bagi Aditya.
"Papi,,," Margareta mendekati papi nya, tangan nya menggenggam tangan keriput papinya, berusaha memberikan kekuatan pada papi nya agar penyakit papi nya tidak kambuh.
"Papi gak usah mikir macem macem yah, rumah tangga Reta baik baik aja, gak ada yang harus papi khawatirkan!" ucap Margareta meyakinkan papi nya.
Nyonya Chandra yang sedari tadi diam dan hanya mengelus punggung suami nya saja, beliau seolah tak ingin terjadi hal buruk terhadap suaminya. Beliau sudah mewanti wanti putri nya agar tidak membuat papi nya emosi.
"Papi,,, istirahat yah, jangan banyak pikiran, mari mami antar papi ke kamar!" ajak nyonya Chandra kepada suaminya.
Tuan Chandra hanya menurut dan berjalan menuju kamar utama bersama istrinya.
Nyonya Chandra mengambil obat untuk suaminya serta menyodorkan air putih ke hadapan suaminya.
Bersambung....
__ADS_1