
"Hallo tuan, nona Dea pingsan!" ucap bi Sri mengabari Adit.
"Apa, kok bisa pingsan sih bi?" tanya Adit penasaran.
"Udah dua hari ini non Dea jarang makan tuan, dan sering sekali melamun." jawab bi Sri dengan takut.
"Ya sudah bi, nanti saya akan segera pulang, sekarang Dea di mana bi?"
"Non Dea ada di rumah sakit lagi di periksa dokter tuan."
"Ok terima kasih bi, tolong jaga Dea dulu yah bi," perintah Adit pada bi Sri.
"Ada apa mas?" tanya Reta yang mendengar percakapan antara suaminya dengan pembantunya tersebut.
"Dea pingsan sayang, aku harus segera pulang, kamu mau ikut akau pulang atau gak?" ucap Adit panik.
Hati Reta sakit mendengar perkataan suaminya, Adit begitu panik ketika mendengar Dea jatuh pingsan, lalu bagaimana dengan dirinya, akankah perasaan suaminya kini sudah berkurang pada dirinya? Reta sedikit berpikir, terdiam sejenak dan memutuskan keputusan yang menurutnya baik bagi dirinya.
__ADS_1
"Mas, kita kan tadi pamit sama mami dan papi kalo kita hanya mencari makan di luar, masa kita mau langsung pulang gitu aja sih?" ucap Reta dengan hati-hati.
Adit berpikir sejenak, ucapan Reta ada benarnya juga, jika dirinya tiba-tiba pulang gitu aja, nanti mertuanya itu akan curiga.
"Terus kita harus gimana dong? gini aja deh, kita pulang dulu ke rumah papi kamu, kamu beresin semua barang-barang kamu, lalu kita pamitan sama mereka." usul Adit
"Aku gak mau ikut pulang mas, aku masih ada urusan di butik." ucap Reta berkelit.
"Terus kamu mau orang tua kamu curiga gitu? aku gak mau di tuduh menjadi penyebab papi kamu sakit lagi yah, ini semua ulah kamu sendiri, kamu yang mau aku menikahi Dea, kamu yang ingin semua ini terjadi." sentak Adit pada Reta
Adit melihat sekitar mereka, banyak mata memandang pada dirinya, tatapan sinis mengarah pada dirinya.
"Ayok cepat pulang." ucap Adit kasar.
Reta hanya mengikuti langkah suaminya itu, ia tidak ingin ribut di tempat umum, biarlah nanti Reta akan menyelesaikannya di dalam mobil saja.
Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, Reta meneteskan air mata, suami yang dulu sangat mencintai dirinya, kini telah berubah 180°, bahkan Reta di perlakukan kasar oleh Adit, tapi Reta sadar bahwa semua itu adalah ulah dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa mau kamu?" tanya Adit to the poin.
"Aku gak mau ikut pulang ke Jakarta, antar aku pulang ke butik, tapi sebelumnya kita pamit dulu sama mami dan papi." ucap Reta dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
"Sorry, aku gak bermaksud untuk menyakiti hati kamu," ucap Adit lembut, tangan nya menangkup wajah istrinya, lalu menghapus air mata di pipi sng istri dengan kedua ibu jarinya.
Reta hanya terdiam, membiarkan Adit melakukan apa yang Adit mau, tiba-tiba Reta menghambur ke pelukan Adit, ia memeluk tubuh Adit dengan erat seolah tak ingin kehilangan suaminya tersebut.
"Jangan pernah berubah." ucap Reta di dalam pelukan Adit dengan terisak.
"Sssttt, jangan ngomong gitu, aku akan selalu mencintai kamu, walaupun aku harus membagi kasih sayang aku, tapi rasa cinta ku lebih besar untuk kamu, rasa cinta ini akan selalu utuh untukmu dan tak pernah berkurang sedikitpun." ucap Adit lembut, tangannya membelai rambut panjang Reta.
Bersambung...
Maaf baru up lagi, karna kesibukan yang membuat otakku susah untuk berpikir,
Jangan bosen dengan cerita retcehku, jika kalian suka kalian bisa tinggalkan like n koment, tapi jika kalian gak suka abaikan saja, walaupun karyaku garing menurut kalian, dan terkadang alurnya ngaco, tapi setidaknya aku sudah membuat cerita ini menjadi lebih seru, maapkan jika ada kata-kata yang gak nyambung, karna terkadang otak ku juga kurang nyambung. Semoga bermanfaat bagi para readers, thanks for reading....
__ADS_1