
Adit mulai gusar dengan perasaan nya, hatinya mulai bercabang, di satu sisi di sini ia sedang bersama istri pertamanya yang sangat ia cintai, tapi di sisi lain hatinya memikirkan seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah tangga Aditya dan Reta, Aditya memikirkan Dea yang dari kemaren ia tinggalkan di rumah besarnya, meskipun di sana ada seorang pembantu yang menemani Dea tapi tetap saja hati Adit ketar ketir, Dea takut dengan kegelapan, Adit jadi teringat malam itu ketika mati lampu. Membayangkan hal seperti itu membuat Aditya senyum-senyum sendiri, Reta yang memperhatikan gerak gerik suami nya merasa sangat aneh dengan sikap suaminya tersebut.
"Kamu kenapa sih mas? kok senyum-senyum sendiri? aneh banget deh!" ucap Reta yang melihat hal tak lazim pada suaminya tersebut.
"Gak papa." ucap Adit kikuk, Adit lalu memasang wajah cool nya agar sang istri tak curiga dengan apa yang dia pikirkan.
"Kamu sudah selesai belun? turun yuk, laper nih." tanya Aditya yang memang cacing di dalam perutnya sudah berdemo minta di isi, sekarang sudah jam sepuluh waktu sarapan pun sudah mereka lewatkan dan jam makan siang pun sepertinya belom waktunya.
Akhirnya mereka turun, berpamitan pada kedua orang tua Reta, mereka ingin makan di luar, sarapan sekaligus makan siang.
"Mami,,," Reta berteriak memanggil mami nya berniat untuk berpamitan.
__ADS_1
"Apaan sih ta, teriak-teriak mulu, mami belum budek juga kali." jawab nyonya Chandra seraya berjalan dari kamarnya menghampiri anak dan menantunya tersebut.
"Reta sama mas Adit mau ijin dulu keluar mam, mau cari makan dulu." ucap Reta dengan senyum mengembang.
"Ngapain cari makan di luar, di sini juga banyak makanan yang tersedia, kamu tinggal sebutin aja mau makan apaan sama mbok Sur." timpal wanita tua yang masih terlihat cantik tersebut.
"Beda dong mam, kalo di luar kan bisa lihat pemandangan yang bagus dan indah gitu loh, gak itu-itu mulu kaya di sini." tuan Chandra menyambar obrolan mereka, beliau berjalan menuju tempat di mana anak dan ibu itu berbincang.
"Tuh papi aja tau mam, masa mami gak peka sih." ucap Reta membenarkan perkataan ayahnya.
Mereka berdua keluar dari rumah kediaman tuan Chandra, menuju garasi mobil tempat di mana Adit menyimpan mobilnya. Keluar dengan hati berbunga Reta bergelayut manja di lengan Aditya seolah tak ingin terpisah dari suaminya.
__ADS_1
Mobil melaju menuju cafe tempat yang biasa mereka datangi waktu masa pacaran dulu, entah kenapa Reta ingin sekali mendatangi tempat bersejarah tersebut.
*****
Di kediaman Aditya, Dea sedang duduk di taman belakang di temani segelas jus jambu kesukaan nya, matanya memandang kosong arah taman yang di penuhi bunga-bunga yang berbeda menghiasi taman tersebut.
"Kenapa mas Adit belum juga ngasih kabar yah? padahal kemarin dia bilang akan ngabarin aku." gumam Dea lirih.
"Pembohong, kata-kata nya gak bisa di percaya, dasar lelaki buaya, kalo udah dapetin apa yang dia mau pasti akan ninggalin begitu aja." hati Dea berkecamuk, memikirkan hal-hal yang negatif terhadap Adit suaminya.
"Sadar Dea, ingat tujuan mereka membayar kamu, kamu jangan sampe tergoda dengan rayuan dan sentuhan bosmu itu, ingat dia adalah bos kamu yang sudah mempunyai istri yang sangat dia sayangi, kamu hanyalah alat pencetak anak bagi mereka saja." sisi hati lain Dea ikut mengingatkan.
__ADS_1
Dea begitu bingung dengan perasaan nya, hingga ia pingsan tak sadarkan diri karna ia merasa pusing akibat terlalu banyak pikiran dan pola makan yang gak teratur.
Bersambung....