Kisahku Tak Seindah Impianku

Kisahku Tak Seindah Impianku
Bab 16


__ADS_3

Dea tersentak dari lamunan nya, dirinya seperti orang linglung yang tiba tiba melamun.


"Kamu kenapa sih De, kok malah melamun." ucap Rina penasaran.


"Gak papa kok Rin, aku hanya teringat keluargaku saja, bapakku baru selesai operasi, tapi Alhamdulillah operasinya lancar." ucap Dea sedih.


"Sabar yah De, semoga bapakmu lekas pulih." ucap Rina memeluk Dea seolah memberi kekuatan untuk sahabatnya tersebut.


"Makasih Rin. ya sudah aku pulang dulu yah, ini sudah sore takut nanti majikan ku pulang." ucap Dea.


"Loh memangnya mereka kemana? bukankah ini akhir pekan?" tanya Rina penasaran.


"Mereka ke Bandung mengunjungi orang tuanya ibu Marghareta," ujar Dea


"Oh," Rina hanya ber oh ria saja.

__ADS_1


"Ya sudah, hati hati jangan melamun." ujar Rina mengkhawatirkan.


"Iya,"


Mereka akhirnya berpisah, Dea pulang ke rumah majikan sekaligus suaminya, sedangkan Rina menghampiri anak asuh yang berusia 5 tahun itu.


Dea berjalan menyusuri jalan komplek, menuju rumah Aditya, hatinya gamang, pikiran nya melayang memikirkan seseorang yang kini sedang menemui istri pertama nya tersebut.


"Ahh kenapa aku selalu memikirkan kak Adit yah, buang jauh jauh otak mesum mu itu Dea," gumam Dea dalam hati, ia menggeleng menepis semua hal hal negatif yang bersarang di kepalanya.


Dea masuk ke kamarnya lalu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, mengisi bathub dengan air, lalu mencampurkan aroma esensial mawar kesukaan nya. Tak lupa ia juga menaburkan kelopak bunga mawar yang tadi pagi ia petik, aroma nya sangat menenangkan untuk menetralisir aliran darah di dalam tubuh Dea.


Dea menghirup pelan aroma itu, memejamkan matanya sejenak menikmati aroma mawar yang ia gunakan untuk menenangkan pikiran nya.


"Jangan sampai aku jatuh cinta dengan kak Adit, aduh sebenernya pantas gak sih aku panggil dia kakak? kok kesan nya kaya kakak adik sih? Ihhh dasar Dea bodoh banget sih." rutuknya dengan memukul mukul kepala nya.

__ADS_1


"Kalo panggil pak Adit udah kaya bapak ama anak, tapi emang bener sih, umurku yang baru delapan belas tahun, sedangkan dia sudah berumur tiga puluh lima tahun. Lebih pantas panggil mas kaya ibu Margareta sih, tapi bagaimana aku sudah terlanjur memanggilnya kakak. Ahhhh,,, aku jadi frustasi,,, bagaimana ini?" Dea terus saja merutuki dirinya, mungkin dia sudah ada hati untuk majikan nya yang kini menjadi suami nya tersebut, meskipun pernikahan nya hanya pernikahan siri tapi sah dalam agama. It's oke, Dea tidak mempermasalahkan hal itu, ia senang menjalaninya asalkan ayahnya bisa sehat kembali.


Kini Dea sudah selesai melakukan ritual mandinya, satu jam lamanya dirinya berendam dalam bak mandi, andai saja ia tak mendengar adzan magrib, mungkin ia masih akan tetap di dalam kamar mandi sana.


Dea segera beranjak, dan mengganti pakaian nya lalu masuk lagi ke kamar mandi untuk berwudhu.


Menjalankan perintah agama memang tak pernah Dea tinggalkan, ia adalah anak yang tekun dengan ibadah, orang tua nya mengajarkan agar Dea tidak pernah meninggalkan sholat.


Dea menjalankan kewajiban nya sebagai umat muslim, setelahnya ia berdo'a meminta pada sng kuasa agar ia di berikan yang terbaik dalam hidupnya.


"Ya ALLAH ampuni dosaku, semoga keputusan yang ku ambil adalah yang terbaik, berikanlah kesehatan untuk kedua orangtuaku, dan lindungilah suamiku di manapun ia berada. Amin"


Do'a Dea yang ia jabarkan pada sang pencipta.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2