Kisahku Tak Seindah Impianku

Kisahku Tak Seindah Impianku
Bab 23


__ADS_3

Dengan berat hati akhirnya Adit harus melepas pelukan nya dengan Marghareta, walau hatinya berat untuk meninggalkan istri kesayangannya, tapi di sana sudah ada istrii lain yang lebih membutuhkan dirinya.


"Maaf, " hanya kata itu yang keluar dari bibir Adit.


Reta hanya memejamkan mata sejenak, iapun tak kuasa menahan gejolak di dadanya, Reta keluar dari dalam mobil Adit, di ikuti Adit yang membuka bagasi lalu mengeluarkan koper milik istrinya.


"Kamu hati-hati di jalan, ingat jangan ngebut, kalo sudah sampe Jakarta, tolong kabarin aku." ucap Reta lirih, berat rasanya untuk mengikhlaskan sang suami pergi meninggalkan dirinya, tapi apa daya, semua memang terjadi atas kehendak dirinya, mau tak mau, ikhlas tak ikhlas, Reta harus rela jika Adit membagi cintanya dengan wanita lain.


"Ya sudah, aku jalan dulu yah sayang." cetus Adit seraya mengecup puncak kepala sang istri dengan lembut, Reta hanya memejamkan mata, menikmati sentuhan bibir Adit yang menempel di dahi nya, begitu nyaman bagi Reta saat ini, membuat hatinya semakin bergejolak tak rela melepaskan suami tercintanya.


Adit meninggalkan Reta yang masih mematung memandang kepergian nya, dengan cepat Adit melajukan mobilnya tanpa menoleh kearah Reta, karna melihat sang istri yang saat ini membuat dirinya semakin rapuh dan tak tega meninggalkan Reta, tapi di sisi lain di sana ada Dea yang lebih membutuhkan dirinya.


*****


Pukul delapan malam Adit sudah tiba di parkiran rumah sakit internasional, buru-buru Adit menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan Dea.


"Maaf sus, Dea Aprilia ada di kamar berapa yah?" tanya Adit pada suster jaga tersebut.


"Sebentar pak, maaf dengan bapak siapa yah?" ujar suster itu dengan sopan.


"Saya suaminya sus." jawab Adit tegas.


"Nyonya Dea ada di ruang VVIP di ujung lorong sana pak! " ucap suster tersebut, tangan nya mengarahkan lokasi tempat di mana Dea di rawat.


"Terima kasih sus." ucap Adit lalu meninggalkan suster tersebut dengan tergesa.


Brak,,,


"Dea, maaf aku terlambat." ucap Adit seraya berlari menghampiri Dea yang kini terbaring diatas bangsal rumah sakit. Di sebelahnya ada mbak Sri yang setia menunggu nona nya sedari tadi. Melihat tuannya sudah datang, mbak Sri segera bangkit dari duduknya, lalu membungkukkan badannya seolah memberi rasa hormat pada majikannya.

__ADS_1


"Tuan,,, nona dari tadi belum sadar juga." ucap mbak Sri pelan.


"Sedari dia pingsan belum juga siuman mbak?" tanya Adit pada mbak Sri.


"Iya tuan." jawab mbak Sri takut-takut.


"Ya sudah mbak Sri tolong jagain Dea dulu sebentar, saya mau ke ruangan dokter yang menangani Dea. titah Adit pada mbak Sri asisten rumah tangganya.


" Baik tuan." jawab mbak Sri seraya menundukkan kepalanya.


Aditya meninggalkan Dea dan mbak Sri, lalu menuju ruang dokter yang menangani istrinya tersebut.


"Permisi dok, saya suami dari pasien Dea Aprilia." ucap Adit ketika ia sudah berada di ruangan dokter yang bernama Wildan Sharma.


"Oh iya, silahkan pak, maaf dengan bapak siapa?" tanya dokter Wildan pada Adit.


"Saya Aditya." ucapnya sembari menjabat tangan dokter tersebut.


"Terima kasih dok."


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Adit penasaran.


"Maaf pak, sampai saat ini para medis hanya memprediksi jika istri anda kemungkinan terlalu kelelahan, entah itu fisik ataupun pikirannya, mungkin beberapa hari ini istri anda terlalu banyak pikiran, sehingga membuat imun tubuh nya melemah, dan pola makannya juga tidak teratur, maka dari itu lambung istri anda bermasalah akibat pola makan yang tidak teratur, istri anda hanya mengkonsumsi buah yang rasanya asam saja." papar dokter Wildan jelas.


"Maaf dok, tapi kenapa sampe saat ini istri saya belum siuman juga yah?"


"Oh,,, itu karena istri anda juga kurang istirahat, prediksi saya mungkin sebentar lagi istri bapak akan siuman, jika tubuhnya sudah cukup istirahat maka istri bapak akan segera siuman."


"Apa ada penyakit yang serius terhadap istri saya dok?"

__ADS_1


"Semoga saja tidak ada yah pak," ucap sang dokter meyakinkan Adit.


"Ya sudah kalo begitu saya permisi dok."


"Silahkan pak."


Adit meninggalkan ruangan dokter Wildan dengan hati yang tak menentu, jantungnya berdebar kencang, aliran darahnya berdesir seolah lebih cepat, entah kenapa perasaan Adit tidak bisa di kendalikan, seperti tak sabar untuk bertemu kembali dengan Dea.


"Mbak Sri pulang saja, biar Dea aku yang jaga." ucap Adit pada mbak Sri saatdirinya udah berada di ruang inap Dea tersebut.


"Baik tuan, kalo gitu saya permisi." ucap mbak Sri sopan.


Aditya hanya menganggukkan kepala dengan pelan.


Selepas kepergian mbak Sri, Aditya mendekat kearah bangsal, memperhatikan wajah Dea, beralih menuju lengan yang terpasang selang infus, membayangkan saja Adit sudah ngilu, karna dirinya pun takut dengan jarum suntik. Haa haa siapa yang menyangka jika lelaki kekar dan memiliki rahang tegas tersebut ternyata mempunyai pobia jarum suntik.


"Mas,,, mas Adit,,," ucap wanita yang kini sedang Adit pandang, Aditya tidak menyadari jika istrinya itu sudah siuman, sebab dia terlalu larut dalam lamunan nya.


Adit tersentak saat tangan mulus Dea mengelus pipinya, pandangn Adit langsung tertuju pada wajah Dea.


"Kamu sudah siuman Dea, manayang sakit? biar aku panggilkan dokter." ucap Adit panik sembari membolak balikan tubuh Dea.


"Aku gak papa mas." ucap Dea lirih.


Mendengar ucapan Dea tiba-tiba bulu halus Adit meremang, tidak seperti biasanya Dea memanggil dirinya dengan sebutan mas, mendengar kenyataan itu membuat aliran darah Adit semakin berdesir saja.


Bersambung...


Entah lah ceritanya nyambung atau tidak, maaf jika cerita ini gak enak untuk di baca, makasih buat yang udah mau mampir di karya ku ini,

__ADS_1


happy reading...


__ADS_2