Kisahku Tak Seindah Impianku

Kisahku Tak Seindah Impianku
Bab 22


__ADS_3

Mobil Adit melesat membelah jalanan kota Bandung yang saat itu agak sedikit lenggang, membuat mobil milik suami Margareta tersebut semakin mudah untuk sampai di kediaman mertuanya dengan cepat. Tak memakan waktu lama mobil milik Aditya sudah memasuki pekarangan rumah milik tuan Chandra, keduanya turun dari mobil, Margareta berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa, di susul oleh Adit berlari mengejar Marghareta.


"Ada apa ini? " ucap nyonya Chandrayang penasaran dengan tingkah laku putri dan menantunya tersebut.


Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan nya, nyonya Chandra hanya menggelengkan kepala, heran dengan Reta dan Adit.


"Apa yang terjadi yah, kenapa mereka sampe tergesa-gesa seperti itu? Bahkan tidak ada yang menjawab pertanyaan ku." gumam nyonya Chandra bertanya-tanya pada dirinya.


Sesampainya di kamar, Reta segera mengemasi barang-barang nya, ia juga akan pergi dari rumah orang tuanya dengan Aditya, agar orang tua nya tak mencurigai dengan rumah tangga mereka.


"Sayang, kamu yakin gak mau ikut pulang ke Jakarta?" tanya Adit seraya memeluk tubuh Reta dari belakang.


"Maaf mas, aku belum bisa pulang bareng kamu, aku masih pengin sendiri dulu, walaupun pernikahan kamu dengan Dea adalah permintaan aku, tapi aku sebagai seorang wanita merasa sakit hati, siapa sih yang rela di madu. " ujar Reta tegas, matanya nulai mengembun.


Cupp,,,


"Aku tau, andai saja aku menolak permintaan kamu, mingkin suasana nya gak akan seperti ini, walau aku tidak memiki perasaan apapun terhadap Dea, tapi aku punya tanggung jawab atas Dea sebagai istri aku, meskipun pernikahanku dengan Dea hanyalah siri, tapi sah di mata agama. Maaf jika aku menyakitimu." ucap Adit lirih, tangannya mengelus lembut lengan istrinya, bibirnya tak henti mengecup pipi Reta dari belakang.


"Sudahlah mas, Dea menunggu kamu di Jakarta, kalo kita seperti ini terus, kapan kelarnya" Reta melepas pelukan suaminya dan kembali membereskan barang-barangnya.

__ADS_1


"Selesa, ayok mas." ucap Reta mengajak suaminya keluar.


"Ayok, " Adit menggandeng tangan Reta lalu mereka keluar dengan beriringan.


Di ruang keluarga sudah ada nyonya Chandra dan tuan Chandra yang sedang bersantai sembari menikmati teh hijau buatan mbok Sur.


"Loh,,, kaliam mau kemana?" tanya tuan Chandra sembari meletakkan cangkir teh diatas meja.


"Mi, Pi, Reta sama Adit pulang dulu ke Jakarta." pamit Reta pada kedua orang tuanya.


"Kenapa buru-buru sih sayang." timpal nyonya Chandra.


"Iya mi, Adit ada urusan mendadak yang gak bisa di tinggal, jadi terpaksa kami harus pulang dulu ke Jakarta." ucap Adit menimpali perkataan nyonya Chandra.


Degg...


Jantung Aditya seolah berhenti, ia heran dengan kata-kata mertuanya, tuan Chandra seolah tau jika Adit telah menyakiti putrinya. Bagaimana ini? Adit tak berkutik sedikitpun, ia hanya menganggukkan kepala pelan.


"Jika ada yang menyakiti putri papi," tuan Chandra menjeda ucapan nya sejenak.

__ADS_1


"Papi tidak akan segan-segan untuk melenyapkan orang itu." Tuan Chandra menggertakkan giginya, menunjukkan dirinya yang sedang emosi.


"Sabar pi, siapa sih yang mau menyakiti putri kita satu-satunya. Tidak akan ada siapapun yang menyakiti putri kita pi." ucap nyonya Chandra seraya mengelus lembut punggung suaminya.


Seketika suasana yang tadi damai, kini berubah menjadi tegang, Reta yang menyadari hal itu, segera ia menyudahi ketegangan Aditya saat ini juga.


"Ya sudah pi, mi, kami pamit yah, jaga kesehatan kalian, terutama papi, jaga kesehatan yah pi." ucap Reta sembari memeluk orang tuanya satu per satu, di ikuti oleh Adit.


*****


Mobil Aditya berhenti di area parkiran butik milik istrinya tersebut, tapi ia masih menahan Reta untuk tidak keluar terlebih dahulu, Adit menggenggam tangan Reta erat, mengelus lembut tangan Reta dengan ibu jarinya.


"Kamu yakin gak mau pulang bareng aku sayang?" ucap Adit lembut.


"Maaf mas, aku belum bisa, nanti kalau hati aku sudah siap, pasti aku pulang dengan sendiri".


" Baiklah, kalo itu mau kamu, aku gak bisa maksa, pesen aku, jangan terlalu banyak pikiran, aku akan selalu mencintai kamu, tidak akan berkurang sedikitpun rasa sayang aku pada kamu." papar Adit lembut, ia lalu mengecup tangan istrinya, lalu berpindah ke dahi sang istri, lama bibir Adit mengecup lembut dahi Reta, memberikan arti tersendiri bagi mereka, yang satu menyalurkan rasa cinta nya pada sang istri, dan sang istri berpikir jika suaminya akan meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Banyak sekali pikiran negatif yang ada di dalam otak Reta, hatinya pun tak berhenti bergetar, entah kenapa rasa yang di salurkan oleh Adit saat ini tak seperti biasanya, rasa ini menyiratkan arti tersendiri bagi Reta, entah apa itu Reta belum tau maksud dari perasaannya tersebut.

__ADS_1


Bersambung....


Hai hai hai,, maaf yah aku baru back, hmmm entah kenapa aku tuh kayak males banget buat bikin cerita, seperti tak bersemangat gitu deh, tapi moga aja kedepannya aku jadi lebih bersemangat untuk nulis lagi, makasih buat kalian yang udah mampir di cerita aku yang retceh, makasih buat yang udah ninggalin jejak, pokona mah makasih banyak buat kalian semua.


__ADS_2