
"Aku sudah sampai di Jakarta." pesan yang di terima Marghareta dari Adit.
"Harusnya kamu mengirimkan pesan dua jam yang lalu mas, tapi kenapa baru mengirimnya sekarang?" gumam Reta, hatinya mulai berkecamuk, tanpa sadar ia meneteskan air mata, membayangkan jika suami yang ia cintai hingga saat ini mulai berpindah hati, sakit rasanya jika itu benar terjadi.
Reta menangis dalam diam, tak terasa suara ayam tetangga mulai terdengar di telinga Reta, ia melirik jam yang menggantung di dinding kamar yang berada di atas ruko miliknya, kini jam menunjukkan pukul tiga, mata Reta mulai layu dan terpejam dengan sendirinya. Sejenak Reta terlelap sebelum ketukan pintu terdengar nyaring di telinga Reta.
Ta, Reta,,, bangun ta, udah pagi nih, udah jam lapan," teriak sahabat Reta dari balik pintu kamar.
"Iya Ver, bentar lagi aku turun." jawab Reta dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Jangan lama-lama yah ta, toko udah buka nih, dibawah ada tante Dinda nungguin kamu tuh."
Seketika Reta membuka matanya dengan sempurna, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Mau ngapain tante Dinda ke sini, kalo mau beli baju kan bisa sama pelayan yang lain, terus ngapain dia nungguin aku segala." gumam Reta dengan segala pemikirannya.
"Ver, Vera,,," teriak Reta, tapi yang di panggil tidak menyahut sama sekali.
"Ishh cepet banget tuh jurig perginya," gumam Reta seraya membuka pintu lalu menutupnya kembali.
Reta masuk ke dalam kamar mandi lalu ia membersihkan diri dengan cepat, berganti baju dan tak lupa ia memoleskan bedak tipis pada wajahnya dan lipstik yang senada dengan warna bibirnya, tampak cantik dan elegan di mata siapapun yang melihatnya.
__ADS_1
Reta segera turun dari kamar pribadinya, menghampiri Vera dan tante Dinda yang sedang mengobrol di sudut ruangan butik milik Reta tersebut.
"Pagi tante," sapa Reta dengan sopan seraya menjabat tangan tante Dinda lalu mereka pun berpelukan.
"Pagi juga sayang, gimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah baik tan, tante sendiri gimana kabarnya?"
"Kabar tante baik juga ta, lama gak ketemu, dan penampilan kamu masih sama seperti dulu, masih tetap cantik." ujar tante Dinda dengan tatapan menelisik dari atas sampai bawah.
"Ahh tante bisa saja, umur Reta makin bertambah tante, mana mungkin tidak ada perubahan sama sekali." ucap Reta sambil bergurau.
"Iya seriusan loh sayang,"
"Iya lah masa tante boong, ohiya sayang, bagaimana kabar suami mu?"
"Baik juga tan, tapi mas Adit sekarang sudah kembali ke Jakarta."
"Yahhh,,, sayang sekali, tante gak bisa ketemu dong, harusnyatuh kemaren tante kesini nya."
"He hee, percuma juga tan, kalo kemaren tante kesini pun gak bakal bisa ketemu sama Adit, karna kemaren mereka di rumah om Chandra." ucap Vera menyela pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Benarkah? ohiya kabar orang tua kamu gimana ta?" tante Dinda kembali bertanya kabar keluarga Chandra.
"Baik kok tan, papi sama mami sehat." jawab Reta dengan sedikit ragu.
"Syukurlah kalo begitu. Kalo bisa minggu depan tante mau mengundang kalian makan malam di rumah tante, ajak Adit juga yah sayang!" ujar tante Dinda.
"Loh memangnya ada acara apa tan?" sambung Vera
"Anak tante pulang dari luar negeri, dia sudah menyelesaikan study nya di sana."
"Anak tante yang mana? Jihan atau Gibran?" tanya Reta penasara.
"Kalo Jihan gak mungkin dong ta, orang gue sering ketemu Jihan kok." sambung Vera
"Iya, bener kata Vera, Jihan kan kuliah di sini, di Bandung, dia mana mau jauh dari papi nya, kan anak papi dia mah." sela tante Dinda.
"Oh berarti si anak mami dong yang mau pulang." ucap Vera bercanda.
Mereka pun tertawa lepas, baru kali ini Vera melihat Reta tertawa renyah, melihat sahabatnya bahagia Vera pun ikut bahagia, ada semburat rasa malu juga di wajah Reta, karna Vera tau betul, Gibran adalah mantan terindah bagi Reta, kabarnya sih Gibran belum bisa move on dari Reta.
Bersambung...
__ADS_1
Thank's for reading...