
Hari ini adalah hari keberangkatan Abdul, Husen, Rama, dan Dito ke villa yang berada di Joglo. Villa orang tua Abdul sendiri. Mereka berlibur ke villa untuk menghilangkan penat sekaligus merayakan kelulusan SMA karena mereka baru saja selesai ujian nasional. Perjalanan ke villa menggunakan mobil Abdul. Sebelum perjalanan ke villa, Abdul sempat merengek agar di izinkan membawa mobil ke villa, dan akhirnya orang tua nya mengizinkan.
Perjalanan ke villa itu terlihat mengerikan. Karena di setiap jalanan tidak ada penerangan selain lampu mobil Abdul. Mereka berangkat sehabis solat isya. Perjalanan dari daerah mereka ke villa ini cukup jauh.
"Dit, gue minta minum lo dong. Haus gue," ucap Rama yang duduk di belakang bersama Dito.
"Miskin," cibir Dito lalu mengambil air mineral dari tas nya.
"Mulut lo, Dit. Minta gue tampol!" balas Rama, lalu Dito memberikan air mineral itu dengan tidak santai.
Terkadang mereka bertiga di buat kesal oleh sikap Dito. Sikap yang terlalu dingin dan cuek, apalagi kata-kata nya yang sering menusuk dan pedas. Tapi bagaimana pun, Dito adalah teman seperjuangannya waktu SMA. Dan mereka akhirnya sudah terbiasa. Hanya kadang Dito sangat menyebalkan.
Setelah meneguk habis sebotol air mineral. Rama melihat kesekelilingnya, gelap dan banyak pohon besar. Rama langsung bergidik ngeri. Rama sangat takut dengan gelap dan hantu. Dan itu menjadi bahan ejekan Abdul dan Husen.
Kalau Dito? Jangan di tanya. Dito lebih memilih diam. Tapi jika ia sudah benar-benar kesal dengan Rama. Kata-kata pedas itu sangat lancar di keluarkan dari mulutnya.
"Lo gak nyasar 'kan, Dul?" tanya Rama takut. Takut jika mereka benar-benar tersesat.
"Kok jalanan nya sepi gini. Mana gelep banget lagi," lanjut Rama.
"Enggak, Ram. Gue yakin ini jalannya," jawab Abdul.
"Lo takut ya, Ram?" tebak Husen yang duduk di samping Abdul yang sedang menyetir mobil, sembari menoleh ke Rama di belakang.
"Dasar cewek!" lanjut Husen, lalu dirinya kembali menatap jalanan di depan.
Rama berdecak kesal. Teman-temannya ini tidak pernah berubah, walaupun mereka sudah lulus. Selalu saja menganggap Rama seperti perempuan. Padahal ia lelaki sejati, hanya saja bentuk wajah nya yang jika di pakai 'kan kerudung akan terlihat seperti perempuan.
Mata yang terlihat sipit jika tersenyum, hidung mancung, bibir merah muda yang tipis, dan dagu yang runcing. Mungkin perempuan di luar-an sana akan iri dengan bentuk wajah Rama, dan mungkin mereka yang sering insecure. Akan berhenti dan memilih untuk bersyukur.
Tapi Rama berbeda, ia ingin sekali memiliki rahang yang keras dan tatapan yang tajam. Serta menjadi pemberani dan tidak takut apapun selain orang tuanya dan Tuhan. Tapi sayang nya, itu hanya ekspetasi.
Hening lagi. Tidak ada pembicaraan. Dito dan Rama yang duduk di belakang akhirnya terlelap tidur. Mungkin karena perjalanan sudah cukup lama.
__ADS_1
Sedangkan Husen? Ia memilih untuk menahan kantuk dan menemani Abdul dengan sesekali mengobrol. Di pikir-pikir tidak enak juga, mereka menginap di villa Abdul, Abdul yang membawa mobil dan Abdul yang menyetir.
Andai antara Rama, Dito, dan Husen, ada yang bisa membawa mobil. Mungkin Abdul tidak akan terlihat sangat lelah.
"Dul," panggil Husen tanpa menoleh ke Abdul, tatapannya masih lurus menatap jalan.
"Hem." Abdul berdehem sebagai jawaban.
"Sebelumnya, lo pernah ke villa bokap lo?" tanya Husen.
"Umm... pernah sih, pas gue umur delapan tahun kalo gak salah. Inget-inget lupa gue," jawab Abdul sembari mengingat-ngingat.
Husen manggut-manggut mengerti. Detik berikutnya, ia merasakan mata nya sangat berat. Mungkin Husen benar-benar mengantuk. Sesekali ia membulatkan mata nya agar tetap terjaga. Husen melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangannya. Jam menunjukan pukul 01:32, ini sudah larut malam.
Abdul melirik ke Husen yang berulang kali membulatkan mata nya pun akhrinya mengerti. Husen mengantuk. Dan Abdul juga mengerti bahwa Husen tidak enak hati untuk tidur dan membiarkan dirinya terjaga karena menyetir.
Abdul sama sekali tidak merasa terbebani. Justru ia gembira bisa berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-temannya, sebelum mereka bertiga masuk ke bangku perkuliahan. Mungkin nantinya mereka jarang bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
"Lo kalo mau tidur, tidur aja kali, Sen," ucap Abdul tanpa menoleh ke Husen.
"Ck. Keliatan banget kalo lo boong. Dari tadi gue perhatiin lo melotot-melotot. Pasti nahan ngantuk 'kan? Gue tadi minum kopi, jadi lo santai aja," perjelas Abdul.
Husen menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "Lo tau ya... yaudah deh gue tidur."
Husen segera terlelap dan tidur. Baru sebentar ia tertidur, suara Rama membangunkannya.
"Dul, gue kebelet pipis nih. Berenti dulu kek," ucap Rama sembari meringis kecil.
"Yaelah Ram. Disini mana ada toilet, ada nya pohon tuh," kata Abdul.
Dito yang mendengarnya pun langsung terbangun. "Nyusahin."
"Gapapa lah gue pipis di pohon. Udah gak tahan ini." Rama tidak memperdulikan cibiran Dito.
__ADS_1
Abdul langsung menghentikan laju mobilnya. Dan Rama buru-buru turun dari mobil.
"Berasa lagi liburan sama cewek," celetuk Husen.
Bukannya langsung pergi, Rama malah mengetuk-ngetuk kaca mobil Abdul. Abdul yang mendengarnya langsung menurunkan kaca mobilnya.
"Apalagi si, Ram?" tanya Abdul kesal.
"Anterin gue, Dul. Gue gak berani sendirian," pinta Rama dengan wajah memohon.
Abdul menghela nafas lalu mengangguk. Saat ia ingin membuka pintu, suara Dito menghentikannya.
"Biar gue aja," kata Dito.
Dito sebenarnya juga tidak enak hati. Ia merasa sangat menyusahkan Abdul. Pemikirannya sama dengan Husen tadi. Dan yang paling membuat Dito tidak enak hati, yaitu Rama. Rama ini sangat ribet ini-itu.
"Cepet," ucap Dito dengan wajah datar nya saat sudah di samping Rama.
"Gak sabaran banget lo." Rama segera berjalan duluan, sedangkan Dito mengikuti nya dari belakang.
✏
Dito sedang berdiri membelakangi Rama yang sedang membuang air kecil di salah satu pohon besar disini. Rama terus saja mengoceh dan itu membuat Dito benar-benar kesal karena telinga nya panas.
"Sekali lagi lo ngoceh, gue tinggal!" ucap Dito ketus.
"Baperan lo, Toto!" Rama segera menyelesaikan acara membuang aie kecil nya.
Saat Rama ingin berbalik badan, secara tidak sengaja manik mata nya menangkap sesuatu. Rama membelalakan mata nya kaget sekaligus takut.
"Kuntilanakkk!!!" teriak Rama kemudian berlari, sampai-sampai ia lupa bahwa ia membawa Dito.
Dito di buat bingung dengan Rama yang tiba-tiba berlari. Dito langsung menoleh ke belakang untuk memastikan apa yang di lihat Rama benar atau salah. Dan ternyata, di belakang tidak ada apa-apa. Kosong.
__ADS_1
Saat ia ingin menyusul Rama dan baru satu langkah Dito berjalan. Ia mendengar lirihan seorang perempuan tepat di telinga nya. Lirihan yang bersuara, selamat datang, hihi...