
Abdul menceritakan detail kejadian semalam pada Rama. Mereka sedang duduk di kursi meja makan. Abdul juga berpikir ia akan memberi tau Dito dan Husen, tapi apa mereka akan percaya? Karena mereka sendiri belum pernah melihat Ayu seperti semalam.
Walaupun Abdul tidak yakin bahwa Ayu adalah Lisa, tapi ada satu hal yang kemudian membuat ia yakin. Yaitu Ayu menolong nya semalam. Abdul mengira bahwa Ayu jahat dan ingin melukai ia dan teman-temannya. Tapi karena kejadian semalam, Abdul kembali di buat bimbang.
Rama juga tidak menyangka bahwa Ayu yang menolong Abdul. Jelas-jelas saat di air terjun Ayu menatap tajam diri nya.
Ini juga masih jam 6 pagi, sehingga Husen dan Dito belum keluar kamar. Kebetulan saja Rama sedang haus, dan karena itu ia bangun lebih pagi.
"Lo yakin ga, Ram? Kalo Ayu itu sebenernya... Lisa?" tanya Abdul setelah ia menyelesaikan cerita nya.
"Gue, gue kurang yakin, Dul. Jelas-jelas kata lo Lisa itu baik. Tapi Ayu, pas di air terjun dia melototin gue Dul! Serem banget," jawab Rama.
"Gue juga sebenernya kurang yakin. Tapi gara-gara kejadian semalem, gue jadi sedikit yakin sedikit engga," ucap Abdul lagi.
"Plinplan banget si lo," cibir Rama.
"Tapi ya Ram, gini-gini. Dari buku-buku yang gue baca, setan atau hantu itu 'kan gak napak di tanah ya? Terus Ayu. Ayu jalannya pake kaki loh." Abdul baru mengingat, setau nya setan atau hantu tidak menapak di tanah. Sedangkan Ayu yang di curigai bukan manusia kaki nya menapak di tanah.
"Iya juga si, Dul." Rama manggut-manggut mengerti.
Abdul menjentikkan jari nya. "Gimana kalo kita selidikin! Daripada penasaran terus."
"Hah?" Rama terkejut. Dari lubuk hati nya yang paling dalam, ia ke villa ini tidak ada niat sekali untuk menjadi detektif menyelidiki hantu. Ia niat ke villa ini untuk berlibur, bukan uji nyali.
"Dul... Dul. Gue kesini mau have fun. Dan lo? Nyuruh gue ikut nyelidikin tentang Ayu? Ayu yang bukan manusia!" tolak Rama mentah-mentah, dengan kegelapan saja ia sudah takut, dan ini? Abdul mengajaknya untuk menyelidiki setan? Rama tidak habis pikir. Ini liburan terseram yang pernah ia alami.
"Emang lo mau di teror terus sama si Ayu? Penasaran terus sama si Ayu?" tanya Abdul.
"Lagian gue... bentar lagi bakal kuliah di luar negri. Gue cuma di kasih waktu dua minggu disini, dan gue juga pingin banget ketemu Lisa. Karena gue gak tau lagi, kapan gue bisa kesini lagi," lanjut Abdul dengan suara lirih.
__ADS_1
"Gu–".
"Lo semua ngapain si? Nyurigain Ayu sampe segitu nya. Kalo Ayu denger, dia bisa sakit hati! ****." Dito yang baru saja datang langsung memotong ucapan Rama.
"Dit, gue sama Abdul itu bener! Gue sama Abdul liat sendiri Ayu berubah! Harus nya gue tanya sama lo. Lo kayak nya tertarik ya sama si Ayu? Gue liat-liat lo gak kayak biasanya," jawab Rama.
"Terserah. Gue cuma gak suka temen-temen gue jadi tukang fitnah," tukas Dito dengan suara dinginnya.
"Siapa yang fitnah si, Dit? Sebelumnya emang gue emang gak percaya. Tapi setelah gue liat sendiri, gue percaya!" sahut Abdul.
"Jangan-jangan emang lo suka sama Ayu," lanjut Abdul yang sudah terpancing emosi.
"Gue tekanin sama kalian! Gue, gak pernah suka sama Ayu!" elak Dito penuh penekanan.
"Alasan lo basi, Dit." Abdul menghela nafas kesal. Ia juga tidak tau kenapa emosinya menjadi tidak terkontrol.
Husen menghentikan langkah nya saat sudah di depan meja makan.
"Gara-gara cewek kampung itu lagi ya?" lanjut Husen karena ketiga temannya tidak membuka suara.
Dito tidak bisa menyangkal bahwa ia tidak kesal pada Husen karena kata-kata nya barusan. Ia kemudian mencengkram kerah baju Husen dan menatapnya tajam.
"Lo apaansi." Husen menepis kedua tangan Dito yang mencengkramnya.
"Dit, lo kenapa sih? Semenjak lo kenal Ayu, lo nambah ngeselin," sahut Rama kesal. Lalu Rama meninggalkan ruang makan daripada ia bertambah emosi karena Dito dan Husen.
Kemudian Abdul juga ikut meninggalkan ruang makan agar ia tidak semakin emosi. Ia harus menenangkan fikirannya yang sedang kacau.
"Gak jelas lo," cibir Husen yang kemudian ikut meninggalkan Dito di ruang makan.
__ADS_1
Tanpa disadari oleh kedua nya. Ayu yang berdiri di depan pintu villa Abdul yang tidak tertutup mendengar semua nga. Mata nya berkaca-kaca, ia menjadi sangat bersalah karena membuat pertemanan Dito dan yang lainnya bertengkar. Dan itu karena dirinya.
Sebenarnya Ayu juga tersinggung dengan ucapan Abdul dan Rama. Mereka menganggapnya bukan manusia. Ayu sakit hati, tapi ia juga tidak bisa mengungkapkan nya karena takut hubungan pertemanan Dito semakin renggang.
"Ayu ini benaran manusia..." lirih Ayu.
✏
Ayu langsung pulang kerumah nya, ia membuka pintu dan langsung menghampiri ayah nya yang sedang membuat jamu. Ayu hanya berdiri di samping ayah nya tanpa sepatah katapun.
"Eneng opo nduk?" tanya ayah nya yang peka kenapa putri nya hanya diam saja.
Ayu menoleh ke ayahnya. "Apa Ayu ndak boleh jatuh cinta, Pak?" tanya Ayu dengan suara bergetar.
"Apa Ayu ini bukan manusia?" lanjut Ayu dengan mata berkaca-kaca.
Ayah nya yang mendengarnya langsung meletakkan bahan-bahan untuk membuat jamu, dan kemudian menatap putrinya.
"Kamu itu pantas dicintai," jawab ayah nya.
"Kamu juga bukan manusia, karena kamu malaikat di hati bapak," lanjut ayah nya.
Ayu langsung memeluk sang ayah. Tanpa disadari oleh ayah nya, mata milik Ayu berubah menjadi putih semua, bola mata nya menghilang.
••••
Catatan:
-Eneng opo nduk\= Ada apa nak
__ADS_1