Kok Penasaran

Kok Penasaran
Arti Pertemanan


__ADS_3

"Lo jangan bercanda. Mana ada orang yang niup telinga lo. Kita cuma berdua disini, dan gue gak mungkin niupin telinga lo, kurang kerjaan," ucap Abdul setelah mendengar Husen berbicara bahwa ada yang meniup telinganya.


"Buat apa juga sih gue bohong?!" tanya Husen kesal. Ia benar-benar merasakan telinga nya di tiup oleh seseorang. Dan Abdul malah tidak percaya. Jujur, ia sangat sulit untuk menahan emosi.


Abdul menghela nafas. Ia lupa, satu temannya ini sangat sulit menahan emosi jika kesal. Jangan sampai mereka berdua bertengkar dan berpisah di hutan gelap ini. Abdul mengangguk agar masalah ini tidak panjang.


"Iyadeh sorry, gue percaya sama lo," ucap Abdul pasrah daripada dirinya dan Husen bertengkar.


Sementara Husen yang mendengarnya jadi tidak enak hati. Husen yakin, Abdul mengalahkan ego nya untuk dirinya, agar ia dan Abdul tidak bertengkar. Husen sebenarnya tidak ingin seperti ini, sulit untuk menahan emosi. Tapi apa boleh buat? Itu karakternya.


"Sorry, Dul. Tadi gue kebawa emosi," ucap Husen tidak enak hati.


Abdul menepuk bahu Husen. "Santai. Kita 'kan temen."


Husen tersenyum. Abdul begitu baik kepada nya. Abdul tidak pernah membeda-beda 'kan soal harta, padahal Abdul anak dari orang yang sangat berada. Sedangkan dirinya, jauh dari kata sangat. Ia terlahir dari keluarga sederhana. Tapi bagaimanapun juga, Husen tetap bersyukur karena lahir di tengah-tengah orang yang sangat menyanyangi dirinya.


"Lanjut jalan?" tanya Husen jenaka.


"Gas!" jawab Abdul, lalu mereka tertawa.


Baru beberapa langkah mereka berjalan. Lagi-lagi Husen tiba-tiba berhenti sembari memegangi kedua telinganya. Abdul yang melihatnya pun di buat bingung.


"Sen, lo kenapa?" tanya Abdul panik.


"Telinga gue... telinga gue... sakit," jawab Husen sembari terus memegangi telinga nya.


Abdul panik. Disini tidak ada siapa-siapa. Ia harus membawa Husen kemana? Belum lagi kemungkinan mereka tersesat dan susah untuk kembali ke mobil. Abdul juga masih bingung kenapa telinga Husen tiba-tiba sakit.


Abdul melihat ke sekeliling, kosong, gelap, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan suara jangkrik pun sudah tidak di dengar. Sebenarnya, ada apa di hutan ini? Kenapa tiba-tiba seperti ini.


Abdul melihat ke bawah, dan ia sudah mendapati Husen terduduk di tanah sembari terus memegangi telinganya. Abdul segera beranjak duduk di samping Husen. Ia menyingkirkan satu tangan Husen yang digunakan untuk menutupi telinga nya.

__ADS_1


Abdul ingin melihat apa yang terjadi dengan telinga Husen dengan bantuan senter di ponselnya. Tapi sial, saat Abdul ingin mengarahkan cahaya ponsel, justru ponselnya langsung mati.


Dan tidak lama setelah itu, Husen dan Abdul langsung jatuh pingsan.



"Jadi, dulu itu ada seorang perempuan yang meninggal secara tragis, Mas. Dan sampai sekarang, roh nya masih bergentayangan di sekitar sini. Apalagi kalo udah jam tiga pagi." Ayu menjelaskan inti dari masalah gadis itu pada Dito.


Dito mengangguk. "Gue ngerti."


"Oh iya Nak Dito. Apa Nak Dito mau menginap di rumah bapak?" sahut bapak nya Ayu.


Dito menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jujur, Dito sudah mengantuk. Dan setelah mendengar cerita singkat dari Ayu. Dito menjadi sedikit... parno.


"Ndak usah malu-malu, Mas. Justru kami yang malu karena udah ajak Mas menginap di rumah kami yang seperti ini," ucap Ayu, lalu tersenyum canggung.


Dito tersentak mendengar ucapan Ayu. Sebenarnya bukan itu maksdunya. Ia hanya takut merepotkan Ayu dan bapak nya. Masalah rumah? Dito tidak masalah untuk tidur disini. Bahkan jika di perbolehkan, Dito akan tidur di kursi ini, kursi yang ia tempati sekarang.


"Ndak merepotkan kok, Mas," balas Ayu.



Rama sudah terbangun dari pingsan nya. Ia hanya pingsan beberapa menit. Rama langsung melihat ke sekeliling. Aman, kuntilanak itu sudah pergi. Rama menghela nafas lega. Ini untuk kedua kalinya ia bertemu makhluk yang menyeramkan.


Rama kembali gelisah saat mengingat Abdul, Husen, dan Dito. Mereka belum kembali. Rama menunduk menyesal, karena jika bukan karena dirinya yang merengek ingin membuang air kecil. Mungkin ini semua tidak akan terjadi. Dan mereka pasti sudah sampai di villa milik Abdul.


Seharusnya Rama tadi menahannya saja.


Rama bersandar pada jok. Matanya terpejam membayangkan bagaimana nasib teman-temannya di dalam hutan. Rama memang pengecut. Tapi untuk seorang teman, Rama tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan susah. Karena itu, Rama membuka matanya dan bertekad untuk mencari temannya di dalam hutan.


"Gue... harus cari mereka! Gue gak boleh jadi pengecut!" tekad Rama.

__ADS_1


Saat Rama membuka mobil. Ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari teman SMA nya.


"Apaan, No?" tanya Rama dalam ponsel.


"Gue kasih tau lo ya, Ram. Soalnya gue nelpon kurcaci bertiga lo itu gak di angkat."


"Cepetan elah. Banyak omong banget lo." Rama mendengus, ini adalah telfon dari Vano, teman kelasnya yang sering membuat masalah pada ia dan teman-tamannya.


"Walaupun gue benci sama lo ber-empat. Tapi gue masih punya hati. Gue cuma mau bilang, kalo di villa itu..."


Tuttt


Panggilan tiba-tiba saja terputus. Rama berdecak kesal. Di saat seperti ini, sinyal di ponselnya malah hilang.


"Si Vano mau ngomong apa si?" monolog Rama bertanya.


"Vano gak penting. Yang penting itu kurcaci gue!" lanjut Rama.


Rama segera membuka pintu mobil. Tapi nihil, pintu nya tak kunjung terbuka. Rama sudah berulang kali mencoba nya, dan akhirnya Rama menyerah. Ia yakin Abdul menguncinya di dalam mobil. Dan tentu saja Rama tau apa alasannya, Abdul tidak ingin Rama ikut susah.


Rama tersenyum kecil. "Gue gak nyangka... kalian... segini nya ngejaga gue. Padahal berulangkali gue bilang... gue bukan cewek!" Di tiga kata terakhir, entah kenapa Rama menjadi kesal. Itu berarti, teman-temannya masih menganggapnya seperti seorang perempuan?



Dito sudah berbaring di kursi yang cukup lebar ini. Tadi ia sangat mengantuk, tapi saat ini? Mata nya malah tidak ingin terlelap. Kedua tangannya menjadi bantal di belakang kepalanya. Dito menatap langit-langit rumah gubuk ini. Ia memikirkan, apa teman-temannya meninggalkannya?


Tapi detik berikutnya, Dito tersenyum tipis. Ia sangat yakin temannya sedang mencari nya. Di ingat bagaimana perjuangan mereka saat SMA, berusaha menghargai satu sama lain, dan selalu membantu sesama teman. Jika salah satu dari mereka ada yang sedang kesusahan. Tiga yang lainnya, tidak akan tingal diam. Mereka bertiga akan mencari solusi agar masalah teman mereka yang satunya, clear.


Walaupun Dito terkadang membuat membuat mereka kesal. Tapi tidak pernah sekalipun mereka meninggalkan Dito dan mencari teman yang lebih asik.


Masa SMA, adalah masa dimana Dito benar-benar mengerti arti pertemanan yang sesungguhnya. Teman yang selalu membantu ketika susah, teman yang selalu berlibur bersama, dan teman yang saling men-support satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2