Kok Penasaran

Kok Penasaran
Malam Hari Saat Di Villa


__ADS_3

Malam tiba, keempat remaja itu bergegas tidur. Dito dan Rama menarik selimut sampai ke leher. Lampu kamar sudah ia matikan, yang ada hanya lampu yang berada di atas nakas di samping tempat tidur mereka.


Akhirnya Dito bisa tidur nyenyak daripada yang kemarin, walaupun dengan Rama. Dito sangat yakin bahwa Rama tidak bisa tidur dengan satu posisi. Pasti Rama akan bergeser kesana-kesini.


Baru saja Dito akan terlelap, suara lapar dari perut Rama membangunkan nya. Dito membuka mata nya dengan malas, ada saja gangguan saat ia ingin tenang. Dito melirik ke samping, disana Rama sudah menyengir ke arah nya.


"Gue laper, Dit," ucap Rama dengan kekehan.


"Terus," tanya Dito kurang peduli.


"Makan yuk. Makanan dari Ayu yang tadi masih ada 'kan? Daripada mubazir mending–" .


"Bangun," potong Dito yang sudah berdiri. Ia tidak ingin mendengar Rama mengoceh lagi.



Lampu di kamar Abdul sudah mati, penerangan hanya dari cahaya bulan yang sengaja horden jendela nya tidak di tutup oleh Abdul. Abdul ciri orang yang tidak suka jika tidur lampu nya hidup. Sebelum tidur, Abdul berdoa agar ia di pertemukan dengan seseorang yang ia panggil 'Lis' di dalam mimpi nya.


Abdul sangat merindukannya.


DUG


Lampu di atas nakas Abdul terjatuh, Abdul segera membuka mata nya dan menoleh ke sumber suara. Lampu nya terjatuh? Apa karena angin? Tapi di pikir-pikir tidak mungkin, karena jendela nya sudah ia tutup. Lalu siapa? Pintu kamar nya terkunci, teman-temannya tidak mungkin bisa masuk dan menjahili diri nya.


Abdul beranjak duduk. Tiba-tiba saja manik mata nya menangkap sesuatu di pojok kamar. Sesuatu itu adalah seorang perempuan yang sedang meringkuk dan menenggelamkan kepalanya di atas tumpukan kedua tangannya. Lama-lama Abdul mendengar sosok perempuan itu terisak.


Baju putih nya sangat lusuh dan kotor, rambutnya berantakan. Sebenarnya siapa perempuan ini? Dan dari mana ia berada di kamar Abdul?

__ADS_1


Abdul beranjak berdiri lalu melangkahkan kaki nya ke sosok perempuan itu. Saat diri nya dan sosok perempuan itu sudah dekat. Abdul langsung menyapa.


"Hey," ucap Abdul setelah di depan perempuan itu.


"...".


"Lo... kenapa ada di kamar gue?" tanya Abdul.


"..." Sosok perempuan itu tidak menjawab dan ia malah makin terisak.


Abdul tidak tega mendengar nya. Abdul memberanikan diri untuk memegang bahu perempuan itu. Tapi belum sampai tangan Abdul di bahu nya, perempuan itu sudah mengangkat wajah. Dan Abdul langsung menjauh karena ia yakin yang di depannya bukan lah manusia. Wajah nya sangat hancur dan menatap Abdul sendu.


"Abdul..." lirih sosok perempuan itu.


Abdul memundurkan diri nya, dan tiba-tiba saja ia terbangun dari tidurnya dengan nafas yang tersenggal-senggal dan keringat yang bercucuran.


"Cuma mimpi," monolog Abdul.


Abdul mengambil segelas air yang berada di nakas di samping tempat tidurnya. Ia harus menetralkan pikirannya dan jangan terlalu memikirkan mimpi barusan. Yang ia minta adalah untuk bertemu seseorang yang ia panggil 'Lis' di dalam mimpinya. Bukan setan itu.


Tiba-tiba saja Abdul mendengar suara langkah kaki di depan kamar nya. Abdul yang sedang meneguk minum nya langsung berhenti dan meletakkan kembali gelas itu ke nakas. Ia penasaran siapa yang berjalan malam-malam di depan kamar nya seperti ini.


Abdul berjalan pelan-pelan ke dekat pintu kamar. Saat ia sudah di belakang pintu, Abdul langsung menempelkan telinga nya ke pintu. Dan benar saja, seseorang seperti sedang lewat di depan kamar nya. Dan yang lebih membuat Abdul bingung, adalah suara langkah kaki itu hanya mondar-mandir di depan kamar Abdul.


Apa teman-temannya berusaha mengerjai jya dan membuat nya takut? Pikir Abdul. Lalu Abdul melihat ke arah jam, jam menunjukan pukul 12:00 malam. Teman-temannya pasti sudah tidur. Karena ia dan teman-temannya adalah tipe orang yang jarang sekali begadang jika tidak ada urusan tertentu.


Abdul rasa bukan teman-temannya yang mondar-mandir tidak jelas di depan kamar nya. Saat Abdul sedang sibuk-sibuk nya berfikir, tiba-tiba saja langkah kaki itu terhenti dan Abdul langsung mematung di tempat. Abdul memang tidak takut dengan hantu, karena itu bagi nya hanya ilusi pikiran dari para jin agar kaum manusia takut.

__ADS_1


Tapi kalau seperti ini? Abdul tidak bisa menjamin bahwa dirinya pemberani, villa nya cukup besar dan hanya di huni oleh diri nya dan ketiga temannya. Abdul berusaha berfikir positif agar ia dapat tenang, tapi belum saja Abdul mendapat ketenangan, seseorang mengetuk pintu nya dengan perlahan.


Tok


Tok


Tok



Di meja makan, Rama sedang memakan makanan yang Ayu kasih tadi, lumayan daripada ia menunggu lama karena Dito memasak dulu, lebih baik Rama memakan masakan Ayu. Masakannya masih enak, Rama tidak menyangka masakan Ayu bisa se-enak ini. Padahal hanya sayur kangkung dan ikan mas goreng.


Dito hanya menemani Rama makan, ia tidak ikut makan karena menurutnya makan makanan seperti nasi dan yang lainnya pada malam hari tidak baik bagi kesahatan. Itu menurutnya. Dito memilih memainkan ponsel nya sembari menunggu Rama selesai makan.


Ting


Ponsel Dito berbunyi, ada satu pesan dari seseorang yang nomornya tidak di simpan oleh Dito di WhatsApp. Pesan itu bertuliskan 'Dit, walaupun gue benci sama lo dan temen-temen lo waktu SMA. Tapi gue masih punya hati, gue cuma mau ingetin ke lo. Kalo di villa Abdul itu bahaya. Lebih baik, lo sama temen-temen balik ke kota'.


Dito mengerutkan kening nya setelah membaca pesan itu di dalam hati. Ia bertanya-tanya, memangnya di villa Abdul ada apa? Memang sih villa nya sedikit menyeramkan, tapi itu tidak menjadi 'kan Dito takut akan villa ini. Menurutnya jika villa ini seram, wajar saja karena villa ini banyak sekali pohon-pohon tinggi dan villa ini sudah lama sekali tidak di tempati.


"Ngapa lo, Dit?" tanya Rama yang memperhatikan perubahan wajah Dito.


"Gak papa," jawab Dito sembari terus memandangi ponselnya.


"Kayak cewek aja lo, kalo di tanya-in jawab nya gak papa," balas Rama.


"Ngaca," kata Dito santai tapi cukup membuat Rama kesal.

__ADS_1


Rama kembali menatap makanan nya. Tapi aneh nya, ikan mas goreng itu sudah tidak ada di piring nya. Padahal Rama yakin ia belum menghabiskan ikannya. Jika benar ikannya sudah habis, pasti tulang-tulang nya akan tetap berada di piring. Tapi ini? Semua nya hilang.


"Dit, kok ikan gue ilang ya?" tanya Rama bingung.


__ADS_2