
Rama berhenti di samping mobil Abdul dengan tangan yang meyanggah di lutut, nafas nya tersenggal-senggal, dan keringat bercucuran di dahi nya. Baru pertama kali ini Rama melihat makhluk halus, apalagi kuntilanak itu wajah nya sangat seram. Ini mimpi buruk bagi Rama.
Abdul melihat dari balik kaca mobilnya. Ia bertanya-tanya pada diri nya, ada apa dengan Rama? Dan dimana Dito? Mengapa Rama hanya sendirian? Bukannya tadi Rama bersama Dito? Tidak ingin menyimpan banyak pertanyaan. Abdul segera turun dari mobil dan menghampiri Rama.
Rama sepertinya tidak menyadari bahwa Abdul sudah berdiri di sampingnya. Rama masih menyanggah lutut nya dengan nafas tersenggal-senggal. Abdul memegang bahu Rama, dan Rama langsung terlonjak kaget sembari berteriak.
"Kuntilanakkk!!!" teriak Rama.
"Lo apaansi, Ram." Husen yang baru datang langsung menyahut.
Rama memegang dada nya. "Untung bukan setan."
"Setan apa si maksud lo?" tanya Abdul tidak mengerti.
"Tadi Dul! Tadi ada kuntilanak!" jawab Rama dengan wajah seserius mungkin.
"Apaan si lo. Ngaco. Jaman sekarang mana ada setan," sahut Husen.
Rama langsung menoleh ke Husen. "Tapi gue beneran liat, Sen!".
Abdul menggelengkan kepala nya. "Mungkin lo kecapean, Ram. Maka nya halu."
"Ck. Kalian kenapa si gaada yang percaya sama gue," decak Rama kesal.
"Musyrik percaya sama lo," balas Husen.
"Terus sekarang Dito dimana?" tanya Abdul tiba-tiba.
Rama langsung membelalakan matanya. Tadi 'kan ia meninggalkan Dito di pohon kuntilanak itu. Apa jangan-jangan... Rama langsung menggelengkan kepala nya. Memang nya kuntilanak makan manusia? Setau Rama, hantu itu hanya menakut-nakuti, tidak mencelakai. Walaupun Rama tau bahwa hantu itu tidak mencelakai, tapi kenapa dirinya selalu takut?
__ADS_1
"Dito ketinggalan," jawab Rama dengan polos nya.
Husen menghela nafas kasar. "Kenapa lo tinggal si, Ram? Dito 'kan nemenin lo."
"Gue juga gak mau ninggalin, Sen. Tapi tadi ada kuntilanak. Ya gue reflek lari lah. Dito nya aja yang kebanyakan jadi batu," elak Rama.
"Lagian ya... kalian." Rama menoleh ke Husen dan Abdul bergantian.
"Sini." Rama memberi isyarat dari tangannya agar Husen dan Abdul mendekat. Akhirnya mereka mendekat ke Rama.
Rama kemudian berbisik. "Pohon disini itu... banyak hantu nya."
Husen dan Abdul langsung menjauh dengan ekspresi kesal.
"Mending lo tidur di mobil deh, Ram. Beneran kayak lo kecapean," ucap Abdul setelah menghela nafas.
"Iyalah mending lo tidur. Cewek gak baik begadang malem-malem. Biar gue sama Abdul yang cari Dito," tambah Husen. Rama hanya berdecak lalu memasuki mobil.
✏
Husen sedikit kesal dengan Rama ataupun Dito. Seharusnya mereka sebentar lagi akan sampai ke villa. Tapi karena Rama yang merengek ingin membuang air kecil dan minta di temani, Dito yang menemani nya pun menjadi hilang. Husen yakin, Dito tidak ingin berteriak meminta tolong jika tersesat. Jika di tanya, Dito akan selalu menjawab 'suara gue mahal'.
Abdul sendiri sekarang sudah merasakan kantuk. Berulang kali kepala nya serasa ingin jatuh saat ia berjalan, dan berulang kali juga Abdul menahannya. Ia dan Husen belum menemukan Dito. Dan Abdul tidak mungkin kembali tanpa Dito. Ia bukan tipe orang jika temannya sedang susah, ia akan meninggalkannya.
"Dito!!!" teriak Abdul di sela-sela mereka berjalan, berharap Dito akan mendengarnya dan menghampirinya.
"Dito lo dimana!!!" Sekarang gantian, Husen yang berteriak.
"Percuma juga Dul kita teriak. Dito gak bakalan nyaut," ucap Husen sebelum Abdul ingin berteriak lagi.
__ADS_1
Abdul terkekeh kecil. "Gue lupa, gue temenan sama orang-orang unik. Dari mulai lo yang susah nahan emosi, Rama yang kayak cewek, sama Dito yang kayak batu."
Husen yang mendengarnya pun langsung menepuk bahu Dito sembari terkekeh. "Itu yang bisa buat sebuah pertemanan itu indah. Kita bisa belajar saling menghargai."
"Gue juga yakin, pas gue kuliah. Gue gak bisa nemu manusia-manusia kayak kalian," balas Abdul.
✏
Disisi lain, Dito terus berjalan di sepanjang pohon-pohon besar. Tapi kenapa ia tidak bisa menemukan jalan pulang? Belum lagi ia tidak membawa ponsel, jadi tidak ada penerangan yang menemani Dito untuk kembali ke mobil.
Walaupun sedang berada di situasi seperti ini. Dito tetap tenang dan yakin ia bisa keluar dari sini. Ia sama sekali tidak berteriak meminta pertolongan. Bagi nya, itu hanya akan membuang-buang tenaga. Apalagi di saat seperti ini, saat ia tersesat, ia sangat butuh tenaga.
Dito menyibak rerumputan liar yang menjalar di depannya dengan tangan. Mata nya memincing agar dapat melihat jelas. Ia melihat, ada sebuat cahaya dari rumah gubuk di sebrang sana. Di dalam hutan seperti ini, masih ada rumah? Pikir Dito bertanya-tanya.
Dito lalu berjalan ke arah rumah itu. Dan benar, ini memang rumah, bukan ilusi nya atau halu. Dito berhenti di depan rumah itu, ia ragu untuk mengetuk pintu nya atau tidak. Sudah di bilang, di saat seperti ini, ia sangat butuh energi. Dan sekarang, Dito sangat haus dan membutuhkan air.
Setelah menimbang-nimbang berulangkali, akhirnya Dito memutuskan untuk mengetuk pintu rumah gubuk itu. Sebenarnya ia gengsi untuk melakukan ini, tapi apa boleh buat? Rasa haus nya mengalahkan rasa gengsi nya.
Tok Tok Tok
Dito mengetuk pintu papan itu. Selang beberapa detik, pintu terbuka dan muncul seorang gadis berparas cantik dari rumah gubuk itu.
Gadis itu nampak bingung melihat Dito. Dari pakaiannya, gadis itu dapat menyimpulkan bahwa Dito anak kota. Dan yang gadis itu tau, anak kota itu suka bertindak seenaknya dan tidak memiliki sopan santun.
Pikiran gadis itu melayang yang tidak-tidak tentang Dito. Daripada terjadi apa-apa dengan dirinya dan ayah nya yang berada di rumah gubuk ini, gadis itu memilih untuk menutup pintu rumah nya kembali. Tapi dengan cepat Dito mencegahnya.
"Sorry, gue... cuma mau minta minum," ucap Dito dengan wajah datar nya.
Gadis itu menatap curiga pada Dito. Ia tidak yakin pada ucapannya.
__ADS_1
"Kalo lo takut sama gue, gue tunggu diluar, lo bisa ambil minum dan tutup pintu nya." Baru kali ini Dito berbicara panjang lebar pada seorang perempuan, biasanya Dito sangat malas jika berbicara pada perempuan.
Akhirnya gadis itu percaya dan mengangguk. Lalu ia menutup pintu nya dan mengambilkan segelas air pada Dito di dalam. Sedangkan Dito, ia duduk di bangku reot yang berada di depan rumah gadis itu.