
Husen sedang memasukkan baju-baju nya ke dalam lemari. Kamar di villa Abdul cukup luas, tidak seperti di kamar nya yang asli. Semua baju-baju sudah ia masukkan, tapi ada satu barang yang masih berada di kopernya. Husen bingung harus menaruh nya dimana. Apa di dalam koper saja? Husen tersenyum kecil saat melihat benda yang ia bawa.
Benda itu adalah, jailangkung. Husen tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Rama jika mengetahui diri nya membawa benda seperti ini. Di bayangkan saja sudah membuat Husen menahan tawa nya. Ya, Husen memang sudah memikirkan jauh-jauh hari tentang hal ini. Mendengar villa Abdul dekat dengan pohon-pohon besar. Ini tempat yang cocok bukan? Untuk bermain jailangkung.
Beberapa orang menganggap permainan ini membahayakan. Tapi bagi Husen, ia tidak terlalu percaya bahwa permainan ini membahayakan, karena ia belum mencoba. Dan agar Husen dapat membuktikan, apa benar permainan ini dapat mengundang setan.
Husen sendiri lupa untuk berbicara pada Abdul bahwa ia membawa boneka jailangkung. Entah lah apa reaksi ketiga temannya nanti. Husen belum tau, mereka akan marah atau malah bermain bersama.
Saat Husen sudah menaruh koper nya di pojok ruangan, ia segera berjalan ke ranjang. Jailangkung tadi ia taruh saja di dalam koper. Husen duduk di pinggir kasur, mengamati pemandangan pohon-pohon dari balik kaca jendela. Tapi, tiba-tiba saja sebuah bola keluar dari bawah kasur dengan perlahan. Husen bingung, siapa yang sebelumnya bermain bola di kamar villa ini.
Sssttt
Husen merasakan seseorang lewat di belakangnya. Dengan gerakan cepat, Husen menoleh ke belakang. Dan yang ia dapatkan, tidak ada apa-apa, kosong. Ah, rasa nya Husen semakin tertarik untuk bermain jailangkung di villa ini.
✏
Dito dan Rama sedang berada di dapur untuk memasak mie instan, di pikir-pikir dari kejadian semalam mereka berdua belum makan apapun, begitu juga dengan Husen dan Abdul.
Rama hanya memperhatikan di dapur, dan Dito yang memasak. Dito bilang, jika Rama ikut memasak malah akan membuat nya ribet dan kesal. Cukup mulutnya saja yang selalu mengoceh, jangan sampai tangannya ikut kesana-kemari menghalangi Dito yang ingin memasak.
"Lo dirumah sering masak gak si, Dit?" tanya Rama di sela-sela Dito memasukan mie kedalam air yang sudah masak.
"Hem." Dito berdehem.
"Nyokap lo emang gak masak? Terus bokap lo makannya gimana?" tanya Rama lagi.
"Banyak tikus dirumah gue," jawab Dito malas. Walaupun Dito sering memasak, tapi Mama nya juga terus memasak setiap hari. Tidak mungkin seorang ibu rumah tangga tidak memasak setiap hari, kecuali kalau mereka lagi sakit.
Rama melotot 'kan mata nya sekaligus mendekat ke Dito. "Orang tua lo psikopat, Dit?" tanya Rama tidak percaya.
"..."
"Dit!" panggil Rama kesal karena Dito tak kunjung membuka suara.
"Sekali lagi lo ngomong, gue potong lidah lo," ancam Dito. Hanya ancaman, tapi Rama langsung menjauh dan menatap Dito kesal.
"Cih, anak psikopat," gumam Rama kesal.
"Dari pada lo gak berguna disini, mending lo panggil yang lainnya," suruh Dito sembari mengangkat mie-mie nya.
__ADS_1
"Hem." Rama mengikut-ngikuti Dito yang sering berdehem sebagai jawaban, kemudian ia melangkahkan kaki nya untuk memanggil Husen dan Abdul karena makanan sudah siap.
✏
Rama berjalan menaiki tangga untuk memanggil Husen dan Abdul, kamar mereka berdua ada di atas, yang di bawah hanyalah Dito dan Rama. Sebenarnya Rama juga ingin kamar di atas. Tapi apalah daya nya, ia hanya mengikuti Dito. Dan Dito tidak ingin kamarnya di atas karena menurutnya hanya akan membuat nya lelah naik-turun tangga.
Saat di pertengahan tangga, langkah Rama terhenti karena mendengar suara tangisan.
Hiks
Hiks
Hiks
Itu seperti suara perempuan, tapi 'kan di villa ini hanya ada dirinya, Dito, Husen, dan Abdul. Dan mereka semua laki-laki, termasuk Rama. Apa di villa ini sebelumnya ada yang menempati dan itu seorang perempuan? Pikir Rama. Kalau iya, itu tidak mungkin. Karena Abdul pernah bilang, yang menempati villa nya hanyalah keluarga nya. Lalu? Tangisan siapa itu?
Tidak ingin berlama-lama di tangga dengan di selimuti ketakutan, Rama segera berlari secepat mungkin ke kamar Abdul.
✏
Rama langsung saja menerobos masuk ke kamar Abdul. Abdul yang masih mencari sesuatu langsung terlonjak kaget, lalu menatap Rama kesal. Bagaimana tidak kesal? Rama masuk terburu-buru dan tanpa permisi.
"Lo kenapa sih, Ram? Masuk buru-buru," tanya Abdul kesal.
"Itu Dul... itu!" jawab Rama takut.
"Itu apaan?" tanya Abdul tidak sabaran.
"Ada orang nangis, Dul! Di tangga! Suara cewek lagi!" ucap Rama menggebu.
Abdul langsung mengusap-usap dagu nya dan memperhatikan Rama dari atas sampai bawah sembari berjalan mendekati Rama. Rama yang mendapat perlakuan itu langsung melangkah mundur. Apa Abdul kerasukan? Pikir Rama.
"Lo ngapasih?! Lo nafsu sama gue?" tanya Rama mulai tidak masuk akal.
Abdul langsung berhenti dan menatap Rama malas. "Najis, Ram!".
"Yang di tangga itu... jangan-jangan lo ya?!" tuduh Abdul.
"Mulut lo!!!" geram Rama.
__ADS_1
"Gini-gini gue bukan lucinta lun!" lanjut Rama.
"Ya ya ya. Gue becanda." Abdul terkekeh.
✏
Mereka ber-empat sedang makan di meja makan yang sudah di siapkan oleh Dito sebelumnya. Tidak ada pembicaraan, hanya ada dentingan sendok dan garpu. Sampai akhirnya, Rama membuka suara.
"Eh, kalian tau gak?" tanya Rama membuka suara.
"..."
"..."
"..."
Tidak ada yang menjawab, mereka sibuk makan.
Rama mendengus kesal. Teman-temannya ini selalu saja membuat nya kesal. Padahal 'kan Rama ingin curhat. Curhat tentang perempuan yang menangis di tangga. Husen dan Dito 'kan belum tau.
"Lo mau ngomong apa, Ram?" Akhrinya Husen membuka suara.
Mata Rama langsung berbinar, ternyata temannya ini masih peduli. "Lo tau gak? Gue denger cewek nangis!" ucap Rama antusias.
"Bukannya itu lo ya?" balas Husen santai nya.
Rama berdecak kesal. "Lo sama Abdul sama aja! Sama-sama mulutnya pingin gue streples!".
"Bacot!" Dito membuka suara karena teman-temannya ini tidak bisa diam saat makan. Dito tidak bisa merasakan ketenangan. Sehari saja, teman-temannya ini tidak bacot? Bisa atau tidak?
Tok Tok Tok
Pintu villa Abdul di ketuk oleh seseorang. Dito yang mendengarnya pun langsung beranjak berdiri dan melangkahkan kaki nya untuk membukakan pintu. Daripada telinga nya panas karena teman-temannya selalu mengoceh.
✏
Dito membuka pintu, dan yang pertama kali Dito adalah Ayu dengan rantang nya. Ayu tersenyum manis ke Dito.
"Siapa tau, Mas Dito dan teman-temannya belum makan. Ini saya bawakan makanan, ndak mahal sih makanannya. Tapi semoga Mas Dito dan teman-temannya bisa kenyang," ucap Ayu sembari menyodorkan rantang nya.
__ADS_1