
Mereka berlima sudah sampai di depan villa megah milik orangtua Abdul, tentunya dengan Ayu yang mengantarkan mereka. Abdul sendiri cukup tidak mengerti, ternyata jarak dari hutan itu ke villa ini cukup dekat. Mungkin karena efek ia sudah lama tidak ke villa orangtua nya.
Rama memperhatikan sekitar dengan perasaan takut. Jalan ke villa ini melewati pohon-pohon besar, bahkan suasana nya pun seram. Rama tidak menyangka, liburan kali ini, benar-benar crepy.
Husen juga ikut mengamati sekitar, cukup untuk uji nyali, pikirnya. Tempat nya sepi dan jauh dari rumah penduduk di desa. Jujur, Husen sangat suka dengan hal-hal yang berbau spiritual. Dan sepertinya villa ini, cukup untuk dirinya mengungkap suatu kejadian yang ia yakini pernah terjadi di villa ini.
Dito terlihat biasa saja dengan wajah nya. Memperhatikan villa megah yang di hadapannya. Pikirnya, villa ini cukup mengerikan. Mungkin cocok untuk shooting film horor. Walaupun Dito berfikiran seperti itu, tapi tidak ada sedikit pun ketakutan di dalam dirinya. Sepertinya, yang penakut hanya Rama, wajar wanita.
Ayu melihat sekeliling dengan perasaan sulit untuk di mengerti. Ayu kemudian menatap villa besar yang berada di depannya. Villa yang pernah menjadi tempat bermain ia dan almh.temannya. Villa yang terdapat sejuta kenangan indah. Tapi kini, villa itu tak lagi indah, karena ada sesosok roh perempuan di dalam nya.
Dito menoleh ke Ayu yang berdiri di samping nya. "Makasih, udah nganterin kita."
"Sama-sama, Mas," jawab Ayu.
"Ehem." Rama berdehem.
"Tumben lo mau ngobrol sama cewek," lanjut Rama.
"Berisik," sentak Dito.
"Loh, memangnya Mas Dito ndak pernah mengobrol dengan perempuan?" tanya Ayu bingung.
"Iya Ayu. Dito tuh homo!" Husen memanas-manasi.
"Dan lo tau gak, Yu. Dito itu–".
"Berisik!" Dito memotong ucapan Abdul. Dito juga tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba reflek memotong ucapan Abdul. Biasanya, jika Abdul dan yang lainnya berbicara tidak-tidak tentang dirinya pada seorang perempuan, Dito akan bersikap biasa saja. Tapi entah kenapa ketika temannya berbicara tidak-tidak pada Ayu. Dito merasa kesal.
✏
Kesan pertama saat mereka sudah memasuki villa yaitu, seram. Hanya satu kata itu yang mewakilkan keadaan villa ini. Rama yang merasakannya pun langsung mengusap-usap lengannya, merinding. Niat nya kesini untuk berlibur dan menghilangkan penat, bukan untuk uji nyali.
Walaupun sudah tidak di huni bertahun-tahun, tapi villa ini terlihat bersih, dan barang-barang tertata rapi. Tapi siapa yang melakukan bersih-bersih ini? Villa nya 'kan tidak pernah di huni siapa pun kecuali keluarga Abdul.
__ADS_1
"Serem juga ya Dul, villa bokap lo," ucap Rama sembari melihat ke sekeliling.
"Penakut," cibir Dito.
Abdul juga tidak mengerti. Dulu, saat ia masih berumur delapan tahun, seingatnya keadaan villa ini tidak seram seperti sekarang. Apa ada perubahan? Atau ada yang merubah? Atau ada suatu kejadian yang membuat villa ini terlihat mengerikan seperti sekarang?
"Gue juga gak tau, Ram. Dulu seinget gue, tempatnya gak seserem ini," jawab Abdul bingung.
"Ya bagus lah. Bisa jadi tempat uji nyali," sahut Husen.
"Uji nyali pala lo! Gue niat kesini mau liburan," sentak Rama.
"Ya ini kita liburan," balas Husen sembari mengedikan bahu nya.
"Kamar dimana?" tanya Dito pada Abdul.
"Oh iya. Disini ada enam kamar, kalian boleh pilih salah satu," jawab Abdul.
"Enggak! Gue gak mau tidur sendiri-sendiri!" tolak Rama mentah-mentah jika dirinya harus tidur sendiri. Villa ini begitu seram, tidur berdua saja belum tentu Rama bisa tidur, apalagi tidur sendiri. Bisa-bisa ia terus parno-an dengan hantu. Siapa tau di villa ini ada hantu, tidak ada yang tau 'kan?
"Najis!" balas Rama.
"Entar lo gak perawan lagi, Ram," lanjut Husen terus meledek Rama.
"Mulut lo, Sen! Minta gue jahit!" geram Rama.
✏
Sesuai permintaannya tadi, Rama tidak ingin tidur sendiri, dan sekarang, ia satu kamar dengan Dito. Ia tidak sudi satu kamar dengan Abdul ataupun Husen. Mulut-mulut mereka selalu membuat Rama kesal. Lebih baik dengan Dito, yah walaupun mulutnya sama saja dengan mereka. Tapi Dito tidak akan membuang-buang suara emas nya untuk meledek Rama dengan tidak jelas.
Dito sendiri terpaksa menyetujui sekamar dengan Rama. Jika tidak di turuti, Rama akan terus mengoceh, dan itu menganggangu nya. Lebih baik Dito iya-kan saja, membantu sesama tidak masalah 'kan?
Dito sedang memasukan baju-baju nya ke dalam lemari. Ia mengalah, sebelumnya Rama sudah lebih dahulu memasukan baju nya ke dalam lemari yang sama. Sekarang Rama sedang duduk di pinggir kasur.
"Dit," panggil Rama.
__ADS_1
"Hem." Dito berdehem di sela-sela ia memasukan baju nya ke lemari
"Menurut lo villa ini serem gak?" tanya Rama.
"B aja," jawab Dito.
"Kalo semisal di villa ini ada hantu, gimana Dit?" tanya Rama lagi.
"...".
"Kalo semisal mereka mau bunuh kita gimana, Dit?" tanya Rama lagi.
"Sekali lagi lo ngomong, gue usir," ancam Dito karena Rama tak kunjung berhenti bertanya.
✏
Abdul berbaring di kasur dengan kedua tangan yang berada di belakang kepala. Ia menatap langit-langit kamar. Tidak di sangka, ia akan kembali ke villa ini, villa yang menyimpan berjuta kenangan dengannya.
Abdul menerka-nerka, kemana pergi nya dia? Kenapa saat Abdul kesini Abdul tidak melihatnya, saat perjalanan juga begitu. Apa dia mengingkari janji nya. Abdul tau ia telat untuk berkunjung ke villa ini lagi. Padahal dulu ia pernah berjanji padanya bahwa Abdul akan kembali dan tidak akan melupakan dirinya.
Abdul bingung, apa Abdul harus mencari nya sekarang? Atau besok. Jujur, Abdul ingin meminta maaf karena telah meninggalkannya dengan waktu yang cukup lama.
"Kamu dimana si, Lis?" monolog Abdul.
"Aku kangen, aku mau minta maaf karena udah gak tepatin janji kita."
"Aku janji aku akan nemuin kamu, Lis."
"Aku juga berharap, kamu mau maafin aku."
Abdul tersenyum menatap langit-langit kamarnya. Seseorang yang ia panggil 'Lis' adalah seseorang yang pernah ada di hidupnya. Dulu, Abdul sering kali bermain dengannya. Bahkan bisa di katakan, Abdul sudah menyukai nya. Bahkan Abdul rela menolak puluhan perempuan yang pernah meminta nya untuk menjadi pacar, semua itu hanya untuk perempuan yang Abdul panggil 'Lis'.
Tiba-tiba saja Abdul mendengar suara perempuan menangis.
Hiks
__ADS_1