Kok Penasaran

Kok Penasaran
Air Terjun


__ADS_3

Malam semakin larut, tapi Husen sama sekali belum tidur. Ia masih memperhatikan jailangkung yang ia bawa di atas kasur sembari duduk bersila. Husen terseyum penuh arti pada jailangkung itu, entah ia memikirkan apa. Tapi yang jelas, Husen tidak sabar untuk memainkannya.


Pikirannya tiba-tiba saja terpikir oleh villa ini, apa di villa ini mempunyai penghuni selain manusia? Jika ia bagaimana? Ah, tidak masalah, pikir Husen. Jika benar di sini ada penghuni lain, Husen berjanji akan membawanya ke alam yang semestinya.


Tuk Tuk Tuk


Jam yang tergantung di dinding terus berjalan setiap detik nya. Husen menoleh ke arah jam itu, jam satu malam. Mungkin besok atau lusa, Husen akan memainkan jailangkung itu pada jam seperti sekarang. Husen kembali menatap jailangkung itu.


"Gue makin gak sabar mainin lo," ucap Husen pada jailangkung itu.


Tiba-tiba saja jendela kamar Husen terbuka dengan cepat dan angin langsung masuk ke dalam kamar secara kencang. Jika di tanya apakah Husen akan takut dengan semacam ini? Apalagi ini malam-malam dan sebelumnya jendela itu sudah terkunci? Jawabannya tidak.


Husen sangat mengerti tidak mungkin angin bisa membuka sebuah jendela yang sudah terkunci. Husen merasa semakin tertantang, bukan takut.


Husen berjalan ke arah jendela itu, lalu menutupnya.



"Dit," panggil Rama saat dirinya dan Dito sudah bersiap untuk tidur. Sebenarnya yang bersiap dan ingin tidur hanya Dito, sedangkan Rama sedari tadi terus memanggil nama nya dan menganggu nya.


"Lo bisa diem gak si, Ram? Gue ngantuk!" kesal Dito.


"Tapi gue masih mikirin ikan gue, Dit. Kenapa bisa ilang? Gue jadi bingung," balas Rama.


"Gausah di pikirin." Entah kenapa Dito menjadi menanggapi setiap ocehan Rama.


"Tapi gue penasaran," ucap Rama lagi.


"Serah." Dito langsung menutup matanya dan menulikan telinga nya dari Rama yang bertanya.


"Dit," panggil Rama.


"...".


"Lo tidur ya, Dit?" tanya Rama.


"...".


"Dit!" Rama menoleh ke samping, dan mendapati Dito sudah tertidur.


"Dit, jangan tidur dong. Temenin gue, gue takut," lanjut Rama sembari menggoyang-goyangkan tubuh Dito.


"Bodoamat," sahut Dito dengan mata terpejam.



Keempat remaja itu sedang berkeliling di desa. Suasana di desa sangat berbanding terbalik dengan di kota. Kota banyak sekali polusi. Sedangkan desa, sangat sejuk dan asri. Abdul teman-temannya rasa, mereka akan betah berada di desa ini.

__ADS_1


Di samping jalanan yang mereka lewati penuh dengan kebun teh, dan petani-petani sedang bekerja. Pemandangan ini sangat jarang mereka lihat, orang-orang disini tidak sibuk dengan ponsel, tidak seperti orang-orang kota yang kemana-mana membawa ponsel.


Dari kabar yang Abdul dengar, disini juga ada air terjun. Dan tujuan mereka adalah untuk ke air terjun itu dengan berjalan kaki, jarak tidak terlalu jauh, sehingga mereka tidak perlu memakai mobil.


Di tengah perjalanan, manik mata Dito menangkap sesuatu yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya di depan. Tidak salah lagi itu Ayu dengan sekantong plastik hitam. Untuk apa Ayu pagi-pagi begini pergi keluar? Apa untuk mengantar jamu lagi.


Dito menghampiri Ayu.


"Ayu," panggil Dito saat di depan Ayu.


"Eh Mas Dito," kaget Ayu karena Ayu sebelumnya berjalan menunduk.


"Lo mau kemana?" panggil Dito masih dengan suara datar.


"Ayu mau mengantar jamu, Mas," jawab Ayu.


"Gerak cepat juga ya lo, Dit," ucap Rama sembari menepuk bahu Dito.


Dito memilih tidak menjawab. Sudah cukup tadi malam Rama mengganggu nya. Jangan sampai kali ini Rama mengganggu nya lagi.


"Oh iya, Mas-Mas ini mau kemana toh?" tanya Ayu penasaran karena pagi-pagi begini Dito dan teman-temannya sudah berjalan keluar villa. Apa mereka ingin mencari makanan? Pikir Ayu.


"Gue sama yang lainnya mau ke air terjun yang kata nya disini bagus," sahut Abdul.


"Air terjun dimana toh, Mas?" tanya Ayu lagi.


"Oh iya Ayu ingat," balas Ayu.


"Mas Dito dan yang lainnya sudah sarapan belum?" lanjut Ayu.


"Belum, Yu!" jawab Husen antusias.


"Apa mau Ayu bawakan sarapan setelah Ayu mengantar jamu?" tanya Ayu lagi.


"Boleh Yu boleh!!" jawab Rama tak kalah antusias.


Dito yang mendengar nya menahan kesal. Teman-temannya ini selalu saja tidak tau malu.


"Gak usah, nanti lo repot," ucap Dito karena takut Ayu ke-repotan.


"Cieee," sorak mereka bertiga.


Ayu mengulum senyum menahan malu. "Ndak apa-apa, Mas. Mas dan yang lainnya ndak merepotkan kok."



Mereka ber-empat sekarang sudah berada di air terjun yang berada di desa ini. Dan benar, air nya sangat segar dan udara sangat sejuk. Ini mengalahkan air terjun yang berada di kota-kota. Dan pas sekali sedang tidak ada orang selain mereka ber-empat, jadi mereka tidak perlu canggung dengan ada warga desa.

__ADS_1


"Gila ya, ternyata air terjun disini enak banget," ucap Rama yang sedang di bawah guyuran air terjun.


"Ternyata bener, gak cuma kiko yang enak," celetuk Husen.


"Es gabus jajanan gue kecil juga gak kalah enak," tambah Abdul.


"Gak waras," gumam Dito yang duduk di sebuah batu besar dan hanya kaki nya yang terkena air.


"Gue denger, Toto!!" sahut Rama kesal.


"Gue bukan tukang bengkel," balas Dito berusaha membuat lelucon dengan suara datar.


Krik


"Ahahahahah." Mereka bertiga kompak tertawa, mereka tau Dito berusaha membuat lelucon walaupun tidak lucu. Dan merek terpaksa tertawa.


"Oh iya, Dit. Gue baru liat lo ngampirin cewek. Biasa nya lo ogah," ucap Husen yang melihat Dito tidak seperti biasa saat bertemu Ayu.


"Iya Dit. Gue juga ngerasa gitu. Lo suka sama Ayu ya? Iyasih Ayu cantik," tambah Abdul.


"Bacot," jawab Dito malas jika teman-temannya mulai meledeknya tentang perempuan.


"Lo juga, Dul. Kapan move on?" ledek Rama.


Dito tersenyum miring, Husen dan Rama tertawa terbahak-bahak. Abdul juga tak kalah sama dengan Dito jika urusan perempuan. Abdul memang belum pernah mendekati perempuan sekalipun, sama seperti Dito. Yang membedakan hanya, Abdul yang hangat dan Dito yang Dingin.


"Mana tuh cewek lo yang sering lo ceritain? Dia tinggal disini 'kan?" tanya Rama penasaran.


"Gue juga gak tau, Ram. Gue belum liat dia," jawab Abdul lesu.


"Banyak jalan menuju Roma," sahut Husen jenaka.


"Khusus buat lo ya, Sen. Banyak jalan menuju sayton!" kata Rama dengan penuh penekanan.


"Lo tau ini, Ram?" Husen menujukan telapak tangan kanan nya.


"Tangan," jawab Rama dengan pasti nya.


"Dadah monyet." Husen melambaikan tangannya ke Rama. Dan Rama mendengus kesal, ia di tipu dengan tipuan jaman SD.


"Berasa main sama bocil gue," kata Rama.


"Gue malah berasa basah-basahan sama cewek." Husen memperhatikan Rama dari atas sampai bawah karena baju Rama sudah basah seluruh nya.


"Dasar Om-Om mesum!" balas Rama.


Tawa Abdul dan Husen meledak, sedangkan Dito belum tertarik dengan obrolan ngawur ini.

__ADS_1


"AAA!!!" Rama berteriak.


__ADS_2