Kok Penasaran

Kok Penasaran
Jailangkung


__ADS_3

Tidak mungkin, tidak mungkin yang duduk di samping Abdul di dalam mobil adalah Lisa. Lisa tidak mungkin meninggal, Lisa pernah berjanji padanya bahwa Lisa akan selalu menunggu Abdul kembali ke desa ini. Abdul menggeleng tanda tidak percaya.


Dan jika benar Lisa sudah meninggal, roh nya pasti tenang, tidak mungkin gentayangan dan tidak tenang. Lisa adalah orang yang baik, Abdul tau itu. Abdul yakin, yang di sampingnya bukanlah Lisa teman kecil nya.


"Enggak! Lo bukan Lisa!" elak Abdul.


Dengan nafas yang menggebu, Abdul segera membuka pintu samping sosok itu. Abdul kemudian mendorongnya, dan sekuat tenaga, Abdul berusaha keluar dari hutan ini. Ini mimpi buruk baginya, Abdul tidak percaya bahwa semua ini akan terjadi padanya.



Abdul menutup pintu villa dengan cepat dan menguncinya. Ia kemudian bersandar di balik pintu sembari mengatur nafas nya yang tersenggal-senggal. Abdul mengingat kembali kejadian di mobil tadi. Ia tidak yakin bahwa yang duduk di mobil bersama nya adalah Lisa.


Apa saat di air terjun itu yang dilihat Rama adalah sosok yang duduk bersama nya tadi? Pikir Abdul.


Rama yang baru saja mengambil air mineral dari dapur, kemudian berjalan ingin ke kemar, tiba-tiba berhenti karena melihat Abdul bersandar di pintu. Abdul terlihat aneh, tidak biasanya ia seperti itu. Apa saat perjalanan mencari temannya, Abdul mendapat masalah?


Rama kemudian memilih menghampiri Abdul daripada balik ke kamar nya.


"Lo kenapa?" tanya Rama saat sudah di depan Abdul.


Abdul yang awalnya menunduk kini mengangkat wajah nya menatap Rama. "Gue... Ayu...".


"Ayu kenapa?" tanya Rama semakin penasaran.


"Ayu berubah jadi yang tadi lo omongin. Gue liat sendiri dia berubah. Dan yang lebih parah, dia ngaku kalo dia... Lisa," jawab Abdul dengan tatapan seserius mungkin.


Rama membelalakan mata nya. "Bener 'kan apa kata gue. Ayu itu bukan manusia!".


"Tapi gue bingung, Ram. Dia ngaku dia Lisa. Sedangkan Ayu... emang Ayu tau Lisa itu siapa? Lo tau Lisa 'kan?" tanya Abdul yang membuat Rama semakin bingung.


"Iya si, Dul. Kok setan itu bisa tau soal Lisa. Apa jangan-jangan..." Rama menjeda ucapannya.


"Jangan-jangan apa?" tanya Abdul penasaran.

__ADS_1


"Jangan-jangan dia Lisa!" lanjut Rama dengan raut wajah serius.


Abdul menggeleng. "Enggak Ram. Gue tau Lisa. Lisa itu orang baik, dan kalaupun dia udah meninggal, dia gak mungkin jadi roh gentayangan."


"Ya... terus?" tanya Rama tidak mengerti sembari mengangkat bahu nya acuh.


"Kita harus selidikin!" ucap Abdul yakin.


"Nyelidikin apa sih? Kayak nya heboh banget," sahut Husen dari belakang. Satu tangannya berada di belakang punggung.


Abdul dan Rama langsung menoleh ke Husen.


"Ayu bukan manusia! Abdul sendiri udah tau!" jawab Rama.


Husen menoleh ke Abdul karena kurang yakin dengan jawaban Rama.


Abdul mengangguk. "Gue liat dia berubah, jadi... gitu deh, serem."


Husen manggut-manggut. "Jadi kalian mau main yang serem-serem."


"Gimana kalo kita main..." Husen menjeda ucapannya.


"Ini." Husen menunjukan jailangkung dari balik punggung nya.


"Gila lo!" cibir Rama.


"Ogah gue main begituan," lanjut Rama.


"Bilang aja lo gak berani," balas Husen.


Abdul menggelengkan kepala nya. Ia sudah cukup pusing dengan kejadian tadi dan Lisa. Dan sekarang? Husen ingin menambah kepusingannya? Apalagi dengan bermain jailangkung yang ia sendiri belum tau akan ada resiko atau tidak.


"Lo gak usah aneh-aneh deh, Sen. Gue udah pusing. Lo jangan bikin gue tambah pusing," ucap Abdul sedikit malas karena ia sudah benar-benar lelah.

__ADS_1


Husen tersenyum miring. "Oke! Gue gak bakal ngajak kalian! Gue bakal main sendiri! Dan kalian... jangan ikut campur!" Husen kemudian melangkahkan kaki nya ke kamar.


Tanpa mereka sadari, Dito daritadi berdiri di tangga dan mendengar ucapan mereka bertiga. Teman-teman nya ini, tidak bisa kah tidak ribet sehari saja? Dito niat kesini ingin menghilangkan penat, bukan untuk cari ribet. Tapi lihat lah sekarang, teman-temannya sangat ribet.


Kalian semua... ribet, batin Dito.



Jam menunjukan pukul sepuluh malam. Mereka berempat sudah berkumpul di kamar Husen. Ya, mereka bertiga setuju untuk bermain jailangkung, walaupun sedikit kesal juga karena Husen yang tidak bisa mengontrol emosi. Daripada mereka nanti bertengkar, lebih baik mereka ikuti permainan Husen.


Toh, susah senang harus bersama, itu arti sebuah pertemanan bukan? Mereka juga belum tau akan ada resiko atau tidak setelah bermain permainan ini. Dan jika benar ada resiko, mereka tidak ingin Husen saja yang terkena masalah dan menyelesaikan masalah nya sendiri. Karena itu mereka bertiga terpaksa mengikuti perminan ini.


Mereka berempat sudah duduk melingkar dan di tengah-tengah mereka adalah jailangkung. Di depan mereka masing-masing sudah ada satu lilin hidup.


"Thanks ya. Kalian mau ikut permainan gue," ucap Husen gembira.


"Hem." Dito berdehem.


"Santai," ucap Abdul.


"Gak ikhlas gue," tambah Rama.


"Oke kalo kalian udah siap. Gue matiin lampu nya," ucap Husen lagi lalu berdiri.


"Heh! Gue takut gelep!" tolak Rama.


"Ada lilin, Ram. Lagian kita semua gak akan apa-apa-in lo kok," jawab Husen jenaka.


Husen kemudian mematikan lampu di kamar nya. Rama berdecak kesal. Lalu Husen kembali duduk bersama teman-temannya. Mereka semua duduk bersila.


Husen kemudian memejamkan mata nya dan membaca mantra. Rama meneguk saliva nya berkali-kali karena was-was. Tiba-tiba saja jendela kamar Husen terbuka dengan kencang dan angin langsung berhembus sangat kencang.


Lilin-lilin di depan mereka langsung pada. Rama bertambah was-was. Rama dan Abdul masih biasa saja tidak ada rasa takut. Rama memejamkan mata nya karena tidak bisa lagi melihat keadaan sekitar yang menyeramkan.

__ADS_1


Detik berikutnya, angin sudah tidak lagi berhembus. Rama merasakan hal aneh. Dengan cepat ia membuka matanya. Dan yang pertama kali ia lihat adalah sesosok berwajah seram.


"AAA!!!" teriak Rama.


__ADS_2