
Rama terkejut saat wajah Husen tepat berada di depannya. Jantungnya sebelumnya sudah berdetak begitu cepat, ditambah lagi Husen yang tiba-tiba berada di depan wajah nya. Beruntung juga yang muncul di depan wajah nya adalah Husen bukan hantu atau makhluk lainnya.
Rama melirik ke samping, Dito dan Abdul juga sedang memperhatikannya dengan wajah bingung. Kemudian Rama kembali menatap ke depan, dan ia kembali kaget karena wajah Husen masih tepat di depan wajah nya.
"Ngagetin lo!" ucap Rama kesal, lalu Husen memundurkan wajah nya.
"Lagian lo ngapasih pake segala tutup-tutup mata?" tanya Husen bingung karena hanya Rama yang menutup mata.
"Mana teriak lagi, kayak cewek," lanjut Husen.
"Lah?" Rama teringat sesuatu. Ia mengingat tadi Husen sudah memejamkan matanya membaca mantra. angin berhembus kencang, dan lilin tiba-tiba padam. Tapi... Rama melirik ke sekitar. Tidak ada apa-apa, apa jailangkung ini memang tidak memanggil hantu atau semacamnya?
Abdul juga bingung dengan keadaan sekitar. Tidak ada penampakan sosok makhluk halus atau semacamnya gitu? Rasa nya ia tadi sudah melihat Husen mulut nya berkomat-kamit. Apa permainan ini gagal? Atau memang setan itu tidak ingin ke villa?
Dito yang sedari tadi diam juga bingung, memangsih kamar Husen sekarang gelap dan hanya ada penerangan dari cahaya bulan karena lilin-lilin sudah padam. Tapi tidak adakah setan atau roh yang berkunjung ke villa ini?
"Kok... setan nya gak muncul ya, Sen?" tanya Abdul bingung.
"Nah itu yang mau gue tanya-in barusan," sahut Rama.
Husen memasang wajah bingung menatap satu-persatu temannya. Ia juga bingung, walaupun ia suka dengan hal-hal yang berbau spiritual, tapi ia tidak pernah memainkan permainan yang kata nya mengundang setan, contohnya jailangkung. Ini kali pertama ia bermain permainan seperti ini.
Husen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Gue... juga gak tau," jawab Husen bingung.
"Barusan lo komat-kamit ngapain?" tanya Dito dengan suara datar.
"Gue ya?" tanya Husen lagi. Entah kenapa ia seperti orang bodoh sekarang.
"Iyalah siapa lagi. Gue gitu?" sahut Rama.
__ADS_1
"Iya. Lo tadi tutup mata kenapa?" balas Abdul.
"Eh. Kok jadi beneran gue?" tanya Rama.
"Kalo gue sih... tadi takut," lanjut Rama.
"Cemen," cibir Dito yang duduk di sampingnya.
"Udah-udah. Kan kita mau nanya Husen. Komat-kamit tadi lo ngapain, Sen?" tanya Abdul.
"Gue... gue ya baca-bacaan gitu," jawab Husen.
"Lo baca-bacaan apa emang?" tanya Abdul lagi.
"Doa tidur," jawab Husen dengan polosnya.
"Bismikallaahumma ahyaa wa amuutu," lanjut Husen.
Semua terdiam. Mencerna satu-persatu kata yang Husen ucapkan. Jadi bukan mantra, melainkan... mereka bertiga langsung tertawa terbahak-bahak. Mungkin Husen memang tidak sedang membuat lelucon, tapi ini, ini lebih lucu dari lelucon. Bahkan Dito yang biasanya tidak mempan dengan lelucon, kali ini tertawa karena ucapan Husen.
"Hahaha," tawa mereka bertiga sembari memegangi perut sendiri-sendiri.
"Jadi... lo–hahaha." Rama tidak bisa menahan tawanya. Ia tidak menyangkan Husen bisa membuat selera humornya anjlok.
Husen memegang bahu Rama. Mereka yang melihat langsung terdiam. "Kalian udah mau ngalahin ego kalian demi gue. Gue bersyukur kalian mau nerima gue apa adanya. Nerima gue yang emosian. Jadi gue pikir-pikir, kita gaada guna nya main kayak gini. Toh gue juga gak tau cara mainnya."
Mereka yang mendengarnya langsung tersenyum. Husen memang susah untuk mengendalikan emosi nya, tapi Husen juga bisa untuk menghargai teman-temannya yang sudah merelakan ego nya kalah agar mereka tidak bertengkar. Mungkin di luaran sana orang-orang menginginkan pertemanan seperti ini. Pertemanan yang selalu mengerti satu sama lain.
✏
__ADS_1
Abdul sudah tertidur. Lampu di kamar nya sudah padam, penerangan hanya dari cahaya bulan yang menembus jendela karena horden nya tidak di tutup. Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Abdul.
Detik berikutnya, mata milik Abdul kembali terbuka. Padahal hari ini cukup melelahkan, tapi kenapa mata nya tidak bisa di ajak kerjasama untuk tidur? Abdul sudah berulang kali memaksakan dirinya untuk tidur. Tapi tetap saja ia kembali terbangun.
Abdul beranjak duduk dan mengacak rambutnya. "Kenapa gue gak bisa tidur sih?".
"Gue tau gue capek, tapi kenapa gak bisa tidur?" lanjut Abdul kesal.
"Gue ini kenapa sih?".
"Mau diri gue apa sih?".
Abdul mendengus kesal. Benar-benar tidak tau lagi tentang diri nya sekarang. Malam semakin larut, dan Abdul bosan sekarang. Abdul kemudian menghidupkan lampu kamarnya. Menonton televisi mungkin bisa menghilangkan rasa bosannya.
Jika tidak bisa tidur biasa nya Abdul akan memilih bermain game onlina. Tapi di villa nya ini, sinyal sangat buruk dan terkadang hilang. Ia tidak bisa bermain game di villa ini.
Abdul sudah kembali duduk di kasur, ia memegang remot untuk menghidupkan telivisi yang berada di depan kasur nya. Abdul mengganti-ganti chanel karena menurutnya film di telivisi sekarang tidak ada yang menarik perhatiannya.
Abdul memilih mematikan tevisi nya lagi. Ia kembali memikirkan Lisa. Memikirkan kejadian tadi. Kejadian saat di mobil berhasil membuat Abdul kepikiran sampai tidak bisa tidur. Di satu sisi ia sangat penasaran dengan Ayu, tapi di sisi lain ia juga tidak mempunyai banyak waktu untuk mengatasi rasa penasarannya.
"Ck. Kok penasaran," decak Abdul kesal karena sekarang ia benar-benar penasaran dengan Ayu atau Lisa.
Dan tiba-tiba saja langkah kaki yang kemarin malam ia dengar, kembali terdengar malam ini. Abdul menajamkan telinganya, ia yakin seseorang itu hanya mondar-mandir di depan kamar Abdul.
Makin kesini makin penasaran, Abdul memilih untuk membuka pintu dengan sapu yang berada di tangan kanannya. Untuk berjaga-jaga siapa tau seseorang yang melangkah di depan kamar nya adalah maling. Walau Abdul sebenarnya tidak yakin bahwa itu adalah maling.
Saat pintu sudah terbuka setengah, kepala Abdul menoleh dari balik pintu. Ia dapat melihat seorang perempuan sudah berjalan menjauh dari kamar Abdul. Abdul menajamkan penglihatannya, jika di lihat-lihat dari postur tubuh. Seseorang itu terlihat seperti...
"Ayu?" ucap Abdul menerka-nerka.
__ADS_1