
Abdul bingung, jika benar yang melewati kamar nya adalah Ayu, Ayu masuk lewat mana? Pintu-pintu dan jendela sudah Abdul tutup sebelum tidur. Abdul tidak mungkin lupa untuk mengunci setiap pintu di villa ini.
Daripada penasaran, Abdul memilih untuk mengikuti Ayu. Ia berjalan pelan-pelan agar sosok di depannya tidak merasakan bahwa Abdul mengikutinya. Abdul dan sosok Ayu mulai menuruni tangga. Ayu berjalan seperti orang yang tidak memperhatikan jalan. Abdul dapat melihat kepala Ayu selalu memandang kedepan, bahkan saat ia menuruni tangga.
Kulit Ayu nampak pucat malam ini, apalagi Ayu memakai dress putih polos yang se-lutut. Saat pertama kali ke villa ini bersama teman-temannya. Abdul sama sekali tidak pernah melihat Ayu memakai dress. Ia biasanya memakai rok panjang dan atasan baju lengan panjang.
Abdul terus mengikuti Ayu sampai Ayu berhenti di depan pintu yang tidak pernah Abdul lihat. Abdul langsung diam ditempat, ia sama sekali tidak pernah melihat pintu ini, lalu... dan tadi ia juga tidak terlalu memperhatikan jalan.
Perlahan pintu itu terbuka dengan sendirinya. Abdul dapat melihat tangga itu mengarah ke bawah. Jadi ternyata di villa nya ini memiliki ruang bawah tanah. Abdul sendiri belum mengetahui soal ini. Ia kemudian melanjutkan mengikuti Ayu dari belakang.
Tempat ini sangat asing, banyak sekali debu dan sangat kotor seperti gudang. Tapi Abdul yakin, ini bukan gudang. Terlalu lama berfikir, sampai-sampai ia kehilangan jejak Ayu. Abdul kembali berjalan tanpa paduan, ia berjalan asal.
Abdul dapat melihat banyak sekali buku-buku. Ini hampir mirip seperti perpustakaan, hanya saja buku-buku itu terlihat tua dan berdebu. Abdul berjalan ke salah satu rak, ia mengambil salah satu buku. Abdul memperhatikannya cukup lama, buku ini berbeda seperti buku yang lainnya. Disampulnya terdapat tulisan bahasa latin yang di tulis dengan darah. Abdul dapat mencium bau amis dari sampul buku ini.
Perlahan ia membukanya, halaman pertama kosong, halaman kedua masih kosong. Abdul berhenti membuka halaman selanjutnya, ia berfikir untuk apa buku ini di buat jika di tiap halaman tidak ada isinya?
Abdul kembali ingin membuka halaman selanjutnya karena masih penasaran. Di halaman ketiga, Abdul dapat melihat setetes darah di buku itu tanpa ada satupun tulisan. Lama-kelamaan darah itu melebar, dan Abdul langsung melemparkan buku itu ke lantai. Ia memundurkan langkah nya saat darah itu sudah melawati batas buku dan mulai mengenai lantai.
"I–ini apa?" tanya Abdul panik.
"Gue... gue baru sadar, tempat ini sebenernya gak ada. Dan buku itu..." Abdul menatap panik buku yang semua ia lemparkan.
"Buk–" Ucapan Abdul terhenti dan mata nya membelalak kaget, ia dapat melihat sesosok dari buku itu keluar. Wujud nya sangat menyeramkan, dan Abdul yakin yang di depannya bukanlah sosok roh yang pernah ia lihat di pojok kamar nya.
Abdul kembali memundurkan langkah nya saat sosok menyeramkan itu melangkah mendekat ke Abdul. Sosok itu tampak menggerakan kepala nya ke kanan dan ke kiri.
Dan sial nya, Abdul sudah terpojok di tembok dan sosok itu semakin mendekat.
__ADS_1
"Pergi lo!" bentak Abdul.
"Per–" Ucapannya terhenti, nafas nya tercekat karena sosok itu mencekik Abdul. Abdul segera mencengkram tangan kasar sosok itu dari leher nya agar terlepas.
"Ash–" Untuk membaca ayat kursi saja Abdul sangat sulit. Abdul belum menyerah sampai akhirnya ia melirik ke samping dan melihat Ayu sedang memperhatikannya dengan wajah datar dan pucat.
Abdul kurang fokus karena kehadiran Ayu tiba-tiba, sehingga sosok itu semakin kencang mencekik Abdul. Abdul sekarang pasrah jika akhir hidup nya akan seperti ini.
Saat Abdul sudah pasrah, tiba-tiba saja ia melihat Ayu melayang dan langsung mencekik sosok itu sampai terpojok di tembok. Saat cekikan sosok itu terlepas dari leher Abdul, Abdul langsung hilang kesadaran dan pingsan.
✏
Pagi tiba, Rama sudah keluar dari kamar nya ingin mengambil air mineral di dapur. Tapi saat ia sampai di depan tangga. Ia melihat Abdul tertidur di bawah tangga. Dahi Rama mengernyit bingung.
"Ini 'kan villa Abdul, masa ia Abdul gak kebagian kamar?" monolog Rama bingung di depan Abdul.
"Dul, Dul. Lo ngapain tidur disini?" tanya Rama sembari menepuk-nepuk pipi Abdul.
"Dul!" panggil Rama lagi karena Abdul tak kunjung bangun.
Akhirnya Abdul terbangung, ia langsung melihat Rama yang berada di depannya. Kemudian Abdul beranjak duduk sembari memegangi kepala nya yang sedikit pusing. Ia bingung, ia tadi tidak berada di bawah tangga seperti. Abdul yakin kejadian di ruang bawah tanah bukan lah mimpi.
"Kok gue ada disini?" tanya Abdul bingung pada Rama.
"Lah, mana gue tau," jawab Rama acuh.
"Gue yakin, tadi gue di ruang bawah tanah, Ram," ucap Abdul yakin.
__ADS_1
Rama menatap dalam Abdul. "Lo beneran udah bangun 'kan? Kalo udah bangun yaudah jangan mimpi lagi. Ngaco banget lo, ruang bawah tanah darimana? Lo gak pernah bilang di villa lo ada ruang bawah tanah."
"Tapi gue yakin, Ram. Gue tadi di ruang bawah tanah. Buktinya gue tiba-tiba ada di bawah tangga," ucap Abdul kekeh.
"Gini ya, Dul. Banyak banget alasan lo bisa sampe di bawah tangga sambil merem gitu. Pertama, lo bisa aja jatuh dari kasur, terus pintu nya gak lo tutup, terus lo jatuh guling dari atas sampe bawah. Gaada yang tau 'kan?" oceh Rama.
"Enggak Ram, gak mungkin. Lo sendiri tau 'kan kalo gue selalu kunci pintu kalo mau tidur?" elak Abdul.
"Terus buktinya kalo lo ada ruang bawah tanah apa?" tanya Rama.
Abdul teringat, saat di ruang bawah tanah ia sempat di cekik. Dan siapa tau ada bekas cekikan itu di lehernya.
"Ada!" jawab Abdul.
"Lo liat ini." Abdul menunjuk lehernya.
Rama kemudian melihatnya, ia sedikit kaget saat tau leher Abdul seperti habis di cekik.
"Itu leher lo kenapa?" tanya Rama panik.
"Ini yang mau gue omongin. Di ruang bawah itu gue di cekik sama setan! Terus tiba-tiba Ayu dateng dan langsung bantu gue. Terus... gue gak inget. Gue aja gak inget kenapa tiba-tiba gue ada disini. Setelah Ayu dateng gue langsung pingsan," perjelas Abdul.
Rama yang mendengarnya mulai yakin. Apalagi tentang Ayu, Rama sudah mencurigai Ayu bukanlah manusia. Jika benar ia manusia bagaimana ia bisa muncul tiba-tiba saat Abdul di cekik?
"Gue percaya sama lo," ucap Rama dengan tatapan serius.
"Gue bakal ceritain detail kenapa bisa di ruangan itu," kata Abdul.
__ADS_1