
Ceklek
Pintu kamar Dito terbuka, menampilkan Abdul dengan baju yang di balut jaket. Abdul menghampiri Dito dan Rama yang sedang duduk di kasur. Abdul berniat untuk memberi tau bahwa ia akan pergi sebentar.
Abdul duduk di pinggir kasur.
"Kemana?" tanya Dito to the point.
"Ke luar sebentar," jawab Abdul.
"Nyari awewe, Dul?" sahut Rama jenaka.
Abdul terdiam dan langsung menatap Rama. Rama yang mendapat perlakuan itu langsung terdiam, ia meneguk saliva nya. Apa Abdul juga marah padanya? Seperti Husen.
"Yoi genk!" balas Abdul jenaka.
Rama menatap Abdul penuh arti. Dari nada bicara nya, Abdul tidak terlihat seperti marah pada nya. Rama bingung, apa tadi Abdul ikut pergi alasannya sama seperti Dito? Karena menggendongnya? Memang nya menggendong satu orang, perlu dua orang? Ah sudahlah, Rama semakin bingung. Kapasitas otak nya memang tidak besar.
"Ngapain lo ngeliatin gue? Naksir?" ucap Abdul sinis karena Rama terus menatapnya.
Rama langsung tersentak. "Gue normal, Dul. Tapi... apa lo gak marah sama gue?".
"Ngapain gue marah sama lo? Kayak cewek aja suka marah-marahan," balas Abdul.
"Gue serius, Dul! Tadi lo ikut ninggalin gue 'kan?" tanya Rama karena memang benar setelah Husen pergi, Abdul dan Dito ikut pergi. Tapi Rama sudah mengetahui alasan Dito.
"Gue tadi duluan ke kamar, mau cari-cari barang yang ada hubungannya sama dia. Lo tau 'kan? Yang sering gue jadiin alasan kenapa gue masih belum mau pacaran," perjelas Abdul.
Abdul pergi karena untuk mencari barang-barang seseorang itu yang bisa menjadi petunjuk bagi Abdul. Seseorang yang menjadi alasan mengapa ia belum mau menjalin hubungan dengan perempuan lain, walaupun hanya sekedar pacaran yang bisa saja berakhir kapansaja.
Rama manggut-manggut. "Gue ngerti-gue ngerti. Tapi Husen? Husen masih kesel gak ya sama gue?".
"Lo kayak gak tau Husen aja, Ram. Dia 'kan orang nya emosian, paling kalo emosi nya udah stabil, dia gak kesel lagi sama lo." Abdul menjelaskan lagi.
"Yaudah Dit, Ram. Gue berangkat." Abdul beranjak berdiri dan berjalan ke arah pintu. Tapi saat tangannya memegang gagang pintu, ia berhenti karena Rama memanggilnya.
"Dul," panggil Rama.
Abdul berhenti dan langsung menoleh ke Rama. "Apa lo percaya...".
"Gue percaya sama lo. Gue lebih percaya sama teman yang udah kenal lama sama gue, daripada orang baru," jawab Abdul lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tapi gue juga butuh bukti."
✏
Abdul mengendari mobilnya agar dapat mencari seseorang yang ia panggil 'Lis' dengan cepat. Jika berjalan kaki, mungkin akan membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan Abdul tidak mempunyai banyak waktu, tadi ia mendapat kabar bahwa orang tua nya mendaftarkan Abdul untuk kuliah di luar negeri, dan Abdul hanya di beri waktu dua minggu untuk berlibur disini.
Abdul menyetir sambil memperhatikan kanan kiri jalan, berharap ia menemukannya. Tapi Abdul juga sulit untuk mencarinya karena dia pasti sudah bertumbuh besar. Abdul memang mempunyai foto perempuan itu, tetapi waktu mereka masih kecil.
"Lis... aku mohon, kalo kamu tau aku lagi ada di villa. Aku mohon kamu dateng," monolog Abdul.
"Aku gak punya banyak waktu disini."
Tiba-tiba saja sosok Ayu muncul di depan mobil Abdul yang masih berjalan. Dengan cepat Abdul langsung menancap rem mobil. Darimana datangnya Ayu? Ia yakin walau pikirannya tertuju pada dia, tapi Abdul masih fokus melihat jalan. Tadi Abdul hanya sekejap memejamkan mata agar pikirannya tenang. Dan saat ia sudah membuka mata, Ayu sudah berada di tengah jalan.
Abdul keluar mobil dan langsung mengahampiri Ayu.
"Lo gak papa?" tanya Abdul saat di dekat Ayu.
Ayu langsung menatap di kedua manik mata Abdul. "Ndak papa, Mas."
"Lo... dari tadi emang jalan di sekitar sini," tanya Abdul hati-hati, takut Ayu tersinggung.
Ayu mengangguk. "Maaf membuat Mas kaget karena kehadiran saya."
"Eh, yaudah kalo gitu. Gue lanjut jalan." Abdul membalikkan badannya untuk kembali ke mobil.
Baru satu langkah Abdul berjalan, suara Ayu menghentikan jalannya.
"Tunggu, Mas," cegah Ayu.
Abdul menoleh ke belakang.
"Bisa... antarkan saya pulang?" pinta Ayu.
Abdul merasa Ayu berbeda, apa karena insiden dengan Rama tadi? Atau karena memang pikirannya sedang kacau sehingga ia tidak bisa membedakan yang sama atau yang berbeda?
"Mas..." panggil Ayu karena Abdul terdiam.
Abdul tersentak. "Ya-yaudah ayo."
✏
__ADS_1
Abdul dan Ayu sedang berada di dalam satu mobil. Kedua nya sama-sama diam, Abdul juga tidak biasa membuka percakapan dengan perempuan, akhirnya Abdul memilih diam. Dan Ayu, ia menunduk. Abdul melirik sekilas ke Ayu, dan benar firasatnya. Ayu... nampak berbeda.
Jalanan yang ia lewati berubah menjadi hutan, Abdul juga tidak mengerti, sebelumnya ia berjalan di jalanan biasa. Tapi kenapa sekarang berubah menjadi hutan?
Abdul langsung menghentikan laju mobilnya. Ini tidak beres, apalagi dengan Ayu.
Abdul langsung menoleh ke Ayu. "Sebenernya lo siapa?!".
Ayu perlahan menoleh ke Abdul sembari memiringkan kepalanya. "Mas..."
"Ini... aku," lanjutnya.
"Lo–lo siapa?!" Perasaan Abdul mulai tidak enak.
Tatapan mata Ayu meredup. "Mas, gak kenal aku?".
"Gue tau lo Ayu! Dan gue tau kalo lo bukan manusia!" balas Abdul.
Ayu kemudian menunduk. "Aku memang bukan manusia lagi, Mas. Tapi aku... selalu nunggu Mas. Aku...".
"Lisa?" tebak Abdul.
Ayu kemudian mengangkat wajahnya ke Abdul, dan kemudian tersenyum.
"Lisa." Abdul langsung memeluk Ayu, sosok yang dia anggap Lisa.
Ayu kemudian membalas pelukan itu.
"Kenapa kamu gak pernah bilang, kalo kamu itu Lisa," lirih Abdul di pelukan Ayu.
"Karena kita beda alam."
Setelah mendengar itu dari mulut Ayu, Abdul segera melepaskan pelukannya. Apa maksudnya? Apa maksud dari beda alam? Jelas-jelas sosok di depannya ini menapak di tanah.
"Apa maksud kamu?" tanya Abdul tidak mengerti.
"Mas mau lihat aku yang sebenarnya?" tanya sosok Ayu.
Abdul memilih tidak menjawab. Mencari Lisa saja sudah membuat pikiran Abdul kacau. Dan setelah perempuan yang di sampingnya mengaku bahwa ia Lisa, Abdul langsung gembira dan tidak bisa mendeskripsikan kebahagiaannya. Tapi setelahnya, kata-kata Lisa cukup membuatnya kurang yakin.
Perlahan sosok Ayu berubah, Abdul langsung memundurkan dirinya. Sosok Lisa berubah menjadi sosok yang pernah ia lihat di pojok kamarnya saat di mimpi. Apa-apaan ini? Pikir Abdul.
__ADS_1
"Ini... aku, Lisa."