Kok Penasaran

Kok Penasaran
Mereka Kebingungan


__ADS_3

Setelah Dito menunggu beberapa menit di depan rumah gubuk ini, akhirnya gadis itu datang dengan segelas air putih. Gadis itu memberikan segelas air pada Dito, dan Dito menerima nya dengan senang hati sembari tersenyum tipis.


Dito meneguknya air itu sampai habis.


"Makasih," ucap Dito pada gadis itu yang berdiri di sampingnya.


"Sama-sama, Mas," balas gadis itu lembut.


"Sorry ya, ngerepotin," kata Dito lagi.


"Gak papa, Mas. Malah seharusnya saya yang minta maaf, sempat curiga sama Mas tadi," ungkap gadis dengan logat Jawa nya.


Dito tersenyum kecil, gadis yang di depannya ini sangat berbeda dengan yang lain. Gadis yang di depannya terlihat sederhana dan sopan, dan tidak sungkan meminta maaf. Biasanya, perempuan di luaran sana sangat sulit untuk berkata 'minta maaf'.


"Sopo toh nduk, malam-malam begini bertamu?" tanya seseorang dari dalam rumah.


"Ayu juga ndak tau, Pak," jawab gadis itu.


Pria paruh baya yang sudah terlihat tua, baru saja keluar dari rumah gubuk itu. Pria paruh baya yang notabene nya adalah ayah gadis itu langsung menatap Dito bingung. Tidak pernah sama sekali seorang pemuda berkunjung kerumah nya, lalu ini? Apa pemuda yang di depannya ini teman putrinya?


Dito tersenyum canggung pada ayah gadis itu, lalu menyalami nya. Ayah gadis itu pun menurut saja saat Dito menyalami tangannya dengan santun. Ia masih bingung dengan Dito.


"Saya Dito, Om," ucap Dito setelah menyalami bapak paruh baya.


"Nak Dito?" Pria paruh baya itu masih kebingungan.


"Temennya Ayu?" lanjutnya.


Dito tersentak. Ayu? Apa gadis yang di depannya ini yang bernama Ayu? Kalau iya, Dito harus jawab apa?


"Umm.. maaf Om. Saya disini... tersesat," jawab Dito bingung.


"Bapak kira kamu temennya Ayu, hehe. Kok kamu bisa tersesat?" tanya bapak nya Ayu.


"Saya juga gak ngerti, Om. Saya coba cari jalan, tapi gak ketemu, malah saya seperti muter-muter aja," perjelas Dito.


Bapak itu langsung menoleh ke Ayu dengan tatapan getir. "Sekarang jam berapa, Ayu?".


"Tadi pas Ayu ambilkan minum, sekitar mau jam... tiga." Satu kata terakhir, Ayu ucapkan dengan pelan karena kaget. Gawat, ini pasti sudah jam tiga. Pasti dia sedang berkeliaran disini. Ayu harus cepat-cepat membawa Dito dan bapaknya masuk.

__ADS_1


"Mas Dito. Bapak. Mending sekarang kita masuk rumah," ucap Ayu cepat.



"Gimana ini, Dul? Apa kita balik ke mobil dulu?" tanya Husen, mereka berdua belum menyerah untuk mencari Dito. Padahal waktu terus berjalan, dan malam semakin larut.


"Gue pikir si iya, susah juga nyari Dito malem-malem gini. Tapi kita tetep gak bakal pergi dari sini. Kita bakal tidur di mobil, lo setuju gak?" perjelas Abdul bertanya.


"Gue setuju," jawab Husen.



Di dalam mobil, Rama sama sekali tidak bisa tidur. Ia merasa bersalah pada Dito karena telah meninggalkannya. Apalagi sekarang yang mencari Abdul dan Husen. Dan Rama? Ia sama sekali tidak membantu.


Rama melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam tiga pagi. Rama melihat ke sekeliling dari balik kaca mobil. Gelap, seram, dan membuat bulu kuduknya berdiri. Rama mengusap-usap bahu nya.


Ia mulai kepikiran dengan Abdul dan Husen. Kenapa mereka belum kembali? Apa mereka ikut tersesat juga? Apa mereka tidak akan kembali? Lalu, bagaimana dengan nasib Rama yang sendirian di mobil? Pikir Rama bertanya-tanya.


"Abdul sama Husen kemana sih?" monolog Rama panik.


"Kok belum keliatan." Rama melihat keluar dari balik kaca mobil.


"Gue... jadi takut." Rama bergidik ngeri.


"Takut apa, Mas. Hihihi," tanya seseorang dari jok belakang sembari terkikik.


Rama langsung mematung. Ia di mobil ini sendirian 'kan? Lalu yang berbicara di belakang? Rama langsung berkeringat dingin dan jantungnya berdegup kencang.


Rama meneguk saliva nya. Ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.


Rama menghela nafas lega saat di belakangnya tidak ada apa-apa. Tapi saat ia berbalik...


"AAA!!!" Rama langsung berteriak ketika wajahnya dan wajah kuntilanak itu sangat dekat. Kuntilanak yang sempat menampakan dirinya di pohon saat Rama membuang air kecil.


Rama langsung jatuh pingsan.



Abdul dan Husen sudah memutuskan untuk kembali ke mobil. Mereka sudah berjalan ratusan meter, tapi kenapa sepertinya Abdul dan Husen hanya berputar-putar saja. Husen berfikir ada yang tidak beres.

__ADS_1


"Dul, kok kayak nya kita cuma muter-muter." Husen menyimpulkan.


"Gue juga mikir gitu, Sen," balas Abdul.


"Kita kayak muter-muter disini doang," lanjut Abdul.


"Lo percaya setan?" tanya Husen tiba-tiba.


"Mungkin iya," jawab Abdul.


"Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?" sambung Abdul.


"Ya... gak papa sih," jawab Husen ragu-ragu.


"Eh!" Husen tersentak dan langsung berhenti di tempat. Ia merasakan seseorang meniup telinga nya.


Abdul yang melihatnya pun langsung berhenti. "Lo kenapa?".


"Ada... yang niup telinga gue, Dul," jawab Husen dengan tatapan tidak mengerti.



Dito sekarang berada di rumah Ayu. Ia masih bingung kenapa Ayu tiba-tiba mengajak dirinya dan ayah nya buru-buru masuk ke rumah setelah Ayu mengucapkan jam tiga dini hari. Sebenarnya ada apa dengan jam tiga? Dito bingung.


Ayu sendiri, jantung nya sempat berdetak begitu cepat. Kalau sampai tadi ia dan ayah nya terlambat masuk dan masih berada di luar rumah, entah apa yang akan terjadi.


"Lo kenapa ajak gue masuk?" tanya Dito dengan tatapan datar. Mereka sedang duduk di kursi panjang yang cukup lebar.


"Maaf ya, Mas. Kalau tadi saya nyuruh masuk ke rumah gubuk saya," jawab Ayu tidak enak hati.


Ayu bingung harus menjelaskannya darimana. Dari awal atau intinya saja? Tentang kematian seorang gadis, dulu. Kematian yang misterius, sampai-sampai ia masih berkeliaran di hutan ini dan villa itu.


Bahkan, gadis yang meninggal secara misterius itu adalah teman baik Ayu. Tapi Ayu sama sekali tidak mengetahui penyebab kematian nya. Kematian itu begitu mendadak, Ayu sangat yakin temannya itu sama sekali tidak mempunyai penyakit.


Kematian teman Ayu sangat mengenaskan. Ia di temukan dengan banyak darah dalam kondisi mengenaskan. Penyebab ia masih bergentayangan mungkin ingin membalasakan dendam pada pembunuhnya. Atau malah ada urusan yang belum ia selesaikan di dunia ini.


Roh teman Ayu itu selalu bergentayangan pada malam hari, tepatnya jam tiga dini hari. Ayu juga tidak mengetahui apa penyebab nya. Yang Ayu tau hanyalah, roh itu akan menganggu para warga jika berkeliaran pada jam tiga dini hari.


Ayu dapat menyimpulkan itu melalui pengaduan para warga ke balai desa. Warga yang lewat pada jam tiga dini hari sering mengalami, tiba-tiba terjatuh, tiba-tiba telinganya di tiup, dan dahan ranting pohon tiba-tiba terjatuh saat warga itu lewat.

__ADS_1


__ADS_2