Kok Penasaran

Kok Penasaran
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Pagi sudah tiba, hutan-hutan ini sudah tidak terlihat begitu menyeramkan seperti tadi malam. Cahaya matahari masuk dari balik kaca mobil Abdul. Rama yang sedang tertidur langsung terbangun karena silau nya cahaya matahari.


Rama mengusap kedua mata nya. Sudah pagi ternyata. Rama melihat ke depan, kursi pengemudi dan di sampingnya, ternyata mereka bertiga belum kembali. Rama kembali menyandarkan kepala nya ke belakang.


"Kok mereka belum balik ya," monolog Rama.


"Gue jadi khawatir, ck," lanjut Rama.


"Abdul juga. Gue malah di kunciin gini. Berasa narapidana gue." Ucapan Rama mulai tidak jelas.


"Mana laper banget lagi."


"Disini mana ada ojol buat beli makanan."


"Mana tadi malem gue cuma minum."


"Tapi kasian juga si mereka. Mereka masih hidup gak ya?" Rama menatap langit-langit membayangkan bagaimana nasib mereka bertiga.



Abdul terbangun dari pingsan nya. Ia melihat ke sekitar, sudah pagi ternyata. Abdul menoleh ke samping dan langsung mendapati Husen yang belum terbangun. Sebelum membangunkan Husen, Abdul lebih dulu mengecek keadaan telinga Husen. Yang Abdul lihat, kedua telinga milik Husen baik-baik saja.


"Baik-baik aja kok," ucap Abdul setelah mengecek telinga temannya.


"Sen." Abdul berusaha membangunkan Husen dengan cara menepuk-nepuk bahu nya.


Husen terbangun dan mengedipkan matanya, ia segera beranjak duduk dan langsung melihat ke Abdul.


"Kita masih di sini, Dul?" tanya Husen seperti orang yang baru saja kehilangan ingatannya.


"Hmm. Semalem... kayak nya kita pingsan. Kepala gue sedikit pusing soalnya," jawab Abdul memperjelas.


"Kepala gue juga." Husen memegangi kepalanya yang sedikit nyeri.


"Sedikit pusing," sambung Husen.


"Kita mau lanjut nyari Dito apa samperin Rama? Gue kasian sama telinga lo," ungkap Abdul.


Husen langsung teringat, tadi malam 'kan telinganya sempat sakit. Husen memegang telinga nya. Sudah tidak sakit lagi, sepertinya sakit di telinga nya sudah hilang.


"Iya Dul. Tapi sekarang telinga gue dah baikan," jawab Husen.


"Kita lanjut cari Dito aja," lanjut Husen.


"Yakin lo?" tanya Abdul tidak percaya. Siapa tau setelah Husen mengetahui bahwa Rama ia kunci di mobil sendirian, Husen akan berubah pikiran.


"Gue takut Rama keabisan napas," lanjut Abdul.


"Hah?" Husen tidak mengerti.

__ADS_1


"Kemarin sebelum kita pergi, gue sempet kunciin Rama di mobil. Takut dia ilang, gue." Abdul menjelaskan.


"Busett!!!" Husen tersentak.


"Tapi kayaknya Rama gak bakal keabisan napas. Cewek 'kan banyak akal nya," lanjut Husen, lalu mereka berdua tertawa ketika mengingat Rama.



"Mas," panggil Ayu ke Dito. Ia berdiri di samping Dito yang sedang tertidur. Ia sudah tiga kali memanggil Dito, tapi Dito tak kunjung bangung.


Ayu terdiam, menatap Dito dengan senyuman kecil. Lelaki yang di depannya ini, sangat berbeda dari yang lain. Biasanya lelaki yang di jumpai Ayu akan menggombali nya dengan ribuan gombalan. Tapi Dito, ia terlihat biasa-biasa saja. Malah bisa di bilang, Dito sangat cuek.


Entah perasaan apa yang di miliki Ayu untuk Dito. Yang jelas, ketika menatap Dito, hati nya sejuk dan dirinya sangat gembira. Jujur, Ayu belum pernah merasakan ketertarikan pada seseorang sampai sejauh ini. Apa Ayu menyukai Dito?


Tiba-tiba saja Dito membuka matanya ketika Ayu sedang memperhatikannya. Ayu langsung tersentak dan memalingkan wajah.


"Maaf Mas. Tadi saya cuma mau membangunkan, Mas. Ndak lebih kok," perjelas Ayu tanpa menatap Dito.


Dito tersenyum kecil. "Iya."


Dito kemudian melihat keluar, sudah pagi ternyata. Tadi malam Dito tidak bisa tidur karena memikirkan temannya. Tapi sepertinya, sekarang ia tidak mengantuk. Entah karena apa. Biasanya weekend, Dito akan menghabiskan waktunya dengan tidur yang cukup lama, karena lelah saat malam nya ia begadang.


Ayu sekarang memalingkan wajah nya menatap Dito. "Oh iya, Mas. Ini sudah pagi, saya mau mengantarkan jamu pesenan warga. Siapa tau, saya bisa membantu mengantarkan Mas ke tempat tujuan Mas."


Ayu dan bapak nya bisa bertahan hidup karena berjualan jamu. Mereka sudah berjualan jamu bertahun-tahun, saat ibu nya masih ada dan belum meninggal.


Ayu langsung mematung ketika mendengar nama Pak Rudi dan villa itu. Pak Rudi adalah pemilik villa yang selama ini menjadi tempat roh temannya berada, bahkan temannya terbunuh di villa itu.


Dito menjentikkan jari nya. " Lo tau?".


Ayu tersentak. "Eh! I... iya Mas. Tapi kalo saya boleh tau. Mas ada urusan apa ya disana?".


"Gue liburan sama temen-temen gue di villa itu," jawab Dito.


"Gitu ya, Mas. Saya tau kok villa nya dimana," kata Ayu, lalu tersenyum canggung. Ia bingung harus mengatakan ini atau tidak. Tentang kejadian di villa itu.



Husen dan Abdul memutuskan untuk mencari Dito saja. Lagian Rama akan aman-aman saja di dalam mobil, dan jelas Rama tidak ada kehabisan nafas karena di dalam mobil pasti Rama menghidupkan AC.


Mereka berdua menyibak tanaman-tanaman liar yang berada di depan mereka. Husen berhenti, mata nya menyipit untuk mempertajam objek yang ia lihat. Husen melihat ada sebuah rumah gubuk, di tengah-tengah hutan begini? Pikir Husen.


"Dul berenti dulu Dul," cegah Husen agar Abdul tidak melangkah lebih jauh.


Abdul yang mendengarnya langsung berhenti.


"Lo liat itu." Husen menunjuk ke rumah gubuk itu.


Abdul mengikuti arah tunjuk Husen. Ia melihat sebuah rumah gubuk. "Rumah gubuk?".

__ADS_1


"Siapa tau Dito disana." Husen menyimpulkan.



Dito menunggu di depan rumah, ia sedang menunggu Ayu yang mengambilkan beberapa botol jamu untuk di antarkan ke warga. Dito berharap saat di perjalanan ia bertemu dengan ketiga temannya.


"Sudah Mas. Ayo berangkat," ucap Ayu setelah menutup pintu.


"Ok–".


"DITO!!!" teriakan Husen dan Abdul memotong ucapan Dito.


Dito langsung menoleh ke sumber suara. Husen dan Abdul langsung berlari dan menabrak tubuh Dito lalu memeluknya.


"Gue susah napas!" ucap Dito penuh penekanan karena Husen dan Abdul memeluknya begitu erat.


Husen dan Abdul yang mendengarnya pun langsung melepaskan pelukan itu.


"Gue kira lo di makan **** hutan, Dit," celetuk Husen.


Abdul yang mendengarnya langsung terkekeh, sedangkan Dito mendengus kesal..


Ayu yang melihat kehadiran dua lelaki secara tiba-tiba langsung di buat bingung, dahi nya mengkerut.


"Mas-Mas ini... siapa ya?" tanya Ayu bingung.


Perhatian mereka bertiga langsung teralih ke Ayu. Husen dan Abdul menatapnya bingung.


"Dia Ayu. Yang ngasih tumpangan buat gue," jawab Dito ke Abdul dan Husen.


Husen dan Abdul manggut-manggut.


"Gue Husen," kata Husen memperkenalkan diri.


"Gue Abdul," tambah Abdul.


Ayu tersenyum menanggapinya.


"Thanks ya. Lo mau ngasih tumpangan ke temen batu gue," ucap Husen.



Mobil Abdul berbunyi. Rama yang berada di dalam langsung terlonjak kaget. Apa-apa an lagi ini? Apa kuntilanak itu datang lagi? Tapi 'kan ini sudah pagi. Rama bergidik ngeri saat membayangkan kejadian tadi malam.


Di luar dugaan, ternyata Abdul membuka pintu mobil. Di sampingnya, ada Dito, Husen, dan seorang perempuan yang sama sekali tidak Rama kenal. Rama tersenyum lebar ketika melihat Dito, berbanding terbalik, Dito yang melihatnya hanya biasa-biasa saja.


"Dit–".


"Basa-basi lo nanti aja. Sekarang kita ke villa," potong Dito

__ADS_1


__ADS_2