Kok Penasaran

Kok Penasaran
Kejanggalan Ayu


__ADS_3

Rama tiba-tiba saja berteriak, dan itu mengalihkan pandangan teman yang lainnya, sekaligus Ayu yang baru sampai di belakang Dito. Rama merasakan kaki nya seperti di cengkram oleh tangan seseorang di bawah air. Dan yang membuat Rama bertambah takut adalah, tekstur tangan itu yang kasar dan Rama merasakan kuku-kuku panjang ingin menggores kaki nya.


"Lo kenapa, Ram?" tanya Abdul panik.


"Kaki gue... kaki gue mau di rusak, Dul!" jawab Rama dengan wajah yang seserius mungkin.


"Tuh 'kan, sifat cewek nya keluar lagi. Masa kaki kena air bisa rusak. Pasti yang lo khawatirin kuku-kuku cantik lo itu 'kan?" tuduh Husen meledek.


Rama langsung menatap Husen. "Gue beneran, Sen. Ada tangan yang kayak mau nyakar kaki gue!".


Rama langsung melihat ke bawah, Husen dan yang lainnya pun langsung mengikuti arah pandang Rama.


"Kok... cuma ada batu?" gumam Rama bingung yang di dengar oleh keempat orang yang berada disini.


"Halu!" cibir Dito yang sedari tadi diam.


"Enggak, Dit. Tadi gue bener-bener ngerasain!" balas Rama kesal karena temannya tidak ada yang percaya pada nya.


Lalu pandangan Rama teralih pada Ayu yang berada di belakang Dito dengan rantang yang berada di tangannya.


"Ayu! Air terjun ini angker 'kan?" tanya Rama menyimpulkan. Karena ia benar-benar merasakan tangan kasar seseorang menyentuh kaki nya.


Mereka bertiga yang mendengar Rama menyebut nama Ayu langsung menoleh ke belakang. Dan benar, Ayu sudah berada di belakang Dito dengan rantang makanan. Bahkan sebelumnya mereka ber-empat tidak mengetahui bahwa Ayu sudah sampai disini.


"Sejak kapan lo disini?" tanya Dito to the point.


Ayu langsung tersentak. Ia tadi melamun dan tidak mendengarkan pertanyaan Rama. Ayu sedang melamun memikirkan apa yang sebelumnya ia dengar, tentang tangan kasar seseorang yang menyentuh kaki Rama saat di air. Apa wanita itu? Pikir Ayu.


Wanita yang... Ayu tidak ingin melanjutkan dan mengingat nya lagi.


"Eh iya Mas, ada apa?" tanya Ayu bingung.


"Air terjun ini angker 'kan, Yu?" tanya Rama lagi.


Ayu bingung harus menjawab apa. Apa ia harus jujur?


"Lagian disini gak ada orang selain kita. Bisa jadi 'kan tempat ini angker dan penduduk desa gak ada yang berani kesini. Dan berarti cuma kita yang belum tau kalo tempat ini angker." Rama menyimpulkan lagi.

__ADS_1


"Lo nyembunyiin apa dari kita?" tanya Rama penuh selidik pada Ayu.


"Lo jangan nuduh Ayu gitu dong, Ram. Siapa tau lo laper terus lo halu, gak ada yang tau 'kan?" sahut Husen.


Pandangan Rama langsung teralih ke Husen. "Terus kalo gak ada yang di sembunyiin, kenapa dia diem?".


"Jatuh nya lo kayak nuduh Ayu tau gak?" tambah Abdul.


"Tapi emang dia–" Saat Rama menatap ke Ayu lagi. Ucapannya langsung terhenti dan mata nya terbelalak kaget, dan Rama langsung pingsan di tempat.



Rama di tidurkan di sofa villa Abdul. Saat Rama pingsan, mereka langsung pulang ke villa karena khawatir pada Rama. Rama membuka mata nya, Rama langsung melihat ketiga temannya dan... Ayu!


Rama langsung terlonjak kaget dan langsung merubah posisi menjadi duduk. Ia sekarang menjadi parno pada Ayu. Tadi jelas-jelas Rama melihat wajah Ayu sangat rusak dan pucat seperti hantu. Tapi sekarang, wajah Ayu sudah seperti biasa. Rama jadi berfikir bahwa Ayu bukanlah manusia.


"Lo kenapa si, Ram?" tanya Abdul bingung.


"Lo!" Rama menunjuk Ayu.


Mata milik Ayu langsung berkaca-kaca. Apa maksud Rama berkata bahwa dirinya bukan manusia? Jelas-jelas ia manusia sejati. Kaki nya menapak di tanah. Lantas apa yang membuat Rama berfikiran bahwa dirinya bukan manusia?


"Omangan lo makin ngelantur," ucap Dito dingin.


"Gue gak ngelantur, Dit! Gue beneran! Gue liat sendiri muka nya Ayu berubah jadi serem banget gak kayak manusia!" Rama tetap kekeh membuat teman-temannya percaya.


Ayu sudah tidak sanggup mendengar ucapan Rama lagi. Ucapannya membuat Ayu sakit hati. Ayu merasa tersinggung, ia berusaha baik pada keempat remaja kota ini. Tapi salah satu dari mereka malah membuat Ayu sakit hatu.


Ayu langsung berlari keluar villa sembari menghapus air matanya yang membasahi pipi.


"Becanda lo keterlaluan, Ram," ucap Husen lalu meninggalkan ruang tamu. Yang lainnya pun ikut menyusul Husen meninggalkan Rama sendirian.


"Kenapa kalian gak ada yang percaya sama gue sih?" lirih Rama lesu.


Rama kemudian terpikir untuk membuktikan bahwa omongannya itu benar. Ya, Rama harus mencari bukti. Rama yakin, Ayu akan berubah ke wujud asli nya hanya pada Rama. Jika ada ketiga temannya, Rama yakin Ayu akan sok manis di depannya dan seolah tidak terjadi apa-apa.


Walaupun Rama takut pada hal-hal yang berbau mistis. Tapi demi kepercayaan ketiga temannya, Rama akan berusaha untuk pemberani. Apalagi nanti ia akan sendiri dalam mencari bukti tentang Ayu. Tapi yang jelas, Rama hanya ingin teman-temannya percaya akan perkataannya.

__ADS_1


"Gue bakal buktiin kalo Ayu itu busuk!" ucap Rama dengan tatapan tajam dan tangan terkepal.



Rama membuka pintu kamar, ia melihat Dito sedang memainkan ponselnya di atas kasur dengan duduk bersila. Rama dapat mengintip sedikit bahwa Dito sedang membaca artikel di sebuah web berita. Rama takut jika Dito marah padanya dan tidak ingin berbicara pada nya. Walaupun biasanya Dito hanya menjawab singkat, hal seperti itu cukup membuat Rama gembira.


"Dit," panggil Rama sembari berjalan ke arah Dito.


"Lo marah sama gue?" tanya Rama hati-hati saat ia sudah duduk di atas kasur.


"Gak," jawab Dito tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Rama langsung tersenyum menampilkan deretan gigi nya.


"Tapi tadi kenapa lo ikut ninggalin gue?" tanya Rama lagi karena di ingat-ingat Dito tadi meninggalkannya sendiri di ruang tamu seperti yang lain.


"Gue capek," jawab Dito.


"Perasaan lo gak ngapain-ngapain deh, lo 'kan kayak batu, diem terus," balas Rama bingung.


Dito langsung meletakkan ponsel nya di atas kasur. "Lo pikir yang gendong lo dari air terjun siapa?".


"Si–".


"Gue," potong Dito.


Rama menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "Gitu ya... Thanks ya, Toto."


"Hem."


"Tapi lo percaya gak kalo Ayu itu...".


"Bukti. Baru gue percaya," potong Dito.


"Oke!" Rama mengangkat satu tangannya.


"Gue bakal buktiin!" lanjut Rama pasti.

__ADS_1


__ADS_2