
“Ingat saja pelakor yang memalukan! Kamu dan Dilan akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini yaitu marah karena dicerai padahal kekayaan Dilan yang sekarang itu adalah berkat aku menemani dan juga mendoakannya siang dan malam. Kalian akan merasakan apa yang aku rasakan!” monolognya dengan lirih namun penuh perasaan karena kebencian yang ada di dalam hatinya itu sudah mendarah daging dengan seorang yang bernama Lea yang menjadi orang ketiga dalam kehidupan rumah tangganya.
Kenapa Safea begitu marah kepada Lea?
Flashback * * *
Setelah 7 hari, dari kasus penangkapan Lea di klab malam yang berbuntut dengn ditangkapnya Lea dengan tuduhan pengedar dan juga pemakai narkotika.
“Bos . . . kami sudah bisa menemukan titik terang mengenai siapa sebenarnya yang sudah berani membuat skenario yang melibatkan Ibu Lea dengan tuduhan pengibar dan juga pemakaian narkotika.” detektif yang disewa oleh Dilan itu menemukan bukti-bukti bahwa istri kecilnya itu tidak melakukan kesalahan dan kejahatan yang dituduhkan oleh pihak kepolisian karena bukti-bukti yang ditemukan oleh kepolisian itu adalah akibat orang yang ingin menjebak sang istri.
Rekaman CCTV yang diberikan oleh Herman Husain sebagai pengacara dari Lea yang disewa oleh Dilan dengan harga yang cukup mahal, ketika perekaman tersebut menangkap seorang laki-laki yang memasukkan bukti yang ditemukan oleh kepolisian itu ke dalam tas milik Lea dan juga memasukkan obat terlarang di dalam minuman yang Lea minum.
Semua bukti-bukti dari CCTV itu sudah menggambarkan secara gamblang bahwa Lea bukan orang atau target yang dicari oleh pihak Kepolisian.
Tapi permasalahannya adalah mereka belum menemukan Siapa sebenarnya yang menjadi dalang dari penjebakan tersebut.
Oleh karena itu Dilan sampai harus mencari detektif khusus untuk menangani masalah ini karena dia tidak terima kalau sampai Lea masuk ke dalam penjara.
“ Lalu siapa sebenarnya yan sudah berani mengusik istriku?”
Dilan mengerutkan keningnya ketika fakta dan bukti-bukti serta foto di mana orang yang menjadi dalang dari penjebakan Lea itu terpampang nyata di depan mata.
Ya tentu saja detektif itu tidak berbicara asal, namun dia memiliki bukti-bukti khusus bahwa safea lah yang telah menjadi dalam dari peristiwa penjebakan Lea sampai akhirnya Lea harus menjadi tersangka di kepolisian. Beruntung saja pada akhirnya Lea bisa keluar dan bebas karena jaminan dari Dilan dan juga Herman Husain sebagai pengacaranya. Apalagi Kapten Malik juga menemukan kejanggalan di kasus yang melibatkan Lea itu.
“ Ini Kamu bukannya mengada-ngada kan? Benar orang ini yang menjadi dalang dari penjebakan istri ku?” tanya Dilan sekali lagi kepada detektifnya itu karena dirinya juga tidak terlalu yakin kalau Safea bisa melakukan hal-hal yang seperti ini.
“ Bukti-bukti foto pertemuan antara penjebak dan juga dalangnya sudah terpampang nyata di hadapan Bos, rekaman pembicaraan mereka lewat telepon juga sudah ada. Jadi apa yang sudah diperintahkan Bos kepada saya, sudah saya lakukan, dan hasilnya juga sudah ada. Harap jangan lupa Bos mengirimkan sisa pembayaran untuk jasa saya itu.” katanya dengan sedikit ketus karena dianggap meremehkan kinerjanya.
“ Oh maaf maaf . . . Saya akan langsung mentransfer sisanya dan terima kasih buat kerja keras anda!” detektif itu langsung berlalu tanpa kata karena dia tahu bahwa Dilan akan mentransfer sisanya jadi dia tidak mendebatkan apa-apa lagi dan langsung pergi saja.
Setelah detektif suruhannya itu pergi, Dilan dengan garam ingin menemui sang istri pertamanya dan membulatkan tekadnya untuk menceraikan Safea dan menikahi secara sah Lea.
Karena tidak sabar Dilan langsung menghubungi Safea untuk berbicara di rumah karena saat ini posisinya Dilan masih berada di kantor.
Kehidupan Dilan itu berputar pada dua tempat, apartemen dari Lea dan juga Kantornya yang memiliki ruangan pribadi di mana Dirinya bisa menghabiskan waktu-waktunya bersama dengan Lea.
Untuk siang hari ini dia ingin menemui Safea dan menjelaskan keinginannya serta surat cerai itu.
“ Halo . . “ Safea mengangkat panggilan telepon dari suaminya, ia belum bisa menganggap Dilan adalah mantan suaminya karena belum ada keputusan cerai dari pengadilan.
__ADS_1
“ Fe, bisa kita bertemu?” tanya Dilan tanpa basa basi.
Sebetulnya Safea sedikit baper karena Dilan laki-laki memanggil dirinya dengan nama panggilan sayang yang biasa diungkapkan Dilan ketika memanggil Safea.
“ Saat ini aku Berencana untuk makan siang di cafe X, jadi kita bisa ketemu aja di sana.” kata Safea dengan singkat padat dan jelas. Dia berusaha untuk menyingkirkan perasaan cintanya yang masih mendarah daging kepada Dilan.
Bayangkan pernikahan mereka sudah mencapai 20 tahun dan sebelumnya mereka sudah berpacaran selama 5 tahun, dan kini Harus Terpisah gara-gara ada orang ketiga.
Tentu saja cinta itu masih ada di dalam benak Safea bahkan apabila Dilan menginginkan Safea untuk kembali menjadi istrinya tentu Safea tidak akan berpikir panjang untuk mengiyakan.
“ Oke kita akan ketemu di sana, aku langsung berangkt.”
Karena pikirannya hanya bagaimana caranya menolong Lea, jadi ia langsung saja berangkat.
Dilan bahkan sama sekali tidak memikirkan perasaan istri pertamanya itu, dan tidak memikirkan bahwa ketika mereka susah istrinya yang bernama Safea inilah yang mendukungnya dan juga mendoakannya siang dan malam.
Sesampainya Dilan di cafe tersebut, ternyata Safea sudah ada di sana dan berusaha menenangkan perasaannya ketika menatap suaminya yang tampak lebih tampan karena memang Dilan berusaha menjaga penampilannya agar tidak kebanting sama Lea yang memang sangatlah cantik.
“ Gimana kabar kamu mas?” tanya Safea dengan nada gugup seakan dia tidak bisa menahan perasaan yang ada di dalam dadanya bahkan jantungnya berdebar jauh lebih kencang daripada biasanya.
“Baik, tapi aku kesini itu bukan untuk berbicara tentang kabar aku dan juga kamu, karena aku sudah tak peduli lagi . . “
Dia menangis membayangkan masa lalunya yang indah, tapi sekarang ?
Safea tidak berdaya dengan apa yang saat ini dialaminya. Dia tidak bisa melibatkan anak laki-laki semata wayangnya untuk berperang bersama dengan dirinya melawan Dilan.
“Jadi apa yang sekarang kamu pedulikan?” tanya Safea dengan nada menyindir dan sedikit sinis.
“Ini!!Semua bukti kalau kamu berada di balik jebakan atas Lea !!” kata Dilan sambil melempar semua berkas yang ada di dalam amplop coklat itu dan membuat beberapa foto keluar dari dalam amplop itu dan membuatnya tercecer di meja cafe tempat mereka bertemu.
Safea hanya melirik sinis, namun dia tak menjawab semua tuduhan Dilan.
Lagian Safea puas sudah memviralkan juga video saat Lea ditangkap.
Safea senang karena ia bisa mempermalukan pelakor itu, biar saja . . . toh endingnya ia tetap akan diceraikan oleh suaminya.
Apapun yang sudah ia lakukan tetap saja endingnya dia akan diceraikan.
“Jangan salahkan aku kalau sebentar lagi akan ada pihak kepolisian yang akan meringkusmu dan membuat kamu membusuk di penjara!” kata Dilan dengan berdecih marah.
__ADS_1
Safeea memang marah dan kesal, ia juga merasa kalau dihina oleh suaminya itu.
Ia menatap sang suami dengan tajam.
“Hmm merasa suci dan tak pernah berbuat salah?” sarkas Safeea kepada Dilan membuat Dilan teringat apa yang pernah ia lakukan yang bisa menariknya ke dalam penjara juga.
“ Hal itu juga tetap bisa membuat kamu masuk penjara juga jadi itu tak bisa dihitung, karena perbuatan kamu ini membuat Lea menjadi trauma . . “
“Aku bukan dokter ahli jiwa ataupun seorang psikolog handal jadi lebih baik kamu simpan saja curhatanmu itu kepada dokter ahli jiwa yang bisa membantu pelakor itu untuk bisa keluar dari trauma itu.”
Kata-kata Safea yang penuh dengan sarkas membuat telinga dari Dilan menjadi panas.
“ Fe, jangan buat aku mrah, sekarang aku ada cara, segera tanda tangani surat gugatan cerai itu dan aku akan melupakan apa yang sudah kamu lakukan di belakangku itu.” Dilan memberikan prasyarat kalau dirinya akan membebaskan Safea namun dengan catatan dia menandatangani surat cerai itu sehingga dia bisa menikah secara resmi dengan Lea.
Safe hanya memandang suaminya itu dengan pandangan Syahdu penuh dengan kesakitan di dalamnya.
Ternyata pertemuannya kali ini adalah untuk memaksa dirinya menandatangani surat cerai supaya suaminya itu bisa menikah dengan pelakor itu
Dia hanya bisa tersenyum miris melihat kegigihan suaminya untuk bercerai dari dirinya Padahal dia sama sekali tidak memiliki kesalahan apa-apa terhadap sang suami.
Tapi mau tidak mau dia memang harus melakukannya yaitu menandatangani surat perceraian itu.
Safea menerima ancaman dari Dilan karena kalau sampai dirinya tidak menandatangani surat-surat cerai itu maka kemungkinan terbesarnya adalah dirinya akan meringkuk di penjara akibat kejahatannya terhadap Lea.
“Baiklah!Toh aku akan tetap bercerai darimu . . . anyway!”
Tanpa perasaan, Dilan langsung menyerahkan kembali berkas perceraian dan memaksa Safea untuk menandatanganinya dengan segera.
Lalu kemudian meninggalkan Safea dengan lesu, setelah ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dilan keluar dari tempat itu dengan wajah bersinar-sinar sedangkan Safea harus menahan kesedihannya dan akhirnya menumpahkan semuanya itu ketika Dilan keluar dari ruangan tersebut.
***
Hai readers Jangan lupa untuk selalu mendukung author dengan cara memberikan like dan juga komentar-komentar positif yang mendukung kami.
Dan kalau memang kalian merasa memiliki banyak poin sudilah kiranya kalian memberikan kepada cerita ini supaya dukungan kalian bertambah.
Ditunggu terus dukungannya dan cerita ini akan di update setiap hari, Happy reading!!
__ADS_1