
NB: Hai sobat readerku... Mau sekilas info dulu nih. Mungkin sobat reader lamaku tau cerita tentang Yura dan Jerry. Cerita mereka kembali disini. Nantikan kelanjutannya.
Jerry Putra Kusuma, usia 27 tahun. Adalah seorang pria sederhana dan jujur yang berprofesi sebagai seorang dosen di sebuah universitas ternama. Dia adalah idola para mahasiswi di kampus. Namun sikap Jerry terlalu dingin dengan para wanita. Ia hanya berfokus pada pendidikan dan bagaimana caranya menjadi orang yang sukses.
''Selamat pagi, Pak! " sapa para mahasiswi saat melihat Jerry datang dengan motor maticnya.
''Pagi, '' balas Jerry dengan ramah. Memiliki bentuk tubuh yang proporsional dan wajah yang tampan, membuat banyak orang berpendapat kalau dirinya lebih pantas menjadi seorang model daripada seorang dosen. Namun Jerry yang begitu mencintai dunia pendidikan, membuatnya terus semangat untuk mengejar ilmu dan membagikan ilmu yang ia miliki.
Jerry segera menuju kelasnya dan mengajar seperti biasa. Mereka semua sangat senang mendapat seorang pengajar seperti Jerry, meskipun sikap tegas dan galaknya yang datang mendadak, membuat par mahasiswa ketakutan. Setidaknya Jerry, berusaha menempatkan diri di berbagai situasi.
Selesai mengajar, Jerry pun segera pulang ke rumah. Namun sesampainya di rumah, Jerry terkejut melihat rumah yang berantakan. Tampak Ayah, Ibu dan adik perempuannya duduk dengan wajah masam.
''Ayah, Ibu, ada apa ini?'' tanya Jerry.
''Tanyakan saja pada adikmu ini.'' Kesal Nyonya Rita sambil menoyor kepala anak perempuannya.
''Ibu, sakit!" rengek Rhea.
''Rhea, ada apa ini? Kenapa rumah kita berantakan dan televisi, kulkas juga hilang.'' Tanya Jerry.
Bukannya menjawab, Rhea malah menangis meraung-raung. Hua... hua... hua.
''Adikmu ini terlilit hutang rentenir dan sudah membengkak.'' Sahut Tuan Panji, Ayah Jerry.
''Apa? Rentenir? Bagaimana bisa?'' Jerry terbelalak tidak percaya.
''Ini adik kamu yang bodoh ini, memang tidak bisa diajak kaya. Hobinya membuat orang susah terus. Pacarnya membodohinya. Katanya pacarnya yang dibanggakan itu meminta uang pada Rhea untuk di investasikan dan ternyata setelah uang itu diberikan, pacarnya malah kabur.'' Jelas Tuan Panji dengan wajah putus asa.
''Apa? Rhea, kenapa kamu bodoh sekali? Aku sudah melarangmu untuk berhubungan dengan pria itu. Berapa uang yang kamu pinjam dari rentenir itu?'' Suara Jerry mulai meninggi.
''Uang yang aku pinjam 100 juta, Kak. Dan sekarang sudah berbunga menjadi 500 juta'' Jawab Rhea dengan menangis tersedu.
__ADS_1
''APA? Lima ratus juta?'' tubuh Jerry pun lemas sampai ia terjatuh di lantai.
''Memang ya Rhea, kamu ini." Nyonya Rita kembali menjambak rambut putrinya dengan penuh kekesalan. Rhea hanya bisa pasrah sambil menangis. Tuan Panji pun sama sekali tidak membela, sedangkan Jerry sudah terduduk lemas di lantai.
''Setelah ini kita mau tinggal dimana? Adikmu yang kurang ajar ini sudah menggadaikan sertifikat rumah ini. Kalau kita bisa melunasi hutang itu, sertifikat rumah itu akan kembali.'' Sambung Tuan Panji.
''Kamu benar-benar ceroboh Rhea!" bentak Jerry. Jerry dengan tubuh lunglai menuju kamarnya. Ia melihat tabungannya dan hanya ada uang lima puluh juta. Itupun uang yang ia kumpulkan susah payah untuk melanjutkan gelar doktornya di luar negeri. Jerry benar-benar putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa.
''Kakak, maafkan aku!" Rhea tiba-tiba masuk sambil memeluk kaki Kakaknya.
''Maafmu percuma Rhea! Sekarang dimana pria brengsek itu?''
''Aku tidak tahu, Kak. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Aku tergiur dengan iming-imingnya. Aku pikir akan membuahkan hasil dan bisa membuatkan kedai mie baru untuk Ayah dan Ibu tapi ternyata aku di bohongi.''
''Sejak kapan kamu berhutang?''
''Sudah enam bulan lalu. Selama ini aku sembunyi untuk menghindari kejaran rentenir itu. Dan hari ini mereka mendapatkan aku. Tadinya aku tidak mau melibatkan kalian semua. Tapi sekarang sudah terlanjut ketahuan semua.'' Cerita Rhea dengan tangis penyesalannya.
''Kita lapor polisi saja! Siapa tahu, ada harapan.''
''Setidaknya aku bisa menghajarnya.'' Kesal Jerry. Akhirnya malam itu Jerry dan Rhea pergi ke kantor polisi untuk melaporkan masalah itu.
Jerry dan Rhea dibuat tercengang dengan fakta yang ada, bahwa sebenarnya kekasihnya itu mempunyai seribu wajah alias penipu ulung dan masuk dalam daftar pencarian orang.
''Dia adalah penipu dengan seribu wajah. Sepertinya pria ini tidak kapok menipu. Kami akan menangkapnya Nona tapi tentu saja tidak akan menjamin yang anda kembali. Karena bukan hanya anda korbannya tapi puluhan orang. Dia ini seperti belut, licin sekali.'' Jelas Pak Polisi.
''Setidaknya beri kami kabar, kalau pria itu sudah tertangkap, Pak.'' Kata Jerry.
''Pasti Tuan. Kami akan segera menghubungi anda. Karena kami juga sedang melacak orang ini.''
''Baiklah Pak, kalau begitu kami permisi.'' Jerry dan Rhea lalu meninggalkan kantor polisi. Saat dalam perjalanan, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
__ADS_1
''Kak, kita berteduh dulu.'' Kata Rhea.
''Tidak usah! Percuma juga, kita juga sudah basah.'' Jawab Jerry pasrah. Pikirannya kosong, ia tidak tahu harus bagaimana untuk membayar hutang-hutang itu.
''Kak, aku akan kerja siang dan malam untuk membayar hutang itu. Aku akan bertanggung jawab.''
''Sepertinya aku juga harus mengambil kerja tambahan setelah mengajar.''
''Kak, maafkan aku. Aku sudah menyulitkan semuanya. Aku hanya ingin kedai mie kita berkembang lebih besar. Kata Coky, kalau aku menginvestasi seratus juta, setiap bulannya aku akan mendapat keuntungan lima puluh juta. Tapi nyatanya, aku malah tertipu.''
''Sudah, tidak usah menangis. Semua sudah menjadi bubur.''
Sesampainya di rumah, Jerry dan Rhea segera mengganti pakaiannya. Kemudian mereka membantu kedua orang tuanya untuk membersihkan rumah. Mereka berempat tidak saling bicara, hanya fokus membersihkan rumah yang berantakan.
''Apa kata polisi Jerry?'' tanya Tuan Panji yang mencoba memecah keheningan.
''Polisi sudah menerima laporan kami. Dan dipastikan akan segera tertangkap, Yah.'' Kata Jerry.
''Bahan-bahan mie kita mau ditaruh dimana? Kita sudah tidak punya kulkas. Semuanya akan membusuk.'' Sahut Nyonya Rita. Nyonya Rita kembali menangis. Menangisi hidupnya yang malang, yang seharusnya di usia senja menikmati ketenangan justru malah menanggung beban yang berat.
Rhea lalu memeluk kedua orang tuanya. ''Maafkan Rhea, Ayah-Ibu. Rhea janji akan bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan uang. Atau Rhea akan kasbon di kantor. Maafkan Rhea. Rhea akan berusaha menyelamatkan rumah kita.''
Kedua orang tuanya hanya bisa terdiam dan pasrah dengan nasib.
''Ayah-Ibu, aku masih ada uang. Besok akan aku belikan kulkas.''
''Tapi itu uang yang kamu tabung susah payah untuk melanjutkan kuliahmu, Nak. Sebaiknya kamu simpan saja. Ibu tidak mau menjadi penghambat cita-citamu.''
''Sudahlah, Ibu tidak usah mempermasalahkan itu. Belajar juga tidak mengenal usia kan? Jadi aku masih bisa menabungnya lagi.''
''Semua ini gara-gara kamu Rhea. Awas saja kalau pria itu kembali, aku akan menghabisinya dengan tanganku,'' geram Nyonya Rita sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
''Sudah Bu, tenang. Semua pasti akan terlewati.'' Jery berusaha menenangkan Ibunya meski ia sendiri sama sekali tidak tenang. Bingung bagaimana cara mendapatkan uang itu.
''Lebih baik aku tunda dulu sekolah doktor ku. Saat ini sebaiknya uangnya aku gunakan untuk membantu Ayah dan Ibu. Sambil aku mencari pekerjaan sampingan di luar sana.'' Gumam Jerry dalam hati.