
Yura terus saja minum sampai satu botol wiski habis tak bersisa.
''Yura, ayo kita pulang!" Jery berusaha mengajak Yura untuk pulang.
''Tidak mau! Aku mau tambah satu botol lagi.'' Ucapnya dengan suara yang sudah mabuk. Kesadaran Yura entah tinggal berapa persen lagi.
''Ini sudah jam 12 malam lewat. Aku besok ada kuis.''
''Oh iya aku lupa kalau kamu dosen teladan. Oke-oke baiklah, kita pulang.'' Yura kemudian beranjak dari duduknya. Namun baru setengah berdiri, Yura sudah sempoyongan dan terjatuh. Beruntung Jery berhasil menangkap Yura. Yura terjatuh dengan berakhir di pangkuan Jery. Kedua mata itu saling bertemu begitu dekat.
''Apa kamu sudah terbiasa mabuk seperti ini?'' tanya Jery. Yura hanya mengangguk lalu pingsan begitu saja. Membuat Jery mendengus kesal.
''Astaga, merepotkan saja.'' Gerutu Jery dalam hati. Jery dengan terpaksa menggendong punggung Yura. Sesampainya di tempat parkir, Jery memasukkan Yura ke dalam mobil. Setelah itu Jery segera melajukan mobil menuju rumah Yura. Setelah dua puluh menit perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai juga di rumah Yura.
''Yura, sudah sampai di rumahmu.'' Jery mengguncang pelan tubuh Yura. Namun Yura sama sekali tidak bangun. Jery kembali mengguncang tubuh Yura sampai akhirnya Yura terbangun.
''Kepalaku pusing sekali,'' gumamnya sambil memijat kepalanya.
''Yura, sekarang turunlah. Sudah sampai di rumah. Aku pulang dulu.''
''Hei, antar aku ke dalam. Kamu tega membiarkan aku turun sendiri dengan keadaan mabuk?'' ketus Yura. Yura yang masih sempoyongan mencari kunci rumah di dalam tasnya.
''Ini, buka pintu gerbangnya.'' Pinta Yura. Jery menghela namun ia tetap menurut. Setelah pintu gerbang terbuka, Jery segera memasukkan mobil milik Yura. Setelah mobil masuk ke pekarangan rumah, keduanya pun turun. Namun Yura justru tersungkur di lantai halaman yang tersusun dari batu adesit. Tentu saja sakit jika terbentur cukup keras pada kulit. Jery segera menyusul begitu terdengar suara BRUK dan rintihan Yura.
''Yura, kamu tidak apa-apa?'' Jery panik seraya membantu Yura berdiri.
''Kepalaku terasa berat sekali.'' Ucap Yura seraya berusaha berdiri sendiri namun tetap saja tidak bisa karena ia mabuk terlalu berat. Untung saja Jery dengan sigap menopang tubuh Yura. Dan kemudian tiba-tiba Yura merasa mual hingga akhirnya ia muntah. Huek! Huek! Huek!
__ADS_1
''Makanya jangan minum terlalu banyak kalau sudah tahu dampaknya seperti ini. Menyusahkan saja.'' Gerutu Jery sambil memijat tengkuk Yura.
''Jangan bawel, cepat bawa aku masuk.'' Ketus Yura saat ia selesai memuntahkan isi perutnya. Jery lalu memapah Yura dan membawanya masuk ke dalam rumah.
''Pasti karena pecel lele itu tidak higenis, makanya aku muntah,'' sambungnya. Jery tidak menanggapi karena malas berdebat dengan Yura. Bagi Jery, rumah Yura sangatlah besar jika di huni sendiri.
''Kamu sendirian?''
''Iya aku sendiri. Kamarku ada di atas.'' Ucap Yura seraya menunjuk ke lantai atas. Jery lalu memapah Yura sampai ke kamarnya. Jery terkejut melihat kamar Yura yang sangat berantakan. Baju berserakan bahkan bungkus snack juga tergeletak sembarangan. Segera Jery membaringkan Yura di atas tempat tidur.
''Hmmmm makan pecel lele tidak higenis tapi lihat sendiri kamarnya seperti kapal pecah.'' Batin Jery. Jery kemudian menuju dapur, membuka kulkas berharap melihat susu steril dan untungnya saja ada. Jery menghangatkannya sejenak sebelum memberikannya pada Yura. Setelah hangat Jery kembali ke kamar dan membangunkan Yura.
''Minum lah, supaya pengarmu hilang.'' Kata Jery sambil membangunkan Yura. Yura yang setengah sadar bangun lalu meminum susu itu. Namun setelah itu Yura tumbang lagi. Lagi, Jery dibuat menghela nafas panjang dengan sikap Yura. Baru kali ini ia bertemu wanita seperti Yura. Melihat kamar Yura yang berantakan, membuat tangan Jery gatal ingin membersihkannya. Ya, Jery selain tampan dan pintar, ia adalah pria yang mencintai kebersihan juga kerapihan. Setelah membuat kamar Yura bersih, Jery menuju dapur. Melihat tumpukan piring dan gelas kotor, membuat tangan dan matanya gatal juga. Setelah rumah Yura bersih dan rapi, Jery akhirnya pulang setelah memesan taksi online. Untung saja masih ada. Kalau tidak, mungkin ia akan pulang jalan kaki.
Begitu sampai rumah, Jery segera menuju kamarnya. Untung saja semuanya sudah tidur. Kalau tidak, kedua orang tua dan adiknya akan menginterogasinya. Setelah membersihkan diri, Jery duduk di meja kerjanya. Membuka buku dan laptopnya, menyiapkan kuis untuk mahasiswanya besok.
**************
''Halo,'' sapanya dengan suara malas.
''Nona, kenapa belum datang? Tiga puluh menit lagi kita ada meeting klien dari Amerika. Tuan Santiago bahkan sudah tiba disini.'' Suara panik Rama sekretarisnya di seberang sana.
''Memangnya ini jam berapa?'' tanya Yura setengah sadar.
''Sekarang sudah jam setengah 10 Nona.'' Jawab Rama. Mendengar ucapan Rama, mata Yura seketika terbuka lebar. Rasa kantuknya hilang. Ia lalu melihat layar ponselnya dan benar saja sudah setengah 10. Yura segera melompat dari tempat tidurnya, menggosok gigi dan mencuci muka tanpa mandi. Begitu keluar kamar, Yura dibuat terkejut, kamarnya tampak bersih dan rapi. Namun ia malas untuk mencari tahu dulu. Ia segera berganti baju, menyemprotkan parfum sebanyak mungkin ke seluruh tubuhnya. Setelah itu ia menuju dapur untuk minum dan melahap selembar roti untuk mengganjal perut. Lagi-lagi Yura dibuat terkejut melihat dapurnya yang juga sangat bersih. Padahal ia masih ingat kalau semalam masih banyak tumpukan piring dan gelas kotor disana. Namun lagi, Yura masih enggan berpikir dan mencari tahu kenapa semuanya menjadi serba bersih. Ia pun bergegas pergi menuju kantornya. Sembari menyetir Yura menyempatkan menyapu wajahnya dengan bedak dan juga bibirnya dengan lipstik. Tak lupa facemist untuk wajahnya supaya selalu segar sepanjang hari. Setidaknya itulah tiga benda yang selalu ada di mobil Yura. Mengantisipasi disaat keadaan darurat seperti ini. Seperti dugaannya, jalanan macet.
''Aduh, macet lagi. Mana keburu.'' Gumamnya kesal.
__ADS_1
''Kalau sampai Tuan Santiago marah, gagal sudah proyekku menembus pasar internasional.'' Yura yang tidak sabaran, mengambil tasnya dan memutuskan keluar dari mobilnya. Karena kemacetan hari itu akan memakan banyak waktu dan mengacaukan segalanya. Ia kemudian nekat berlari menyusuri trotoar sembari melihat jalanan barangkali ada ojek lewat.
''Bang! Berhenti, Bang!" Yura melambai kearah seorang pengendara motor. Otomatis motor itu berhenti.
''Bang, cepat antar saya, Bang.'' Ucapnya dengan terburu dan langsung naik ke jok belakang motor. Tanpa melihat siapa pengendara motor itu dan apakah itu ojek atau bukan, Yura tidak peduli. Akhirnya si pemotor itu melajukan motornya tanpa banyak bertanya.
''Bang, cepetan dikit dong. Aku harus ke kantor. Klien sudah menunggu ku. Bisa gawat bang." Ucapnya dengan panik.
"Makanya jangan mabuk, Non." Celetuk si pemotor.
"Hah? Mabuk? Siapa yang mabuk?" Yura mengernyitkan keningnya, bagaimana bisa di pemotor tahu kalau dirinya mabuk.
"Kalau ada kerjaan pagi, tidur yang cukup jangan malah mabuk-mabukkan." Mendengar suara itu, Yura merasa tidak asing. Jery lalu membuka kaca helm dan masker yang menutup sebagian wajahnya. Ia menoleh kebelakang dan tersenyum sarkas.
"Jery!" seru Yura.
"Hmmmm," singkatnya.
"Syukurlah kalau itu dirimu. Lebih cepat lagi. Proyekku bisa gagal kalau sampai aku telat." Ucap Yura tanpa ada rasa malu ataupun sungkan.
"Maaf Yura, aku juga harus ke kampus. Aku ada kuis." Ucap Jery penuh dengan penekanan.
"Mahasiswa mu kan bisa menunggu. Sedangkan klien ku ini dari Amerika. Aku mohon." Rengek Yura sambil memeluk Jery dari belakang. Jery tentu saja di buat terkejut dengan sikap Yura ini. Membuat Jery merasa gugup.
"Iya-iya. Tapi singkirkan tanganmu dari tubuhku." Ketus Jery.
"Idih sok banget tidak mau aku sentuh." Kesal Yura sambil melepaskan pelukannya. Namun Jery tidak peduli dengan ocehan Yura. Akhirnya setelah ngebut, sampai juga di depan halaman kantor Yura. Yura segera turun dari motor Jery.
__ADS_1
"Aku masuk dulu ya. Nanti aku telepon. Oke." Ia kemudian berlalu dengan langkah terburu. Jery hanya bisa menggeleng dengan sikap unik wanita itu dan kali ini ia yang harus tepat waktu untuk ke kampus. Jery kembali melajukan motornya supaya tidak terlambat masuk kelas.
Bersambung....