
"Selamat pagi semuanya, maaf saya terlambat." Ucap Jery saat memasuki kelasnya.
"Iya Pak, tidak apa-apa. Kami selalu siap menunggu Pak Jery." Ucap salah satu mahasiswi.
"Huuuuuu....." Mereka semua menyoraki mahasiswi itu. Sementara Jery hanya menyunggingkan senyum tipisnya.
"Kuis kita mulai ya. Saya harap kali ini nilai kalian sempurna. Jangan seperti minggu lalu. Sudah saatnya ada perubahan karena ujian semakin dekat."
"Pak, seharusnya kalau nilai kami bagus dapat hadiah dong, Pak?" celetuk mahasiswi lainnya.
"Aku akan memberi hadiah kalian satu buah buku tentang statistika." Tentu saja ucapan Jery mendapat sorakan kecewa. Karena lagi dan lagi, Jery tetap menyuruh mereka untuk belajar. Jary tidak peduli dengan sorakan itu dan segera membagikan soal kuis.
Selama kuis, sorot mata Jery tak henti menatap satu persatu para mahasiswanya. Tentu saja supaya mereka tidak saling mencotek. Meskipun tampan, tetap saja sikap Jery yang begitu disiplin benar-benar sangat menyebalkan untuk mereka semua.
Saat tengah fokus memperhatikan para mahasiswanya, Jery merasakan ponselnya bergetar di dalam sakunya. Ia lalu memeriksanya dan ternyata satu panggilan dari Yura. Jery meriject panggilan dari Yura, memilih fokus pada mahasiswanya.
"Bukannya meeting, kenapa malah menelepon orang?" gumam Jery dalam hati.
Sementara itu, Yura dibuat frustasi karena Tuan Santiago marah dan kecewa karena hari ini ia terlambat.
"Menyebalkan sekali dia menolak panggilanku." Gerutunya.
"Maksud Nona siapa? Tuan Santiago sudah jelas marah dan kecewa, makanya tidak menjawab teleponnya." Sahut Rama yang masih berdiri dihadapan Yura.
"Bukan Tuan Santiago." Ketus Yura yang membuat Rama langsung terdiam.
"Tapi Nona, apa yang harus kita lakukan? Tuan Bayu pasti akan marah. Apalagi Tuan Santiago berteman baik dengan Tuan Bayu.”
“Aku terlambat dan harus bagaimana lagi?” ucap Yura dengan entengnya.
“Memangnya Nona semalam kemana?”
“Bukan urusanmu, Rama.”
“YURA!” suara menggelegar Tuan Bayu memasuki ruangan putrinya. Rama membungkuk memberi hormat. Melihat Papanya datang, Yura langsung bangkit dari dudknya. Wajah Tuan Bayu tampak tersulut amarah. Tuan Bayu melirik kearah Rama, memberi kode supaya Rama membiarkan anak dan ayah itu hanya berdua. Rama mengerti dan segera pergi.
“Ada apa Pah? Kenapa marah-marah?” tanya Yura dengan santainya tanpa rasa bersalah.
“Masih bisa tanya apa?” suara Tuan Bayu meninggi sambil menggebrak meja. Membuat Yura tercekat sampai bahunya terangkat.
“Maaf Pah, aku kesiangan dan lupa.”
“Memangnya kamu darimana? Kamu ini pengganti Papa tapi kamu malah bersikap seenaknya seperti ini. Kamu ini bagaimana sih? Bagaimana kamu bisa terlambat dan lupa? Hah? Kamu tahu kan, Tuan Santiago itu siapa? Beliau marah dan kecewa dengan Papa bahkan ingin menghentikan kerja sama ini.” Kemarahan Tuan Bayu sudah tak terbendung lagi.
“Maaf Pah, aku akan tanggung jawab.”
__ADS_1
“Bagaimana mau tanggung jawab? Sekarang Tuan Santiago sudah perjalanan menuju bandara. Sekarang jawab Papa!”
“Jadi sebenarnya semalam aku kencan, Pah.” Ucap Yura dengan terbata-bata. Mendengar kata ‘kencan’ membuat ekspresi marah Tuan Bayu berubah drastis.
“Kencan? Kamu sudah punya calon suami?” ekspresi marah itu berubah menjadi ceria.
“I-iya. Semalam aku memaksanya pergi ke klub dan aku terlalu banyak minum. Dia mengantarku pulang setelah itu dia pergi. Jadi aku terlambat karena itu.”
“Jadi karena mabuk? Dasar kamu! Apa pacarmu yang mengajakmu mabuk? Pilih laki-laki yang baik, Yura. Pasti itu pria brandal.” Rona wajah ceria Tuan Bayu mendadak berubah menjadi marah kembali.
“Sudah aku bilang, aku yang memaksanya, Pah. Dia pria baik-baik.”
“Apa pekerjaannya?”
“Dia dosen, Pah.”
“Dosen? Yakin? Kamu tidak dibohongi?” Tuan Bayu khawatir jika Yura dibohongi seperti dulu.
“Tidak, Papa tenang saja. Mmmm dia dosen di kampus Darren.”
“Siapa namanya?” Tuan Bayu semakin penasaran.
“Namanya Jerry, Pah.”
“Baiklah, kalau begitu nanti malam ajak dia kerumah. Biar Tuan Santiago, Papa yang mengurus. Tapi ingat, jangan mengulang kesalahan yang sama. Kalau sampai itu terjadi, Papa akan memecat kamu.”
“Aduh, kepaksa ngaku deh. Duh, ngapain mabuk juga sih Yura. Ini tidak sesuai rencana. Ini terlalu cepat. Mana si Jerry susah dihubungi lagi.”
Jery baru saja keluar dari kelas. Kuis hari ini berjalan lancar. Ia pun bergegas menuju ruangannya.
“Pak Jery tidak biasanya terlambat?” tanya Bu Tina, seorang dosen Sastra Bahasa Indonesia yang memang mengagumi Jery. Usianya 35 tahun dan masih lajang. Cara mengagumi Jery memang sangat genit dan agresif namun seperti biasa, Jery tidak pernah terpengaruh.
“Iya Bu, tadi terjebak macet.” Singkat Jery seraya kembali ke mejanya. Tina mengekor Jery sampai ke mejanya. Tina lalu mengeluarkan sebuah coklat dari saku blazernya.
“Ini untuk Pak Jery supaya makin semangat.”
“Terima kasih Bu Tina tapi maaf, saya tidak suka makanan yang manis-manis apalagi coklat.” Penolakan Jery membuat Tina kesal. Tina dengan wajah cemberut meninggalkan meja Jery.
Drrrttt drrrtt drrrtt ponsel Jery bergetar, ada nama Yura dilayar ponselnya. Jery mendengus lalu menerimanya.
“Halo…”
“Kamu darimana saja? Kenapa menolak panggilanku? Ingat isi kontrak itu ya.” Kesal Yura.
__ADS_1
“Aku sedang ada kuis, Yura. Kamu tahu sendiri dan aku tadi telat karena kamu.”
“Aku ada diluar. Sekarang ikut aku.”
“Hah? Kamu diluar? Diluar mana?”
“Di halaman kampus. Ikut aku karena Papa ingin bertemu denganmu nanti malam jadi kita harus praktek dulu.”
“P-praktek? Praktek apa?” Jery benar-benar tidak mengerti.
“Sudah, jangan banyak bicara. Aku tunggu diluar atau kembalikan semua uangku.” Yura mulai mengancam Jery.
“Iya baiklah.” Jery hanya bisa menjawab pasrah. Panggilan berakhir. Jery segera merapikan mejanya dan bergegas keluar. Terlihat sedan mewah berwarna putih sudah bertengger disana. Jery mengetuk pintu mobil, Yura membukanya dari dalam. Jery melihat wajah Yura yang tampak cemberut. Setelah Jery masuk, Yura pun melajukan mobilnya.
“Kita mau kemana?” tanya Jery.
“Kita mau ke butik dan salon.”
“Butik dan salon untuk apa?” tanya Jery dengan ekspresi datarnya.
“Nanti malam Papa ingin bertemu denganmu. Sudah pasti penampilanmu harus rapi. Lihat saja rambutmu sudah berantakan dan pakaianmu juga harus bagus.”
“Untuk apa juga? Ini adalah aku. Aku sudah sangat rapi jika dibandingkan dengan rumah mewah itu.”
Mendengar ucapan Jery, Yura menaikkan alisnya. Teringat kembali dengan rumahnya yang mendadak rapi.
“Ada yang ingin aku tanyakan. Setelah mengantarku pulang, kamu kemana?”
“Aku pulang.”
“Saat aku bangun tidur, rumahku sudah rapi. Apa tidak melihat orang disana?”
“Tidak ada selain aku. Aku tidak bisa melihat sesuatu yang berantakan. Karena aku sangat menyukai kerapian.”
“Apa kamu yang membersihkannya?”
“Menurutmu?”
“Ya… aku memang sibuk. Jadi tidak sempat bersih-bersih. Terima kasih kalau begitu.” Ucap Yura yang gengsi mengakui kemalasannya.
“Sama-sama. Hanya tidak menyangka, bagaiman seroang Nona besar sepertimu memiliki kondisi rumah yang mengenaskan.”
Yura mengeratkan giginya. Merasa kesal dan tersinggung dengan ucapan Jery. “Tidak usah cerewet. Itu rumahku, mau bersih kek, mau kotor kek, itu urusanku. Aku kan wanita karir yang sangat sibuk.”
“Memang tidak ada pembantu?”
__ADS_1
“Aku lebih suka sendiri. Jangan banyak bertanya lagi.” Ketusnya. Jery hanya mengangguk mendengar ucapan Yura. Lagi pula Jery bukanlah orang yang suka mendebatkan sesuatu yang tidak penting.
Bersambung…