Kutukan Cinta Dosen Tampan

Kutukan Cinta Dosen Tampan
BAB 13


__ADS_3

Hari itu Jerry hanya bisa pasrah dengan apa yang diperintahkan oleh Yura. Mulai dari membeli pakaian, sepatu dan yang terakhir pergi ke salon. Meskipun sesekali Jerry mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya menahan rasa kesal dengan sikap Yura yang suka seenaknya dan memaksanya. Namun, Yura selalu menggunakan ancamannya untuk membuat Jerry menurut.


“WOW! You are so handsome, Jery.” Yura dibuat terpukau oleh penampilan Jerry yang lebih fresh, stylish dan lebih tampan tentunya.


“Sudah puas?” ucap Jerry dengan ekspresi datarnya.


“Tentu saja. Lihatlah wajahmu dicermin.” Ucap Yura seraya mengarahkan wajah Jerry kearah cermin. Namun tetap saja, Jerry menatap cermin itu dengan datar.


“Senyum dong. Kita mau bertemu Papa.” Paksa Yura sambil menarik kedua ujung bibir Jerry. Jerry menurut saja namu kedua alisnya sudah mengerut menahan kesal.


“Nah, gitu dong.” Yura merasa puas memaksa Jerry menuruti perintahnya.


“Sekarang mau kemana lagi?” tanya Jerry. Karena saat ini mereka masih berada di salon.


“Kita makan sekaligus ngobrol. Supaya kita semakin akrab dan terlihat kompak di hadapan Papa.”


Jerry hanya mengangguk pasrah mendengarkan ucapan Yura.


Kini keduanya sudah berada disebuah restoran untuk makan siang.


“Dengarkan aku, nanti Papa pasti akan bertanya tentan latar belakang keluarga kamu. Kamu harus bilang kalau orang tua kamu memiliki bisnis diluar negeri ya.” Yura meminta Jerry untuk setuju dengan kebohongannya.


“Kenapa harus seperti itu?”


“Tentu saja harus berbohong Jer. Supaya Papa merestui hubungan kita. Pokoknya kamu menurut saja. Tugasmu hanya menuruti perintahku. Dan ini….” Yura menunjukkan foto keluarganya pada Jerry.


“Ini adalah Papa, namanya Bayu. Ini adalah Tante Dania. Dia ini Ibu tiriku dan ini adalah Darren, adik tiriku. Anak dari Papa dan Tante Dania.”


“Kenapa kamu memanggilnya Tante. Bukankah sudah menjadi Ibumu?”


“Hmmmm… tidak perlu aku jelaskan sekarang. Yang jelas, ikuti saja apa yang aku katakan. Yang jelas aku tidak menyukainya. Dan bilang saja pertemuan kita dikampus. Eh, jangan dikampus, nanti bisa ketahuan si Darren. Bilang saja kita bertemu dijalan.”


“Jalan mana?” tanya Jerry dengan polosnya.


“Jalan dekat kampusmu saja. Kamu hampir tertabrak karena ulahku. Dan itulah awal pertemuan kita. Dan kita jadian di restoran ini.”


Jerry tersenyum tipis, bahkan sangat tipis saat mendengar semua yang diucapkan oleh Yura.


“Sutradara yang hebat.” Sarkas Jerry. Yura menaikkan alisnya mendengar apa yang Jerry ucapkan.


“Kembalikan uangku!” Balas Yura sambil mengulurkan tangannya. Ancaman itu membuat Jerry tak berkutik. Ia lalu menghela nafas panjang.


“Baiklah,” jawabnya pasrah.

__ADS_1


“Bicaramu sangat irit, ekspresimu datar tapi sekali bicara sungguh menyebalkan.” Ucap Yura yang meluapkan kekesalannya.


“Apalagi yang harus aku lakukan?” sambungnya yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Yura mendengus kasar. “Ya... pokonya kamu harus mengaku orang berada. Orang tua kamu juga menjadi donatur utama di universitas tempatmu mengajar. Dan aku akan mengirimkan semua list tentang diriku. Apa saja yang aku suka dan apa saja yang tidak aku suka. Kamu juga kirimkan semua hal yang kamu suka dan tidak kamu suka, mulai dari warna kesukaan, makanan bahkan sampai phobia. Itu berguna supaya hubungan kita kedepannya semakin terlihat natural.” Jelas Yura panjang lebar. Jerry hanya menanggapinya dengan anggukan. Yura lalu mengirim list semua hal tentang dirinya kepada Jerry lewat pesan whatsapp.


“Aku sudah mengirimkannya. Lihat di ponselmu.”


Jerry lalu membuka pesan dari Yura. Alisnya bertaut membaca begitu banyak list semua hal tentang Yura.


“Sebanyak ini?” tanya Jerry.


“Itu hal yang wajar. Sekarang kamu, kirimkan padaku.” Pinta Yura. Lagi, Jerry hanya meresponnya dengan anggukan. Tak butuh waktu lama bagi Jerry untuk menuliskan semua itu. Yura dibuat melongo melihat hal tentang Jerry.


“Hanya ini?”


“Iya.”


Isi pesan Jerry pada Yura : Aku menyukai kebersihan dan kerapihan. Menyukai kejujuran. Warna kesukaan putih. Warna yang lain juga tetap suka. Semua makanan aku menyukai karena aku selalu diajarkan untuk menghargai makanan. Tidak ada phobia. Suka membaca dan belajar.


“Jerry, sepertinya hidupmu memang sangat membosankan.”


“Itulah aku.” Ucapnya singkat.


“Huh, sungguh pria aneh dan menyebalkan. Untung dia pintar dan tampan, kalau tidak, siapa yang bisa bertahan dengan pria seperti dia.” Gerutu Yura dalam hati.


“Iya,” singkat Jerry.



“Cieeee… rapi amat, Kak. Rambutnya baru, bajunya baru, sepatunya juga baru. Idih-idih… begini nih orang yang sedang kasmaran. Mana wangi banget lagi.” Rhea mengitari dan mengendus kakaknya.


“Aapaan sih. Anak kecil tidak usah kepo. Tolong pamitin sama Ayah dan Ibu ya.”


“Iya jangan khawatir.”


“Sebaiknya kamu ke kedai bantuin Ayah dan Ibu.”


“Setelah Kak Jerry berangkat, aku akan menyusul Ayah dan Ibu.”


“Baiklah, aku pergi ya.”


“Oke Kak, hati-hati.”

__ADS_1


Malam itu Jerry sengaja tidak memberitahu kedua orang tuanya, kalau sebenarnya orang tua Yura mengajaknya makan malam. Karena Jerry menganggap itu sebuah hal yang tidak penting. Apalagi Jerry melakukan semua itu karena sebuah kontrak pernikahan yang konyol. Dan penyebab semua itu adalah adiknya sendiri, Rhea.


Kini Jerry dan Yura sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua Rhea.


“Ingat ya, nanti saat masuk kita harus bergandengan tangan. Kamu dulu yang menggandeng tanganku. Mengerti?”


“Iya.” Singkat Jerry yang tetap fokus menyetir.


“Ngomong itu gratis lho tapi kamu irit banget. Menyebalkan!” Lagi-lagi omelan Yura tidak mendapat tanggapan dari Jerry.


Akhirnya mereka sampai juga dirumah kedua orang tua Yura. Pandangan Jerry mengedar, sesaat setelah tiba pelataran rumah orang tua Yura yang tentu saja lebih besar dan lebih megah jika disbanding rumah Yura sendiri. Sudah jelas, Yura memang berasal dari keluarga yang secara kekayaan sudah tidak diragukan lagi.


“Aneh sekali, dia bisa mendapatkan pria yang lebih segalanya dari aku. Kenapa dia memilihku? Melihat betapa megahnya rumah ini, sudah pasti aku tidak ada apa-apanya.” Ucap Jerry dalam hati.


“Heh, ngapain bengong!” Yura mengagetkan dengan menepuk lengan Jerry. Jerry pun tersadar.


“Tidak apa-apa.”


“Ayo masuk!” Ucap Yura sambil mengulurkan tangannya.


“Kamu mau minta apa? Aku tidak mempersiapkan apapun.” Ucap Jerry yang tidak paham dengan maksud Yura. Yura mengulurkan tangan supaya Jerry menggandeng tangannya.


“Ya ampun Jerry, kamu ini beneran polos atau pura-pura polos? Mustahil sekali seorang pria sepertimu tidak peka terhadap seperti ini.” Lagi, Yura dibuat mengomel oleh Jerry.


“Tapi sungguh aku tidak mengerti.”


“Gandeng tanganku.” Ucap Yura penuh dengan penekanan.


“O-oh…” Jerry akhirnya mengerti maksud Yura. Dan dengan ragu-ragu akhirnya Jerry menggandeng tangan Yura. Yura langsung membalas erat genggaman tangan Jerry. Untuk pertama kalinya Jerry menggandeng tangan seorang wanita selain Ibu dan adiknya. Dan untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang menggenggam tangannya. Keduanya lalu berjakan beriringan memasuki rumah orang tua Yura. Para pelayan menyapa Yura dan Jery dengan ramah. Jerry hanya mengulas senyum tipisnya.


“Papa!” seru Yura. Mendengar suara Yura, Tuan Bayu, Nyonya Dania dan Darren bergegas keruang depan.


“Selamat malam sayang,” sapa Tuan Bayu seraya memeluk putrinya.


“Yura, kami sudah menunggumu.” Sahut Nyonya Dania dengan sikap manisnya. Nyonya Dania lalu memberikan pelukan pada Yura. Yura dengan wajah setengah malas terpaksa membalas pelukan itu. Setelah itu Darren bergantian memberikan pelukan untuk Kakaknya.


“Aku merindukanmu, Kak.”


“Aku juga merindukan kenakalanmu.” Ucap Yura sambil menepuk keras punggung Darren. Membuat Darren meringis menahan sakit. Setelah saling menyapa dan berpelukan, Yura memperkenalkan Jerry pada keluarganya.


“Pah, kenalkan ini Jerry Putra Kusuma. Calon suami Yura.” Ucap Yura. Jerry lalu mengulurkan tangannya pada Tuan Bayu.


“Oh… jadi Pak Jerry pacar Kakak. Kenapa Kakak tidak bilang? Wah, aku pikir Kakak selama ini jomblo.” Seloroh polos Darren. Tentu saja ucapan Darren mengundang perhatian Tuan Bayu dan Nyonya Dania.

__ADS_1


“Aduh, ini anak mulutnya tidak bisa apa ya diam. Ingin ku sumpal dengan sepatu. Bisa-bisa Papa curiga. Aneh, kalau sampai Darren tidak tahu. Sedangkan tadi aku sudah terlanjur bilang pada Papa kalau Jerry adalah dosen di kampus Darren.” Gumam Yura dalam.


Bersambung…


__ADS_2