Kutukan Cinta Dosen Tampan

Kutukan Cinta Dosen Tampan
BAB 9


__ADS_3

Keesokan harinya, akhirnya diperbolehkan oleh pulang oleh dokter. Kini Rhea dan keluarganya baru saja sampai dirumah.


"Akhirnya kita sampai di rumah juga." Ucap Nyonya Ratih begitu mereka sampai rumah.


"Rhea, setelah ini jangan mengacau lagi," ucap Jery dengan kesal.


"Iya Kak, maafkan aku."


"Sebaiknya fokus kuliah dan buat Ayah-Ibu bangga." Ketus Jery.


"Lalu, apa rentenir itu masih datang kemari Kak?" tanya Rhea.


"Soal itu jangan pikirkan lagi. Biar itu menjadi tanggung jawabku. Kamu fokus kuliah, Ayah dan Ibu fokus pada kedai mie saja ya."


"Tapi Jer, kamu yakin mereka tidak akan menganggu kita lagi?" tanya Tuan Panji.


"Tidak akan pernah, Ayah. Aku mendapat pinjaman dari pihak kampus dan temanku. Aku tetap akan mencicilnya meskipun harus seumur hidupku. Dan sertifikat rumah sudah aku simpan di kamar Ibu." Jelas Jery. Ingin sekali Jery marah dengan keadaan ini tapi ia harus tetap berusaha tenang.


"Jery, kamu serius? Rumah kita tidak jadi disita nak?" Nyonya Rita berusaha memastikan.


"Iya Ibu. Sebaiknya kita menata ulang hidup kita. Dan untuk Rhea, kalau sampai hal seperti ini terulang, aku tidak akan pernah menyelamatkanmu. Aku akan membiarkan rentenir itu membawamu dan menikahimu." Tegas Jery.


Rhea kemudian memeluk Jery.


"Iya Kak, aku janji. Terima kasih ya, Kak. Aku akan membuktikan pada Kakak, Ayah dan Ibu kalau aku bisa sukses dan membuat kalian bangga."


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Aku mau ke kampus."


"Masih mau ke kampus Jer?" tanya Tuan Panji.


"Iya Ayah. Jery punya tanggung jawab besar disana. Jery berangkat dulu."


"Baiklah hati-hati." Pesan Nyonya Ratih. Jery kemudian pergi setelah berpamitan.


Begitu sampai di kampus, Yura sudah berdiri diambang pintu menunggu Jery.


"Astaga, tidak ada pekerjaan apa wanita satu ini? Pagi-pagi begini sudah disini saja." Gumam Jery dalam hati. Setelah memarkir motornya, Jery mendekat kearah Yura.


"Ada apa sepagi ini?" tanya Jery dengan nada ketus.


"Ketus amat sih. Bagaimana adikmu?"


"Dia sudah pulang dan terima kasih untuk semuanya." Meskipun kesal, akhirnya Jery mengucapkan terima kasih juga. Karena walau bagaimanapun Yura memang sudah banyak membantunya.


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya nanti malam aku tunggu di depan gang rumahmu ya?"


"Mau apa?" Jery menaikkan alisnya.


"Kita makan malam dan menonton."


"Tapi maaf, aku belum gajian Yura. Jadi aku tidak bisa mentrakirmu."


"Aku yang mentraktirmu."

__ADS_1


"Tidak mau. Sebenarnya pantang bagiku makan atau kencan di traktir seorang wanita."


"Ayolah, ini demi pendekatan kita. Jangan pikirkan itu! Anggap saja ini fasilitas yang kamu dapat. Ingat ya kontrak itu."


Jery menghela. "Iya terserah." Akhirnya Jery hanya bisa mengalah jika Yura sudah mulai mengingatkan tentang isi kontrak itu.


"Oke. Aku jemput jam 7 malam. Bye." Yura berlalu dengan langkah cerianya. Jery hanya bisa menggeleng melihat tingkah wanita yang mendadak merubah hidupnya. Lebih tepatnya membuat kehidupannya tergadaikan.


Jam makan siang, seperti biasa Jery dan Rendi duduk bersama.


"Gimana Rhea, Jer?"


"Udah pulang hari ini."


"Syukurlah, gue seneng dengernya. Terus masalah rentenir itu gimana?"


"Gue udah dapat pinjaman ya meskipun hidup gue harus gue gadaikan untuk membayar hutang itu. Setidaknya hutang itu tidak berbunga."


"Pinjam siapa lo?" selidik Rendi.


"Itu bos gue di cafe. Dia kan cafenya banyak dan usahanya ternyata nggak cuma itu aja. Gue rela nggak di gaji juga, Ren." Jery terpaksa berbohong karena perjanjian itu hanya untuk dirinya dan Yura saja. Jangan sampai ada pihak ketiga yang mengetahui itu.


"Ya syukurlah kalau gitu, akhirnya dapat jalan keluar juga. Gue pikir elo jadi simpanan tante-tante." Celetuk Rendi dengan tawanya.


"Ngaco aja lo. Kalau ada yang dengar bisa jadi gosip."


"Oh ya cewek kemarin siapa? Kenalin dong? Gue belum lihat wajahnya."


"Nanti elo juga tahu, Ren."


"Ah udahlah, malas bahas gituan. Yang penting fokus makan."


"Tapi elo jadi ke Amerika?"


"Jadi Ren. Doain ya biar cepet kelar."


"Aminn deh. Gue ikut lega sama beban hidup elo ini."


"Gue udah wanti-wanti Rhea supaya nggak nglakuin hal-hal aneh. Kalau sampai dia kayak gitu lagi terserah deh kalau rentenir itu mau ambil dia daripada bikin pusing."


"Ya ampun tega amat. Mending gue kawinin." Celetuk Rendi.


"Aduh, nggak deh. Elo itu buaya darat." Celetuk Jery yang disambut tawa Rendi.


###########


"Mau kemana Kak? Rapi dan wangi banget?" tanya Rhea saat Jery melintas di ruang tengah.


"Menurutmu?"


"Pasti mau ngedate ya?" goda Rhea.


"Sudah tahu, tanya." Jawab Jery dengan entengnya.

__ADS_1


"Mentang-mentang punya pacar cantik jadi sombong." Rhea semakin bersemangat menggoda Jery.


"Udah ah, aku mau pergi dulu. Bilangin sama Ayah dan Ibu ya. Terus tutup kedainya jangan malam-malam."


"Iya-iya. Hati-hati Kak dan salam buat Kak Yura."


"Ya." Jawabnya singkat seraya berlalu.


Dan ternyata di depan gang, mobil Yura sudah bertengger disana. Yura menurunkan kaca mobilnya dan melambai kearah Jery. Jery hanya melihat tanpa berekspresi. Tanpa banyak bicara Jery langsung masuk ke dalam mobil Yura.


"Hmmm aku suka aroma parfummu." Ucap Yura begitu Jery masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih," singkat Jery. Yura kesal karena eskpresi Jery datar sekali.


"Kamu sariawan?" tanya Yura.


"Tidak." Singkat Jery.


"Kalau tidak, kenapa pelit banget sih buat ngomong."


"Ya memang aku bicara seperlunya saja."


Yura mendengus. "Ya sudah, jalan." Perintah Yura. Jery pun mulai melajukan mobil.


"Seharusnya kamu jangan kaku-kaku. Kita harus natural dan romantis. Bagaimana Papa akan percaya kalau kita pacaran. Pada mahasiswa mu saja kamu bisa ramah tapi denganku kamu sangat sinis." Ucapan Yura kali ini masuk kedalam hati Jery. Jery sendiri yang datang pada Yura dan menerima semua isi kontrak itu. Dan berkat Yura juga kehidupan keluarganya berjalan normal kembali. Bahkan ia juga tetap bisa pergi ke Amerika meraih mimpinya karena Yura.


"Tidak adil memang jika aku ketus. Tapi bagaimana lagi, ini semua di luar keinginan hatiku." Gumam Jery dalam hati.


"Iya maaf. Aku hanya lelah saja. Mau nonton apa?"


"Film romantis aja. Supaya kita bisa lebih romantis." Ucap Yura.


"Iya terserah saja."


Sesampainya di bioskop, Yura lah yang begitu semangat dan antusias memesan tiket dan juga pop corn, tak lupa dengan soft drinknya. Selama berada di dalam bioskop keduanya terdiam dan fokus dengan film yang sedang mereka tonton. Sebuah film bagaimana kedua insan yang awalnya saing membenci dan akhirnya saling mencintai hingga akhirnya keduanya menikah. Tentu saja adegan ranjang dalam film itu membuat keduanya salah tingkah. Adegan berlanjut ketika si wanita akhirnya hamil dan reaksi bahagia sang suami serta perhatian lebih yang diberikan oleh sang suami pada istrinya. Hal itu membuat angan Yura melambung, membayangkan jika wanita dalam film itu adalah dirinya. Sebaliknya dengan Jery, merasa tertampar dengan film tersebut. Bahwa pernikahan bukanlah sebuah permainan apalagi tentang komitmen memiliki seorang anak. Melihat keluarga yang bahagia dalam film itu membuat Jery ingin memiliki sebuah keluarga kecil yang ia idam-idamkan. Setelah selesai menonton film, keduanya saling terdiam dan larut dalam angan masing-masing. Tiba-tiba suara perut Yura memecah keheningan. Kruuk.. kruuk... kruuk... Jery menoleh kearah Yura. Yura meringis sambil memegangi perutnya.


"Hehehe aku lapar. Bisa kita makan sebentar?"


"Mau makan pecel lele?"


"Boleh tidak masalah." Jawab Yura tanpa beban.


"Serius mau?" Jawaban Yura membuat Jery tidak percaya.


"Kenapa tidak? Pecel lele makanan favorit almarhum Mama." Ucap Yura.


"Jadi Ibumu...."


"Iya sudah meninggal saat aku masih berusia 13 tahun. Ah, sudahlah! Aku malam ini tidak mau sedih." Jawabnya seraya menyunggingkan senyum lebar.


"Maaf kalau aku mengingatkan mu pada alamarhum Ibumu. Aku turut berduka."


"Its okay." Jawab Yura dengan santai. Jery kini tahu ada luka dibalik sikap angkuh dan ceria dari Yura.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2