Kutukan Cinta Dosen Tampan

Kutukan Cinta Dosen Tampan
BAB 10


__ADS_3

Kini keduanya sudah duduk bersama di sebuah lesehan tempat makan pecel lele. Namun saat akan duduk, Yura merasa kesulitan. Mini dress yang ia kenakan, membuatnya sulit untuk duduk. Bahkan penampilannya yang selalu anggun itu menjadi pusat perhatian orang sekelilingnya. Melihat Yura kesulitan duduk, Jery lalu mengulurkan tangannya pada Yura.


''Duduklah.'' Ucap Jery. Yura menyambut uluran tangan Jery. Kedua tangan itu untuk pertama kalinya bersentuhan. Yura dengan kuta berpegangan pada Jery dan berusaha duduk bersimpuh. Setelah itu Jery melepaskan jaketnya untuk menutupi pahaYura dengan jaketnya.


''Sepertinya kita salah tempat. Seharusnya di restoran. Maaf, aku membuatmu kesulitan.'' Ucap Jery yang merasa tidak enak pada Yura.


''Ti-tidak apa-apa. Sepertinya aku yang salah kostum saja.'' Jawabnya dengan enteng. Jery tersenyum tipis menanggapi ucapan Yura. Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya pesanan pun datang. Dua porsi pecel lele dan dua gelas es jeruk sudah tersaji di hadapan keduanya.


''Makanlah,'' ucap Jery yang sudah melahap duluan makanan di hadapannya. Yura hanya mengangguk karena ia tidak pernah makan menggunakan tangan langsung. Ya, Jery tentu saja tahu kalau Yura tidak terbiasa dengan semua ini.


''Pak, minta sendok dan garpu ya?'' kata Jery pada si bapak penjual pecel lele itu.


''Iya Mas.'' Jawab si bapak penjual. Tak lama kemudian si bapak penjual memberikan sendok dan garpu untuk Jery.


''Ini Mas.''


''Terima kasih, Pak.''


''Ya, sama-sama.'' Bapak penjual pun berlalu fokus kembali meladeni pembeli yang datang.


''Ini untukmu. Sekarang kamu bisa makan tanpa takut tanganmu itu kotor. Pasti kamu tidak terbiasa dengan semua ini kan?''


''Ya, begitulah.'' Singkat Yura. Yura akhirnya mulai makan.


''Sesekali kamu harus mencoba makan pakai tangan langsung. Karena makanan seperti ini lebih nikmat jika langsung pakai tangan.''


''Kapan-kapan aku coba. Tapi aku baru saja dari salon. Jadi sayang dengan cat kuku ku ini,'' ucapnya seraya tersenyum lebar. Sementara Jery hanya menggelengkan kepalanya.


Selesai makan, mereka pun segera pergi.


''Sekarang kita pulang.'' Ucap Jery.


''Jangan! Sekarang kamu ikut aku.''


''Kemana? Ini sudah malam.''


''Sudah ikuti saja. Belum jam 12 juga. Bagiku ini masih sore. Kamu cukup menyetir saja.'' Kata Yura. Jery hanya mengangguk saja.

__ADS_1


Dan sampailah mereka pada sebuah bar.


''Kita kesini? Untuk apa?'' Jery mengernyitkan dahinya. Karena bagi Jery ini adalah pengalam pertamanya pergi kesebuah tempat hiburan malam.


''Minum lah. Melepaskan stres. Ayo turun!"


''Tidak mau! Kita pulang saja.'' Jery berusaha tetap kukuh pada pendiriannya.


''Jery, kamu juga harus tahu kebiasaan ku. Aku kalau stres terutama soal pekerjaan, aku selalu datang kemari. Sudahlah sekali-sekali. Aku tadi mau makan lesehan bersamamu dan sekarang harus gantian.'' Paksa Yura.


''Kamu juga tidak harus minum alkohol. Di dalam juga ada minuman yang lain.'' Sambung Yura. Setelah berpikir sesaat, akhirnya Jery hanya bisa mengalah karena mengingat perjanjian kontrak itu. Mereka akhirnya turun dari mobil dan segera masuk ke dalam. Yura memesan wisky, sementara Jery memesan orange juice saja.


''Biasanya apa yang kamu lakukan saat sedang stress?'' Yura mulai membuka obrolan.


''Aku hanya membaca buku sambil mendengarkan musik saja.''


''Sepertinya hidupmu sungguh membosankan ya. Apa tidak pernah pergi ke tempat seperti ini?''


''Tidak pernah. Ini pertama kalinya.''


''Aku lulus SMA usia 16 tahun. Aku ikut kelas akselerasi. Dan aku lulus S2 usia 18 tahun. Setelah itu aku menjadi asisten dosen selama satu tahun. Lalu aku menjadi dosen tetap dan termuda di usia 20 tahun.'' Jawab Jery tanpa banyak bertele-tele.


''Wah, kamu hebat juga ya. Sepertinya pilihanku sudah tepat untuk menjadikanmu suamiku. Pasti nanti aku akan punya anak yang jenius sepertimu.'' Ucap Yura seraya menenggak segelas wiski dalam genggamannya.


''Kenapa tidak pria lain? Kenapa aku? Aku bukan pria kaya.''


''Sudah aku bilang kalau aku tidak butuh semua itu. Aku hanya butuh itu.'' Ucap Yura sembari melirik kearea sensitif Jery. Yura lalu tersenyum nakal.


''Apa maksudmu?'' Jery menjadi gugup saat Yura mengarahkan pandangannya pada bagian bawah tubuhnya.


''Itu yang ada di balik celanamu,'' kekeh Yura. UHUK! UHUK! Jery sampai tersedak saat minum karena mendengar ucapan vulgar Yura.


''Apa kamu tidak pernah melakukannya?'' selidik Yura.


''Melakukan apa?'' Jery menaikkan sebelah alisnya. Tidak mengerti apa maksud Yura.


''Making love.''

__ADS_1


''Tidak pernah. Aku tidak pernah melakukan itu.''


''Lalu... menggunakan tangan?'' pertanyaan Yura semakin aneh dan semakin menggelitik.


''Ap-apanya yang menggunakan tangan?'' Jery semakin bingung dengan ucapan Yura. Membuat Yura terkekeh melihat ekspresi Jery.


''Astaga, kamu ini beneran polos atau pura-pura polos sih? Masa iya pria dewasa seperti mu tidak pernah melakukan seperti itu? Nanti saat inseminasi kamu harus mengocok milikmu supaya keluar itunya.'' Kata Yura blak-blakan tanpa rasa malu.


Jery menghela. ''Yura, pelankan suaramu. Nanti ada yang mendengar.''


''Siapa yang mau mendengar? Tidak ada yang peduli juga.'' Ucap Yura yang kembali menenggak wiski kedua dari gelasnya.


''Atau kita melakukannya langsung bagaimana? Pengambilan sel telur katanya sakit.'' Sambung Yura. Jery semakin dibuat heran dengan wanita yang duduk di sampingnya ini. Berani dan tidak tahu malu.


''Sepertinya dia mulai mabuk.'' Batin Jery. Yura kemudian menangkup wajah Jery. Mendekatkan wajah Jery pada wajahnya.


''Kamu memang sangat tampan. Bagaimana kalau kita lakukan secara langsung? Kamu saja belum pernah bercinta bagaimana tahu cara mengeluarkannya hanya dengan tangan? Dan lagi siapa fantasi liarmu?'' Yura mulai meracau karena ia memang mulai mabuk.


''Aku juga belum pernah melakukan hal seperti itu. Bagaimana kalau kita sama-sama mencobanya malam ini? Menyia-nyiakan pria tampan sepertimu rasanya mubadzir. Dan lagi pula aku sudah membayarmu. Kalaupun aku hamil, juga tidak masalah bukan? Setelah itu urusan kita selesai. Kita sama-sama beruntung bukan? Kamu pria pertama yang mendapatkan kesucianku sekaligus kamu mendapatkan uang juga.'' Yura lalu melepaskan tangkupannya dan kembali menuang wiski ke dalam gelasnya. Tiga gelas sudah, Yura menghabiskan minuman memabukkan itu. Tentu saja Jery tidak menyangka dengan pengakuan Yura bahwa dirinya masih perawan. Apalagi wanita secantik Yura dan anak orang kaya, tentu saja pergaulannya sangat bebas. Yura kemudian mengalungkan kedua tangannya pada leher Jery.


''Apa kamu serius tidak pernah pacaran? Jatuh cinta? Kalau ciuman pernah tidak?''


Jery hanya diam. Sama sekali tidak menanggapi racauan Yura.


''Kenapa diam? Jawab aku atau aku menciummu?'' ucap Yura sambil memonyongkan bibirnya kearah Jery.


''Kamu sudah mabuk Yura. Sebaiknya aku antar kamu pulang.'' Ucap Jery seraya melepaskan tangan Yura yang masih melingkar dilehernya.


''Tidak mau! Jawab aku dulu. Kita harus saling mengenal dan bersikap senatural mungkin. Ayolah kamu jangan kaku-kaku. Anggap saja aku kekasihmu. Kamu pernah mimpi basah kan?''


Jery menghelas nafas panjang, heran dengan semua ocehan Yura.


''Ya, aku pernah menyukai seseorang. Hanya sebatas suka saja. Tapi aku cukup sadar diri siapa diriku. Perbedaan kita terlalu jauh.'' Jery akhirnya terpaksa menceritakan rahasia yang selama ini ia pendam sendiri.


''Oh jadi dia cinta pertama mu ya? Pasti dia anak orang kaya dan kamu miskin. Makanya kamu tidak berani mendekatinya kan? Bagus juga lah kamu sadar diri. Daripada di tolak malah bikin malu dan sakit hati. Iya kan?'' Ucapan Yura cukup nylekit untuk Jery. Namun memang apa yang di katakan Yura ada benarnya juga. Cinta pertama Jery yang tidak pernah terucap.


"Berarti kamu beruntung sekarang mendapatkan aku, meskipun hanya hubungan kontrak saja." Celoteh Yura lagi diiringi tawanya. Jery hanya bia menggeleng melihat Yura yang semakin hilang kesadaran.

__ADS_1


__ADS_2